Jumat, 18 Oct 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Dua Tangis dalam Satu Kesempatan

17 Juni 2019, 09: 41: 23 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

SUDAH belasan tahun saya menyeleksi calon karyawan. Sudah ratusan orang yang saya wawancarai. Namun, baru Jumat lalu saya merasa heran. Ada peserta tes yang menagis. Di hadapan saya. Dua orang lagi.

Jumat lalu saya ikut mewawancarai peserta seleksi calon karyawan bagian administrasi keuangan Radar Semarang. Pewawancara utamanya Manajer Keuangan Indah Fajarwati. General Manajer Iskandar ikut mengamati. Pesertanya tidak banyak. Hanya 30 orang. Itu sudah hasil seleksi sebelumnya yang jumlahnya 200 pelamar lebih.

Saya ikut terjun langsung supaya mengetahui potensi calon karyawan yang sebenarnya. Keterlibatan seperti itu sudah saya lakukan bertahun-tahun. Di Radar Kudus saya juga melakukannya. Demikian juga ketika masih di Jawa Pos Surabaya. Belasan wartawan hebat di Jawa Pos yang sekarang menjadi redaktur adalah hasil seleksi saya.

Wawancara saya sebenarnya biasa-biasa saja. Malah tidak terstruktur. Tetapi mengarah pada satu titik. Yaitu potensi dan sikap mental peserta tes.

Bagi saya mengetahui potensi dan sikap mental tidak cukup dilakukan dengan psikotest. Karena itu, wawancara harus dilakukan dengan detail. Inilah yang membuat banyak peserta terkecoh. Apa yang sudah dipersiapkan sebelumnya tidak berguna. Mereka harus menjawab pertanyaan apa adanya. Juga tidak bisa menyembunyikan sikap sesungguhnya.

Sering saya berpura-pura membentak untuk mengetahui ketangguhan mental peserta tes yang sesungguhnya. Sering pula saya meminta peserta melakukan sesuatu secara spontan. Biasanya saya lakukan ketika mewawancarai calon wartawan. Banyak yang gugup. Padahal di lapangan tidak boleh demikian.

Pernah suatu ketika seorang peserta tes wartawan saya tanya berapa berat badannya. Dia menjawab 95 kilogram. “Dengan berat badan segitu gedenya Anda ingin menjadi wartawan?” kata saya dengan berpura-pura geram. Ternyata dia bisa meyakinkan bahwa dengan badan yang gede itu dia tetap sehat dan gesit. Dia mengungkapkan banyak kegiatan yang menguras tenaga yang dia dilakukan. Setelah dites kesehatan dia juga sehat. Akhirnya dia diterima. Tidak ada diskriminasi.

Tentu wawancara harus disesuaikan dengan kebutuhan. Calon wartawan perlu diuji sikap mentalnya dengan kadang-kadang keras. Tetapi calon pegawai administrasi keuangan tidak demikian. Kebetulan seluruh peserta tes di Semarang wanita. Saya melakukannya dengan lemah lembut. ‘’Terima kasih. Bapak baik sekali,” kata salah seorang peserta ketika beranjak meninggalkan tempat.

Sudah saya berusaha lembut itu, ternyata malah ada yang menangis. Saya heran. Saya runut lagi pertanyaan-pertanyaan saya. Betul-betul biasa. Tidak ada desakan. Apalagi bentakan. Saya hanya ingin tahu seberapa besar biaya hidupnya. “Coba sampaikan kepada kami secara jujur berapa biaya hidup Anda sebulan bila diuangkan,” tanya saja.

Peserta tes tersebut tidak menjawab. Saya menunggu beberapa saat. Air matanya meleleh. Semakin lama semakin banyak. Saya ambilkan tisu. Tidak cukup untuk menghentikan derai air mata itu. Saya minta Bu Indah Fajarwati untuk mengambilkan air minum. Tangisnya juga belum berhenti. Saya menjadi salah tingkah. “Biaya hidup saya di bawah kebanyakan orang,” katanya.

Saya betul-betul tidak mempersoalkan tingkat ekonomi seseorang. Perusahaan tidak boleh membeda-bedakan strata sosial. Malah saya katakan, keluarga saya buruh tani. Dulu ketika masih sekolah setiap hari saya membantu orang tua mencangkul di sawah. “Saya hanya dikasih uang Rp 100 ribu setiap bulan oleh orang tua saya,” tambahnya. “Saya malah tidak dikasih uang sama sekali,” balas saya.

Peserta tes lainnya menangis ketika saya minta untuk menceritakan pekerjaan yang dilakukan sebelumnya. Tangisnya tidak berhenti-berhenti juga meskipun sudah berkali-kali diseka dengan tisu. Sudah beberapa kali pula meneguk air putih. Dengan sesenggukan dia menceritakan pernah bekerja di warnet. ‘’Saya berangkat jam 16.00 pulang jam 24.00,” katanya. Pulang tengah malam itulah yang membuat dia sedih. Banyak godaan dia alami.

Dengan terjun langsung mewawacarai peserta tes calon karyawan saya tahu, banyak lulusan perguruan tinggi yang tidak memiliki sikap mental yang baik. Banyak peserta yang ketika di rumah tidak melakukan kegiatan apapun. Bahkan membantu pekerjaan rumah pun tidak. Padahal perusahaan membutuhkan orang yang memiliki etos kerja tinggi. Bekerja keras dengan tetap menjunjung nilai-nilai kehidupan.

Saya juga tahu banyak peserta yang tidak memiliki kemampuan. Padahal transkrip nilainya baik. Ada peserta yang indkes prestasinya di atas 3. Tetapi ketika disodori soal hitung-hitungan dia tidak menjawab. Itu tidak hanya seorang. Padahal soal itu hanya tambah, kurang, kali, bagi.

Jadi, menerima calon karyawan memang harus teliti agar mendapatkan sumber daya manusia yang mumpuni. Tetapi tidak boleh diskriminasi. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia