Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Features
Rizal Alansyah, Inovator Muda Asal Kota Ukir

Ciptakan Terasi Osmotik, Berhasil Setelah 32 Kali Percobaan

17 Juni 2019, 09: 54: 45 WIB | editor : Ali Mustofa

APRESIASI: Siswa  SMKN 1 Batealit, Rizal Alansyah bersama Mendikbud RI, Muhajir Effendy pada acara Young Teknopreneur Expo 2019 di Jakarta belum lama ini.

APRESIASI: Siswa  SMKN 1 Batealit, Rizal Alansyah bersama Mendikbud RI, Muhajir Effendy pada acara Young Teknopreneur Expo 2019 di Jakarta belum lama ini. (Dok. Pribadi)

Share this      

Memiliki keterbatasan secara fisik tidak menghalangi Rizal Alansyah berinovasi. Dengan keterbatasannya itu ia membuktikan semangat pantang menyerah membuatnya berhasil berinovasi. Salah satunya produk terasi dengan teknologi osmosis.

M. KHOIRUL ANWAR, Jepara

RASA canggung biasa dialami orang yang bersalaman dengan Rizal Alansyah. Pasalnya ia memiliki keterbatasan fisik pada bagian tangan kanan. Sehingga setiap bersalaman dengan seseorang tangan kirinya menopang tangan kanan untuk bisa berjabat tangan.

Keterbatasan fisik ini justru menjadi pelecut semangat Rizal untuk berprestasi. Siswa SMKN 1 Batealit ini baru saja meraih penghargaan dari Universitas Diponegoro atas inovasi yang diciptakan. Ia berhasil membuat terasi dengan teknologi osmosis.

“Mengalahkan beberapa perusahaan besar di Jawa Tengah. Dan saya masih pelajar sendiri sebagai juara I pemilik Serasi Indonesia,” ujarnya.

Siswa kelas XII SMKN 1 ini membuat  Terasi Osmotik dengan teknologi pembuatan terasi yang cepat dan awet. Membutuhkan waktu hanya setengah jam. Sedangkan waktu normal yang dibutuhkan 14 hari. Produk ini tahan lama. Hingga satu tahun. Selain itu terasi ini juga dikembangkan dalam bentuk keripik, sambal, dan terasi box.

Inovasi itu awalnya ia cetuskan pada 2016 lalu. Namun diikutkan ajang kompetisi pada 2018 dan tahun ini. Untuk berhasil membuat terasi osmotik ini butuh eksperimen hingga 32 kali percobaan. Hingga akhirnya tercipta produk tersebut.

“Awalnya dari masalah yang dihadapi produsen terasi. Karena pembuatannya yang lama. Sehingga terjadi ketidakseimbangan antara proses produksi dengan kebutuhan pasar. Dan 2016 saya meneliti teknologi pembuatan terasi dengan memanipulasi tekanan osmosis yang mempercepat pembuatan terasi cuma 30 menit dan awet hingga satu tahun,” terangnya.

Inovasi lainnya yang dihasilkan oleh Rizal ialah lampu perangkap hama tenaga surya otomatis serta mesin pengolah dan penguji pupuk. Dengan inovasi ini, Rizal mendapatkan berbagai penghargaan.

Ia berhasil meraih juara I ajang Kreanova  pada 2017 dan 2018 menyingkirkan peserta dari mahasiswa dan kalangan umum. Jenis kreasi yang diangkat adalah alat pengolah pupuk limbah cair organik. Sedangkan tahun sebelumnya ia membuat alat perangkap hama teknologi tenaga surya otomatis.  “Kreasi tersebut meraih juara I tingkat kabupaten dan dilombakan lagi di tingkat provinsi,” katanya.

Pelajar asal Desa Tengguli, Bangsri ini menjadi peserta Young Teknopreneur Expo 2019 di Jakarta. Acara tersebut digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Berbagai hasil penelitiannya dan siswa lain ditampilkan di sana. Lampu penangkap hama mesin elektrik, pupuk organik bonggol pisang, dan inovasi produksi terasi melalui teknologi osmosis.

Stan SMKN 1 Batelait sempat dikunjungi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Muhadjir Effendy. “Melihat hasil-hasil inovasi tersebut, ditanya menteri mahasiswa dari mana. Padahal masih siswa SMK. Pak menteri juga mengapresiasi inovasi tersebut yang lazimnya dimunculkan mahasiswa. Tapi siswa SMK sudah bisa membuat inovasi seperti itu,” imbuhnya.

Di rumahnya, kini ia membuka Sentra Produksi Aneka Olahan Terasi Berteknologi Osmosis (Serasi Indonesia). Ruangan berukuran empat meter persegi dijadikan tempat produksi dan pemasarannya. “Selain ada toko di rumah juga saya pasarkan lewat akun medsos,” tuturnya. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia