Rabu, 13 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Ini Alasan Tim Ahli Cagar Budaya Kaji Ulang Rumah Adat Kudus

20 Juni 2019, 15: 29: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

RUMAH ADAT KUDUS: Salah satu bangunan Rumah Adat Kudus digunakan untuk bangunan pemerintahan Desa Kerjasan. Rencananya bangunan tersebut akan dikaji ulang keberadaanya oleh tim TACB.

RUMAH ADAT KUDUS: Salah satu bangunan Rumah Adat Kudus digunakan untuk bangunan pemerintahan Desa Kerjasan. Rencananya bangunan tersebut akan dikaji ulang keberadaanya oleh tim TACB. (GALIH ERLAMBANG WIRADINATA/RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA Rumah adat Kudus rencananya akan dikaji ulang oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kudus. Tak hanya itu, pengkajian juga dilakukan untuk cagar budaya yang digunakan pemerintah Kudus.

Diketahui, Bupati Kudus M Tamzil telah resmi menetapkan lima orang sebagai Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) di Kabupaten Kudus pada (18/6) lalu. Dari ditetapkannya kelima TACB tersebut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) berkeinginan memperioritaskan mengkaji rumah adat Kudus dan bangunan cagar budaya yang digunakan oleh pemerintah. 

Adapun nama kelima TACB tersebut adalah Edy Supratno, Mitta Hermawati, Masdar Faridl, Anggara Nandiwardhana dan Muhammad Sulthon. Sedangkan untuk jumlah benda cagar budaya terdapat kurang lebih 90 peninggalan di Kabupaten Kudus.

Kasi Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Kudus Lilik Ngesti mengungkapkan, untuk pengkajian rumah adat Kudus yakni dari sisi Gebyok Kudus dan bangunan rumah adatnya sendiri. Selain itu juga mengkaji Menara Kudus dan Museum Kretek.

”Rumah adat Kudus perlu kami angkat derajatnya sebagai ikon Kota Kudus,” paparnya.

Lilik menyebutkan rumah adat Kudus di Kabupaten Kudus hak miliknya banyak dimiliki oleh atas nama pribadi. Kendati demikian pihak Disbudpar akan melakukan upaya pengkajian ke bangunan cagar budaya yang dikelola oleh Pemkab terlebih dahulu. Baru dilanjutkan pelestarian benda cagar budaya milik pribadi.

Dia juga menambahkan semua rumah adat Kudus tak bisa dianggap sebagai cagar budaya. Pasalnya setiap benda cagar budaya harus mempunyai kriteria usia 50 tahun lamanya. Lalu mempunyai sisi nilai sejarah dan pendidikan.

”Kami akan mengkaji rumah adat Kudus yang kini dijadikan kelurahan kerjasan. Serta melestarikan bagunan untuk Pusat Informasi Publik (PIP),” ungkapnya. (gal)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia