Selasa, 19 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Shita Dwi Mutiarani, Pengusaha Kopi Muria

Dulu Tak Suka, Kini Berharap Bisa Ikut Ekspo Tingkat Internasional

21 Juni 2019, 09: 27: 21 WIB | editor : Ali Mustofa

Shita Dwi Mutiarani

Shita Dwi Mutiarani (GALIH ERLAMBANG WIRADINATA/RADAR KUDUS)

Share this      

Melestarikan keberadaan kopi Muria dan usaha turun-menurun keluarga membuat Shita Dwi Mutiarani memilih jalan menjadi wirausaha. Dia yang lulusan pendidikan Bahasa Inggris, memilih bersama petani kopi di lereng Gunung Muria mengangkat potensi kopi Muria ke kancah nasional, bahkan internasional.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus

MENJADI sarjana Pendidikan Bahasa Inggris tak menjadikan Shita Dwi Mutiarani ingin menjadi guru. Dia justru memilih melanjutkan usaha kopi turun-temurun keluarganya.

Kegigihan, tekad, dan usaha membuat Shinta memilih jalan melestarikan cita rasa lokal. Dia kini lebih konsisten menjadi pengusaha dan pengembangan kopi Muria. ”Produksi kopi Muria merupakan tradisi turun-temurun keluarga kami. Jadi kenapa tidak melestarikan tradisi tersebut,” paparnya.

Awalnya gadis kelahiran Kudus, 20 Juni 1996 ini, tak menyukai minum kopi. Saat dia ingin minum kopi, dulunya dia hanya meminta sedikit dari sisa kopi ibunya. Pemikirannya mulai terbuka saat dia menyadari seorang pengusaha harus mencintai barang dagangannya. Lalu, Shinta mencoba menyukai kopi. Setiap nongkrong di kafe, ia selalu mencoba memesan minuman hitam pekat itu. Mulai dari situ mindset-nya berubah sedikit demi sedikit.

Hatinya terpanggil melestarikan resep turunan keluarganya itu. Kopi Muria olahan dari keluarga Shinta punya ciri khas tersendiri. Kemajuan zaman yang menuntut kecepatan produksi tak diabaikannya. Ia tetap menerapkan resep peninggalan keluarganya. Hingga saat ini masih menggunakan sistem tradisional memasak dengan kayu dan kreweng saat sangrai.

Itu ditandai di ruang pengolahan kopi di rumahnya. Masih terdapat tungku masak di sisi utara. Namun, ada mesin roasting kopi moder di sisi selatan.

”Di kedai saya hanya menyediakan olahan kopi Muria. Tak ada jenis kopi yang lain,” katanya.

Niat tulus Shinta menekuni dan melestarikan kopi Muria kian terbukti. Dengan membuka usaha menjual berbagai olahan kopi, dirinya bisa membuka lapangan pekerjaan baru di daerahnya. Juga memberdayakan warga di sekitar rumahnya.

Saat ini, kepedulian petani kopi di lereng Muria kian peduli terhadap perkembangan kopi Muria. Paguyuban kelompok petani kopi Muria berupaya mengangkat potensi kopi yang rasanya pahit ini ke kancah nasional. Yang diketahui sebagai penopang perekonomian mereka.

Tak hanya itu, kini Shinta dan petani setempat mengembangkan farietas kopi Muria berjenis arabika. Farietas kopi ini dirasa akan melambungkan nama kopi Muria, tidak hanya andal di kacah jenis kopi robusta.

Untuk produknya, dia menjual berbagai jenis olahan kopi Muria robusta dan arabika. Baik dari kopi bubuk, green bean, dan roasted bean. Olahan produknya kini sudah merambah ke pasar luar Kudus. Di antaranya sudah di Semarang, Temanggung, hingga Palangkaraya. Dalam waktu sebulan mampu menjual 80 hingga 100 kilogram kopi Muria. ”Biji kopi Muria sangat berpotensi mampu bersaing dengan biji kopi lain dari daerah nusantara,” paparnya.

Shinta berharap, bisa membawa dan memperkenalkan kopi Muria hingga kancah internasional. Suata saat jika ada kesempatan, dia berkeinginan mengikuti ekspo kopi tingkat internasional.

Selain itu, Shinta juga menjalin relasi dengan pencinta kopi di Kota Kretek. Itu demi meningkatkan teknik menyeduh kopi dan pengembangan biji kopi Muria. Dulu gadis berkacamata ini, hanya bisa membuat kopi dengan teknik tubruk. Saat ini, dia mampu menyeduh kopi dengan cara seduh V60. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia