Rabu, 13 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Hukum & Kriminal

Jalani Asimilasi, Napi Lapas Kelas II B Pati Ini Malah Kabur

19 Juni 2019, 13: 51: 38 WIB | editor : Ali Mustofa

DILACAK: Kepala Lapas Kelas II B Pati menunjukkan foto narapidana yang kabur pada Minggu (18/6) lalu.

DILACAK: Kepala Lapas Kelas II B Pati menunjukkan foto narapidana yang kabur pada Minggu (18/6) lalu. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Share this      

PATI – Seorang narapidana (napi) Lapas Kelas II B Pati dilaporkan kabur pada Minggu (16/6) lalu. Napi tersebut adalah napi yang sudah menjalani masa asimilasi. Informasi yang didapatkan pihak lapas, saat ini napi tersebut sudah ada di Salatiga, setelah dilacak dari nomor HP-nya yang masih aktif.

Asimilasi sendiri adalah masa di mana napi diberikan pembinaan dengan cara membaur dengan masyarakat. Pemberian hak asimilasi itu, sesuai dengan peraturan yang ada.

Kepala Lapas Kelas II B Pati Irwan Silais mengungkapkan, warga binaannya yang kabur itu bernama Slamet Wibowo, 28, warga Desa Kedalingan, Tambakromo, Pati.

”Dia kabur sekitar pukul 15.00. Mendapati laporan adanya seorang napi yang kabur, petugas kami langsung bergegas mencari. Infonya pada Minggu malam, dia ada di Demak. Senin kemarin sudah ada di Salatiga. Kami belum tahu motifnya,” terang Irwan Silais kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Saat ini, pihaknya sudah melakukan pemeriksaan kepada pengawal napi yang diasimilasi. Setelah itu akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk memburu Slamet Wibowo. ”Kepolisian, imigrasi, dan bandara sudah kami infokan,” terangnya.

Napi yang kabur tersebut, merupakan napi kasus penipuan mobil. Dia divonis hukuman selama 2 tahun 6 bulan dengan dakwaan melanggar Pasal 378 KUHP. Mulai menjalani masa tahanan sejak 29 Juni 2018. Dia akan bebas pada 11 Desember 2020, setelah mendapat remisi selama 15 hari pada hari raya Idul Fitri lalu.

Dia menerangkan, jika napi tersebut tertangkap nanti hak-hak napi akan dicabut. Misalnya asimilasi, nanti tak akan diberikan lagi. Juga remisi yang telah diberikan akan dicabut. Sedangkan untuk tambahan hukuman tidak ada. ”Nanti diproses lagi berapa lama dia di luar. Misalnya kabur dan baru ketemu sampai 15 hari, ya itu ditambah hukumannya 15 hari,” terangnya.

Lebih lanjut, Irwan mengaku, terkait kaburnya seorang napi di lapasnya tersebut sebagai suatu musibah. Menurutnya penjagaan sudah dilakukan maksimal. ”Tapi kami kembali kepada terbatasnya personel. Misalnya di tahanan asimilasi, satu pengawal harus menjaga sampai lima orang lebih. Di samping mungkin ada kelalaian petugas juga kami akan selidiki. Petugas pengawalan saat ini sudah kami mintai keterangan,” jelas Irwan.

Irwan menambahkan, selain itu dari pengalaman yang sudah-sudah, biasanya kaburnya para napi dipicu masalah keluarga. ”Mungkin ada info anaknya sedang opname atau istrinya sedang kenapa-kenapa. Pernah di tempat lain juga kejadian seperti itu. Padahal misalnya terjadi hal-hal semacam itu bisa dikomunikasikan,” imbuhnya.

(ks/aua/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia