Selasa, 19 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Daya Tangkal Kudus Terhadap Ancaman Pornografi

25 Juni 2019, 12: 05: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

Bambang Purwanto

Bambang Purwanto (dok pribadi)

Share this      

Pornografi dapat merusak saraf otak, mendorong perubahan neorotransmiter; menurunkan kecerdasan; membentuk sikap, nilai dan perilaku negatif (https://ahmadnursaid.blogspot.com). Dampak lain, kejahatan pemerkosaan, pencabulan, pembunuhan, pelecehan seksual, pengrusakan keturunan, perzinaan, kekerasan, dan penelantaran anak. (Mufti Khakim, 2015)

Era teknologi informasi

Pornografi itu telah ada sejak jaman kerajaan di kalangan tertentu, terindikasi dari keberadaan lukisan-lukisan bernuansa pornografi. Kemudian terjadi lompatan budaya pada era teknologi informasi, bersamaan hadirnya HP berfasilitas foto dan video. Hal ini terdukung cara pandang “bergaya modern, para orang tua bangga memfasilitasi anak-anaknya dengan HP”. Disisi lain terdapat keluhan, jam bersekolah lebih lama, menimbulkan rasa jenuh, porsi pelajaran non agama dan penanaman nilai-nilai keagamaan kurang proporsional. Kondisi demikian terakumulasi hingga selera menonton pornografi menjadi sangat longgar, yang akhirnya berkembang seperti jamur di musim hujan.

Dalam artikel dimuat di web site https://news.uad.ac.id. Indonesia hadapi darurat pornografi. Apa artinya, perlu segera mencari jalan keluar menangani masalah ini. Berbagai upaya dilakukan termasuk terbitnya UU RI Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Sanksi hukum telah dijatuhkan kepada yang terbukti melanggar Undang-undang tersebut. Ternyata belum cukup. Artinya Penanganan masalah ini tidaklah sederhana.

Maraknya pornografi terdukung teknologi, gaya hidup orang tua, kebijakan sistem pendidikan formal, dan aktualisasi pendidikan informal. Subyeknya, pecandu pornografi itu sendiri, guru di sekolah dan para orang tua. Lingkungan sosial-budaya juga merupakan salah satu foktor yang tak bisa dikesampingkan, karena penanganan pornografi di Bali tentu berbeda, dibanding di Aceh ataupun di Irian Jaya. Jadi mengatasi masalah demikian juga perlu kajian tradisi budaya setempat.

Menengok tradisi Santri

Menyimak ketokohan Sunan Kudus sebagaimana diungkap Nur Said dalam bukunnya Jejak Perjuangan Sunan Kudus, dalam membangun karakter umat dilakukan secara konstruktif dan sistematis melalui pendekatan struktural dan kultural. Menciptakan ruang budaya, akulturasi, pengobatan penyakit, keteladanan dan membangun jaringan.

Sayyid Ja’far Sodiq yang religius, popular dengan julukan Sunan Kudus, telah mengukir sejarah perjuangan. Dalam perkembangannya Kudus menjadi Kota Santri. Dalam tradisi dhandangan yang dicetuskan Kanjeng Sunan Kudus terdapat fenomena: “masyarakat mengidolakan pemuda yang ideal” yang kemudian dikenal dengan akronim Gus Ji Gang. Gus bermakna bagus dan cakep kepribadiannya. Aspek moral sangat ditonjolkan. Ji artinya pintar dan rajin mengaji. Rajin mengaji menjadi prioritas dan karakter, sebagai dasar calon pemimpin rumah tangga yang berorientasi taat pada syari’at Islam. (Nur Said, 2010: 126-128). Kyai selain sebagai sumber Keilmuan Islam juga sebagai tempat berguru dalam segala persoalan. Kemudian: “Gang” berarti lincah berdagang. Spirit berdagang didasari nilai-nilai Islam yang jujur sebagaimana diteladankan Sunan Kudus dan Nabi SAW juga seorang wali saudagar.

Terkait fenomena tradisi luhur itu, Kudus konsisten mempertahankan nilai ketokohan religiusitas, terbukti dirumuskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Kudus Tahun 2005-2025, untuk “mewujudkan masyarakat bermoral, beretika dan berbudaya” yang kemudian dipertajam dengan visi Bupati Kudus: “Kudus Bangkit Menuju Kabupaten Modern, Religius, Cerdas dan Sejahtera”.

Tangkal pornografi dengan tradisi Santri

Nilai-nilai yang diajarkan Sunan Kudus, dan komitmen pemerintah daerah diharapkan menjadi solusi efektif atas kekhawatiran risiko dan dampak pornografi, karena ketiganya memiliki simpul yang saling berpengaruh satu terhadap lainnya.

Tiga simpul dimaksud adalah 1). Permasalahan risiko dan dampak pornografi berkaitan dengan kondisi minimnya penghayatan nilai-nilai keagamaan; kemampuan peran orang tua sebagai guru edukasi informal; adanya kesenjangan metode dan intensitas pembelajaran antara sekolah umum dan pesantren. 2). Tradisi luhur era Sunan Kudus, menjunjung tinggi nilai keagamaan dan memelihara hubungan yang harmoni antara guru, orang tua dan Santri. 3). Komitmen Pemerintah Daerah: mewujudkan masyarakat bermoral, beretika dan berbudaya. Kudus meskipun mendeklarasikan Bangkit Menuju Kabupaten Modern, Cerdas dan Sejahtera tetapi Religiusitas tetap menjadi ciri khas yang tidak terlepaskan.

Mempertahankan nilai tradisi, menjunjung tinggi ilmu keagamaan itu sungguh merupakan sikap dan perilaku yang patut di dukung. Lebih-lebih terhadap keresahan masyarakat atas ancaman bahaya pornografi, mewujudkan masyarakat bermoral, beretika dan berbudaya merupakan modal utama. Selanjutnya tugas dan pengabdian yang harus didedikasikan kepada masyarakat adalah menyusun konsep kerja yang cerdas, layak dan terukur disertai indikator yang jelas. Fasilitasi hubungan kerja yang kompak antar semua pihak.

Ayo kita tangkal risiko dan dampak pornografi dengan mengaktualisasi nilai-nilai keagamaam dan tradisi. Lestari Kudus Kota Santri. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia