alexametrics
Senin, 08 Mar 2021
radarkudus
Home > Jepara
icon featured
Jepara

Diterjang Abrasi, Pantai Kedungmalang Terkikis 50-100 Meter

24 Juni 2019, 11: 13: 37 WIB | editor : Ali Mustofa

ABRASI - Bronjong sepanjang 100 meter belum mampu menahan gerusan abrasi di pesisir Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung.

ABRASI - Bronjong sepanjang 100 meter belum mampu menahan gerusan abrasi di pesisir Desa Kedungmalang, Kecamatan Kedung. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

KEDUNG - Wilayah pesisir Jepara sejak sepuluh tahun terakhir mengalami pengikisan air laut ke daratan. Dari sepanjang 72 kilometer garis pantai Jepara, rata-rata daratan di pesisir terkikis sekitar 50 hingga 100 meter.

Garis pantai paling parah diterjang abrasi sejak sepuluh tahun terakhir di wilayah Jepara selatan. Mulai dari perairan Semat, Tanggultlare, Surodadi, Bulabaru, Panggung, hingga Kedungmalang. Seperti yang terjadi di Desa Kedungmalang, hampir sama yang terjadi di desa sekitar.

Di ujung barat desa, terdapat pemakaman umum Desa Kedungmalang, Kedung, yang tergerus abrasi. Lokasi pemakaman tepat berada di garis pantai Kali Serang desa setempat. Kawasan makam memiliki panjang sekitar seratus meter dengan lebar sekitar enam meter. Di sebelah pemakaman terdapat puluhan hektare lahan petani garam.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Kudus, garis pantai awal yang juga ditambak oleh warga sekitar sepuluh meter telah mengikis daerah pemakaman. Namun belum sampai menghilangkan pemakaman yang sudah ada. Hanya saja lahan kosong sebelumnya telah hilang terkikis abrasi.

Garis pantai lainnya sudah dilindungi dengan bronjong batu penahan ombak. Panjangnya sekitar 100 meter. Namun masih ada sekirar 300 meter arah barat belum ada penahan ombak. Sehingga air laut terus mengikis pada wilayah yang belum terdapat penahan ombak.

Analis Rehabilitasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinisi Jawa Tengah Cabang Jepara, Arif Rahman menjelasakan sepuluh tahun terkahir wilayah Jepara Selatan yang paling parah terkena dampak abrasi. Hasil monitoring garis pantai, abrasi dengan penanaman tanaman pelindung seperti mangrove harus didukung dengan struktur teknis pendukung.

Misalnya, sabuk pantai dari beton yang melindungi terjangan ombak ke wilayah daratan. Setelah adanya sedimentasi, mangrove bisa ditanam. Dengan begitu risiko rusaknya tanaman mangrove bisa diminimalisasi.

“Perlu sabuk pantai. Setidaknya bisa membuat endapan dulu. Lalu ditanami mangrove dan tanaman pencegah abrasi lain,” ujarnya.

Sementara ini, sudah ada di beberapa titik. Namun belum maksimal mencegah abrasi di sepanjang pantai selatan Jepara. Keterbatasan anggaran dari provinsi maupaun pusat masih menjadi kendala utama. Meskipun beberapa kali sudah diajukan permohonan.

(ks/war/zen/top/JPR)

 TOP