Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Ekonomi

Pemkab Kudus Klaim Pengendalian Harga Pangan Tekan Inflasi

18 Juni 2019, 14: 06: 21 WIB | editor : Ali Mustofa

JUALAN BERAS: Harga beras sempat menjadi pemicu penyumbang inflasi bulai Mei. Pemkab Kudus sigap mengendalikan harga.

JUALAN BERAS: Harga beras sempat menjadi pemicu penyumbang inflasi bulai Mei. Pemkab Kudus sigap mengendalikan harga. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA – Berdasarkan hasil indeks konsumen yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Kudus, Mei terjadi inflasi namun porsentasenya cukup rendah. Yakni 0,22 persen.  Dari presentasi ini, Kudus menjadi peringkat terendah nomor dua dari enam kota/kabupaten se Jateng.

Kepala BPS Kudus Rahmadi Agus Santoso menjelaskan, penyumbang inflasi dari kelompok bahan pokok yakni beras. Hasil survei menunjukkan harga beras pada Mei mengalami kenaikan.

”Padahal, kota-kota lainnya beras tidak mengalami kenaikan,” jelasnya.

Rahmadi mengatakan, secara keseluruhan inflasi yang terjadi di bulan Mei tidak terlalu signifikan. Hal ini mungkin karena upaya pemerintah untuk menekan harga supaya tidak terjadi lonjakan harga.

Di tempat terpisah, kepala Dinas Perdagangan Kudus Sudiharti melalui Kabid Fasilitasi Perdagangan Promosi dan Perlindungan Konsumen Imam Prayetno mengatakan, selama Ramadan hingga pascalebaran, pengendalian harga pangan yang dilakukan Pemkab Kudus diklaim berhasil.

Dibuktikan dengan harga pangan di pasaran tidak mengalami kenaikan signifikan meskipun permintaan masyarakat meningkat. Angka inflasi pada Mei lalu juga tidak mengalami kenaikan signifikan.

”Kami melakukan berbagai upaya pengendalian harga, mulai menjelang Ramadan dan berlanjut sampai pascalebaran, salah satunya adalah pada bahan makanan pokok, daging ayam, dan daging sapi atau kerbau,” kata Imam.

Menurutnya, Pemkab Kudus melalui Dinas Perdagangan terus melakukan survei pasar diikuti dengan upaya pengendalian, seperti operasi pasar bekerja sama dengan Bulog, pasar murah, dan koordinasi antara petani, peternak, dan pedagang untuk pengendalian harga sejumlah komoditas.

”Seperti harga daging ayam kami tekan melalui pedagang agar tidak sampai menaikkan harga menjelang lebaran. Pasalnya harga di tingkat peternak tidak naik,” ujarnya.

Peningkatan permintaan ini umumnya dimanfaatkan pedagang untuk menaikkan harga, namun hal ini tidak terjadi di Kudus karena jauh-jauh hari. Sementara itu, kenaikan harga beras di bulan Mei memang cukup wajar, karena permintaan tinggi.

”Harga beras kenaikan rata-rata kisaran Rp 1.000 per kilogram. Kami tetap upayakan harga di Kudus terkendali, sehingga konsumen dapat harga wajar dan pedagang tetap untung serta dagangannya laku,” jelasnya.

(ks/san/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia