Minggu, 17 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Reaktivasi Jalur KA Semarang-Lasem

Jadi Saksi Agresi Militer Belanda I

15 Juni 2019, 12: 14: 52 WIB | editor : Ali Mustofa

BANGUNAN LAMA: Salah satu bangunan Stasiun Kudus. Tampak berlumut dan tidak terawat. 

BANGUNAN LAMA: Salah satu bangunan Stasiun Kudus. Tampak berlumut dan tidak terawat.  (DIYAH AYU FITRIYANI/RADAR KUDUS)

Share this      

DI bangun pada 1884 oleh Samarang – Joana Stoomtram Maatschappij dioperasikan jalur kereta jurusan Semarang – Muria raya sejauh 417 km. Jalur – jalur ini melewati kota Demak, Kudus, Pati, Rembang, hingga Jepara. Sebagian  Blora, Grobogan, Bojonegoro hingga Tuban. Sempat berjaya, pada 1986, akhirnya mati.

Kini, kondisi stasiun dan rel juga bermasalah. Di Kudus, Pati, dan Lasem stasiunnya masih berwujud. Namun penampakannya memprihatinkan. Sedangkan stasiun Mayong, Jepara sudah tak berbekas. Namun rel keretanya masih terlihat. 

Sejarawan Kudus Edy Supratno mengatakan, dari aspek sejarah, stasiun Kudus memiliki cerita yang cukup menarik. Sebab pernah menjadi saksi bisu peristiwa Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Bahkan hingga kini masih berbekas. Tepatnya di tubuh stasiun Kudus. Nyaris seratus lubang berdiameter 2 cm terlihat jelas di atap stasiun. Lubang ini ditengarai sebagai bekas tembakan dari udara yang dilepaskan Belanda menggunakan pesawat Mustang alias Cocor Merah P-15.

Lama mati suri, provinsi Jawa Tengah (Jateng) berencana reaktivasi kembali jalur ini. Ide ini, bagi Edy cukup menarik. Sebab ini momen kebangkitan moda transportasi masa. Terlebih nyaris 40 tahun mati. ”Dari sisi transportasi, ini cukup efektif. Saya rasa aset-aset PT KAI berupa rel juga relatif masih lengkap,” katanya.

Sebelum mati suri, stasiun Kudus sempat benar-benar beroperasi. Selama sekitar 134 tahun, bangunan ini pernah aktif. Juga tercatat pernah beralih fungsi. Salah satunya menjadi pasar tradisional Johar mulai 1993 – 2017 lalu.

Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Dinas Perdagangan Kudus Andi Imam Santoso mengatakan, pemkab pernah menyewanya untuk dijadikan lokasi pasar. ”Terakhir pada tahun lalu pasar ditutup. Kini pedagang dipindahkan ke lokasi yang baru,” katanya.

Pemindahan pasar johar ke lokasi yang baru di kompleks Gedung Olah Raga (GOR) mendesak dilakukan. Karena harga sewa yang terus meningkat. Terakhir, setiap tahunnya harga sewa mencapai Rp 600 juta.

Sejak ditutup sebagai pasar pada (9/4) tahun lalu, bangunan bersejarah itu kembali kosong. Meski kosong masih banyak masyarakat yang berdatangan. Mulai dari hanya sekadar berswafoto, menggelar kegiatan, hingga buka angkringan. ”Dulu ramai. Tetapi ada perintah ditutup maka kami tutup. Alasannya untuk perlindungan dan menghindari adanya kerusakan atau kehilangan aset milik PT. KAI,” kata Assisten Bagian Aset Stasiun Kudus Masud.

Sejak (3/10) tahun lalu, bangunan ini steril. Bangunan di atas tanah seluas 1200 meter persegi memang dibiarkan kosong hingga saat ini. Bahkan tubuh bangunan tak lagi bisa dinikmati bebas oleh masyarakat. Seng setinggi hampir 2 meter itu rapat mengelilingi dan menutup lahan seluas 11.70 meter persegi itu. ”Agar tidak keluar masuk seenaknya, maka ditutup. Bangunan terbuka dengan lahan seluas ini cukup menyulitkan pengawasan jika tidak ditutup,” ujarnya.

Ditutupnya eks Stasiun Kudus untuk mencegah adanya bangunan liar. Seperti bangunan semi permanen yang digunakan masyarakat untuk berjualan. ”Dulu sebelum ditutup, ada beberapa warga yang membuka warung di sebelah sana. Itu pun tanpa izin dan dilarang PT. KAI pusat,” katanya sambil menunjuk arah pojok depan bagian selatan.

Bahkan, saat ini masih ada beberapa peralatan jualan. Seperti tikar, papan menu, hingga puluhan mangkuk yang ditumpuk di dalam ember.

Kondisi eks Stasiun Kudus kini jauh dari kesan megah. Daun-daun kering menutup hampir seluruh permukaan dasar, rumput-rumput kian meninggi, beberapa bangunan rusak.

(ks/daf/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia