Rabu, 13 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Mahfud Aly, Tokoh Pemuda Konservasi Hutan

Gerakkan Warga untuk Tanam Lebih dari 20 Ribu Bibit Pohon

22 Juni 2019, 06: 10: 01 WIB | editor : Ali Mustofa

PEDULI LINGKUNGAN: Tim konservasi alam Desa Tempur, Keling, Jepara, yang berjuang bersama Mahfud Aly.

PEDULI LINGKUNGAN: Tim konservasi alam Desa Tempur, Keling, Jepara, yang berjuang bersama Mahfud Aly. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Share this      

Bencana alam menjadi pelajaran penting. Mahfud Aly, tokoh pemuda Desa Tempur, Keling, Jepara, mengajak warga di desanya untuk sadar lingkungan. Hasilnya, kegiatan konservasi alam rutin dilakukan dengan menanam ribuan pohon.

ACHMAD ULIL ALBAB, Jepara

SEJAK beberapa tahun terakhir, Mahfud Aly bersama warga Desa Tempur, Keling, Jepara, giat melakukan konservasi kawasan hutan Pegunungan Muria di wilayah desanya. Dua titik yang menjadi fokusnya ada di Palu Ombo dan bukit Sawah Bongkor. Dua kawasan itu, memiliki luas ratusan hektare.

Mahfud Aly

Mahfud Aly (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Lebih dari 20 ribu bibit pohon telah ditanam di dua lokasi tersebut. Dua lokasi tersebut merupakan kawasan hutan lindung di Pegunungan Muria. Kawasan tersebut mulai mengalami kerusakan sejak 1998. Akibatnya, pada 2006 terjadi banjir bandang besar. Pada 2014, Sawah Bongkor yang merupakan bukit dengan ketinggian 300 meter juga mengalami retak parah.

”Bencana itu menjadi pelajaran warga desa kami, untuk lebih memerhatikan kelestarian hutan,” kata pria yang kini menjadi sekretaris Desa Tempur tersebut.

Seperti diketahui, desa paling atas di Kabupaten Jepara ini, rawan terhadap bencana alam, seperti tanah longsor. Hampir tiap musim hujan selau ada tanah longsor di desa ini.

Mahfud yang juga aktif di Pokja Destana Desa Tempur, selain menggerakkan warga desanya untuk menanami lahan-lahan gundul, juga aktif memberikan edukasi kebencanaan.

Dia bersama warga lain menanam aneka jenis pohon. Seperti beringin, pucung, karet, alpukat, durian, sengon, cemara, ketapang, dan pohon-pohon lain.

Dia mengku, tantangan melakukan reboisasi di dua kawasan tersebut cukup berat. ”Medannya berat. Kalau awal musim hujan atau laboh, jalannya sangat licin,” kata alumni pelatihan kebencanaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini.

Reboisasi dua kawasan itu, mulai gencar dilakukan sekitar 2016 lalu. Hingga kini, dari ratusan hektare di kawasan tersebut, sudah 60 persen dapat dihijaukan kembali.

”Ini juga berkat kerja sama yang baik dari semua pihak. Mulai dari warga sendiri hingga pemerintah, maupun komunitas-komunitas yang peduli dengan kelestarian hutan di kawasan Pegunungan Muria,” terang pria yang juga menjadi ketua Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda (PAC GP) Ansor Kecamatan Keling ini.

Tantangan lain yang dihadapi dalam kegiatan konservasi kawasan tersebut, masih minimnya semangat warga. Hingga masih sering kekurangan tenaga untuk menanam pohon. ”Tenaganya kurang. Tidak kuat sampai atas (gunung). Kemarin, kami bawa 2.000 bibit pohon. Yang ikut sekitar 60 orang saja. Minatnya masih rendah. Kalau minat minum airnya dan ngambil pohonnya ya tinggi,” kata Mahfud menyindir.

Dia berharap, dengan serangkaian bencana alam yang pernah terjadi di desanya, seharusnya warga memang bisa memetik pelajaran. Adanya kebakaran hutan, pembalakan liar yang dulu terjadi hingga menimbulkan banjir bandang itu merupakan sebuah pelajaran.

”Warga harus sadar itu. Pentingnya menjaga alam untuk keberlangsungan kehidupan warga sendiri,” kata alumni Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara ini.

Ke depan, melalui Pokja Destana tersebut, Mahfud bertekad akan terus melakukan kegiatan konservasi alam. ”Saya bersama teman-teman juga sering melakukan monitoring bibit pohon yang telah ditanam. Penanaman baru juga akan terus kami digalakkan,” tekadnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia