Rabu, 13 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Usai Diberi Arahan Bupati, Warga Sepakat Hentikan Perahu Wisata Logung

20 Juni 2019, 13: 57: 38 WIB | editor : Ali Mustofa

TINDAK TEGAS: Bupati Kudus M Tamzil dan Kepala Disbudpar Kudus Kasmudi meninjau perahu wisata di Bendungan Logung kemarin.

TINDAK TEGAS: Bupati Kudus M Tamzil dan Kepala Disbudpar Kudus Kasmudi meninjau perahu wisata di Bendungan Logung kemarin. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS – Puluhan warga Desa Kandangmas, Jekulo, yang menjadi pelaku usaha perahu wisata sepakat menghentikan sementara pengoperasian perahu wisata di Bendungan Logung. Kesepakatan ini seiring penjelasan dan arahan yang diberikan secara langsung oleh Bupati Kudus M Tamzil kemarin. Dalam waktu dekat ini, para pengusaha perahu wisata ini akan menarik perahu dari bibir bendungan yang berada di perbatasan Desa Tanjungrejo dan Desa Kandangmas ini.

Pernyataan persetujuan ini dinyatakan Marsugi, salah satu pelaku usaha perahu wisata dalam pertemuan dengan bupati dan pihak-pihak terkait di Balai Desa Kandangmas kemarin siang. Suaranya tersebut mewakili 20 rekannya.

”Kami masyarakat desa hanya mencoba mengais rejeki. Kami minta bimbingan dan arahan dari pemerintah. Apa saja yang harus kami lakukan dan aturan apa yang harus kami penuhi. Mohon bimbingannya Pak Bupati,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Rinto, pelaku usaha perahu wisata lainn. Dia tak merasa keberatan jika harus mengikuti aturan dari pemerintah. Pria yang saat ini memiliki satu perahu besar dan satu perahu kecil ini, bahkan mengaku senang dengan rencana penataan dari Pemkab Kudus.

”Dulunya pertama saya bikin perahu kecil untuk mancing. Tapi setelah ramai wisata perahu menyusuri bendungan, saya akhirnya beli perahu yang lebih besar di Karangjahe, Rembang,” ungkapnya.

Satu unit perahu yang dibeli harganya berkisar Rp 15 juta. Harga itu belum termasuk perlengkapan safety seperti pelampung. Saat ini perahu tersebut dikemudikan sendiri. Terkait keterampilan mengemudikan perahu, pria yang semula berprofesi sebagai petani ini, mengaku belajar di Pantai Karangjahe saat membeli perahu. ”Pas beli (perahu) itu saya langsung latihan di sana,” imbuhnya.

Keberadaan perahu wisata ini diakuinya cukup diminati masyarakat. Namun, pendapatan dari pengoperasian perahu wisata ini belum bisa stabil. Saat kupatan lalu, menjadi puncak berkah baginya. Dalam sehari, dia bisa mengantongi Rp 1,5-2 juta. ”Kalau hari biasa paling Rp 100-150 ribu saja,” ujarnya.

Bupati Kudus Muhammad Tamzil mengakui bahwa Pemkab Kudus kalah cepat dalam merespon fenomena yang ada. Seharusnya, pada saat pembangunan bendung, pemkab sudah merencanakan terkait penyiapan wisata. Seperti yang dilakukan di Bendung Jatibarang. Tapi di Kudus bendungan sudah jadi pemkab belum membuat hal itu.

”Pemerintah yang telat, warga yang cerdas. Saking cepete akhire gawe perahu sakanane,” cetusnya.

Dalam kesempatan itu, Tamzil memberikan pengertian kepada warga jika Bendungan Logung tersebut, nanti manfaatnya memang diperuntukkan untuk warga. Namun, saat ini posisi bendung masih dalam pemeliharaan. Jadi belum siap untuk dimanfaatkan. Pekan depan sudah mulai dilakukan pengosongan air bendung.

Pihaknya berjanji akan memberdayakan warga jika nanti izin dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana sudah turun. Sambil menunggu waktu pengosongan dan pemeliharaan bendungan selesai, pihaknya berencana mengajak para pelaku usaha perahu wisata ini untuk studi banding. ”Sambil menunggu nanti kami fasilitasi untuk belajar ke Bendung Jatibarang. Jadi ketika nanti sudah siap, semuanya sudah punya bekal,” kata Tamzil.

(ks/daf/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia