Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Tingkatkan Budaya Literasi, KPPN Kudus Gandeng Jawa Pos Radar Kudus

26 Juni 2019, 07: 33: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

BUDAYAKAN LITERASI: Pemred Radar Kudus dan redpel bersama pegawai KPPN Kudus dengan semangat menggerakkan budaya literasi lewat pelatihan jurnalistik.

BUDAYAKAN LITERASI: Pemred Radar Kudus dan redpel bersama pegawai KPPN Kudus dengan semangat menggerakkan budaya literasi lewat pelatihan jurnalistik. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA – Jawa Pos Radar Kudus kembali menggelar sharing jurnalistik. Kemarin, bersama para pegawai Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Kudus. Para pegawai mendapat ilmu penulisan artikel dari Pemred Radar Kudus Zainal Abidin. Mereka juga memperoleh ilmu teknik fotografi jurnalistik dari Redaktur Pelaksana (Redpel) M. Ulin Nuha.

Kepala KPPN Kudus Wawan Hermawan mengungkapkan, kegiatan ini dilaksanakan untuk  meningkatkan budaya literasi di lingkungan Kantor KPPN. Menurutnya, apapun yang dilakukan, apabila tidak dapat disampaikan di masyarakat maka tidak akan diketahui.

”Dengan ini, harapannya pengetahuan masyarakat tentang APBN akan lebih meningkat. Serta memiliki kepedulian. Karena tugas kami menyalurkan dana APBN di wilayah Kudus, Jepara, dan Demak,” jelasnya.

Ia juga mengharapkan, setelah mengikuti kegiatan ini, para pegawai bisa lebih produktif dalam menulis. KPPN sendiri sudah menyediakan fasilitas media sosial. Seperti website dan facebook. Selain sosmed, para pegawai juga diharapkan bisa menulis di media massa.

Sekitar 15 peserta itu memperhatikan apa yang dipaparkan Zainal Abidin. Kadang muncul senyum bahkan tawa ketika pria yang akrab disapa Zainal ini melempar canda. Serius tapi santai. Berbagai materi seperti cara membuat lead, paparan tentang opini dan berita, hingga kiat-kiat ketika hendak mulai menulis.  

Pemred Radar Kudus Zainal Abidin menekankan pentingnya budaya literasi. Karena, fenomena hoaks saat ini merajalela. Itu, salah satu penyebabnya karena rendahnya budaya literasi. ”Banyak orang yang malas membaca. Kalaupun membaca berita hanya judulnya.  Salah satu penyebar hoaks ya ini. Hanya dibaca judulnya. Langsung share,” tegasnya.

Sedangkan Redpel Radar Kudus M. Ulin Nuha membeberkan soal teknik-teknik fotografi jurnalistik. Seperti pentingnya timing atau momen dalam fotografi jurnalistik. ”Timing yang  menjadikan fotografi jurnalistik mahal. Karena 70 persen memang dari timing. Yang lainnya tinggal estetika dan pencahayaan,” ujar pria yang pernah menyabet juara I foto jurnalistik Jawa Pos ini. (vah)

(ks/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia