Rabu, 13 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Reaktivasi Jalur KA Semarang-Lasem

Pemkab Fasilitasi Layangkan Surat ke Presiden

15 Juni 2019, 12: 05: 26 WIB | editor : Ali Mustofa

SELFIE: Beberapa remaja terlihat sedang selfie di Stasiun Kudus setelah ada pembongkaran.

SELFIE: Beberapa remaja terlihat sedang selfie di Stasiun Kudus setelah ada pembongkaran. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

PROGRAM nasional untuk reaktivasi jalur kereta api Semarang – Lasem, disambut baik oleh sejumlah kepala daerah. Termasuk di Kabupaten Pati. Namun, reaktivasi itu diperkirakan tak akan membuka jalur lama, akan tetapi membuat jalur baru.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda) Kabupaten Pati Pujo Winarno melalui Kabid Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah (IPW) Tuty Indarnisih mengungkapkan, hal itu lantaran jalur lama yang tidak memungkinkan.

”Jalur lama rel kereta api di Kabupaten Pati hari ini sudah tak ada wujudnya sama sekali. Rel kereta api sudah terpendam bangunan. Hanya menyisakan stasiun-stasiun tua yang dimanfaatkan warga untuk bangunan lain. Tapi itu wilayahnya PT KAI. Kami di daerah sifatnya hanya membantu,” terang Tuty.

(mahendra aditya/radar kudus)

Selain sudah dimanfaatkan warga, jalur kereta api dari Stasiun Puri ke arah Lasem, Rembang banyak melewati tempat-tempat penting di Bumi Mina Tani. Jalur itu memanjang dari stasiun ke arah timur melewati Jalan Panglima Sudirman, kemudian menerobos Alun-alun Simpanglima dan lurus sampai ke Rembang.

”Kalau namanya reaktivasi jalur kereta api ya berarti menghidupkan lagi jalur tersebut. Artinya membuka jalur yang telah mati itu untuk dihidupkan. Akan tetapi melihat fakta yang ada akan sangat sulit. Seperti jalur tersebut yang melewati alun-alun. Otomatis nanti ruang publik itu akan tergusur. Melihat kepadatan di jalan Panglima Sudirman sendiri sudah begitu. Kalau ada kereta api bagaimana,” terang Tuty.

Sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap program nasional reaktivasi, Bupati Haryanto sampai melayangkan surat kepada Presiden Joko Widodo secara langsung. Bupati ingin adanya percepatan program reaktivasi kereta api Semarang – Lasem tersebut.

Menurut bupati, dalam surat yang juga ditembuskan ke sejumlah pihak seperti Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, Dirjen Perkeretaapian Kementrian Perhubungan, reaktivasi kereta api di pantura timur dinilai sangat potensial.

Selain mengurangi kepadatan jalur tersebut, pengiriman barang-barang juga dinilai akan lebih efisien dengan menggunakan moda transportasi kereta api. ”Intinya melalui surat itu, bupati sebagai kepala daerah mengusulkan adanya percepatan realisasi jalur kereta api yang dimaksud itu,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda) Kabupaten Pati Pujo Winarno melalui Kabid Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah (IPW) Tuty Indarnisih.

Dalam surat tersebut, bupati, kata Tuty juga memberikan saran adanya pembukaan jalur baru untuk jalur kereta api yang melintasi Kabupaten Pati. Mengingat, reaktivasi jalur lama diperkirakan bakal sulit. Sebab sebagian sudah menjadi pemukiman warga dan menjadi ruang publik juga.

Selain itu, Pemkab Pati juga sudah siap untuk fasilitasi persiapan dan pelaksanaan reaktivasi sesuai kewenangan yang dimiliki. ”Intinya kami memang menyambut baik rencana tersebut, dan akan siap berkordinasi sesuai kewenangan daerah,” imbuhnya.

Namun, saat ditanya mengenai target-target program tersebut pihaknya belum bisa menjelaskan. Hingga saat ini belum ada informasi mengenai kapan eksekusi dan tahapan pengerjaan reaktivasi jalur keretaapi tersebut.

Di Rembang, reaktivasi Stasiun Rembang dan Lasem resmi masuk Ranperda tentang Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2016-2021 Kabupaten Rembang. Belum lama ini, DPRD Rembang juga menggelar rapat evaluasi tentang Hasil Evaluasi Gubernur Jateng terhadap Ranperda tentang Perubahan RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) 2016-2021.

Hal itu sebagai tindak lanjut proses pengesahan Ranperda tentang Perubahan RPJMD 2016-2021 tersebut. Satu hal yang terpenting, dalam Ranperda tersebut memuat poin reaktivasi jalur kereta lama serta stasiun, selain juga ring road atau jalan lingkar.

Sebagaimana diketahui, program nasional pengaktifan seluruh kereta api di Jateng yakni pada 2025. Sehingga, harus singkron antarkebijakan daerah maupun nasional.

Kepala Bappeda Rembang Dwi Wahyuni mengungkapkan, rencana reaktivasi stasiun sejauh ini belum ada langkah konkret dari Pemkab maupun PT KAI. Pada tahun ini, masih dalam tahap kajian.

”Masih sebatas kajian. Belum ada tindakan konkret. Karena rencana (pemerintah) pusat 2025. Belum jelas, kebijakan pusat,” kata dia.

Pihaknya pun belum bisa berbicara lebih jauh mengenai pembebasan lahan yang telah ditempati warga. Sebab, RPJMD yang telah diubah pun hanya sampai 2021. Sehingga, reaktivasi stasiun hanya sebatas dicantumkan saja.

Sementara itu, Bupati Rembang Abdul Hafidz mengakui rencana pengaktifan kembali KAI (Kereta Api Indonesia) di Rembang dan Lasem yang digagas pemerintah akan menimbulkan masalah. Sebab, lahan milik KAI saat ini sudah banyak ditempati warga untuk pemukiman dengan bangunan permanen.

Bupati mengakui dengan mengaktifkan jalur lama akan menemui banyak kendala di masyarakat. Sebab, aset kereta api sudah dimanfaatkan untuk masyarakat.

”Saya kira banyak problem di masyarakat. Karena asetnya kereta api itu sudah dimanfaatkan untuk masyarakat. Itu serius. Pemerintah harus mengkaji itu,” paparnya.

Mengenai kemungkinan tukar guling, pihaknya juga belum bisa memprediksi. Sebab, hal itu juga bukan perkara yang sederhana. Meski begitu, pihaknya mengapresiasi rencana pemerintah pusat untuk mengaktifkan lagi stasiun kereta api Semarang-Lasem.

Salah satu warga yang menempati lahan KAI, Diah mengaku sudah lima tahun terakhir tidak ada petugas yang menarik iuran atas penggunaan lahan tersebut. Dulu, dalam setahun, pihaknya hanya ditarik iuran sebesar Rp 22 ribu.

Ditanya mengenai apabila digusur, Diah mengaku pasrah. Toh banyak juga tetangga yang bakal terkena penggusuran apabila memang harus digusur.

”Pasrah saja. Kan memang bukan hak milik. Temannya juga banyak,” ujar Diah, warga Leteh, Kecamatan Kota Rembang itu.

Meski demikian, dia mengaku sudah menyiapkan tempat tinggal apabila nantinya benar-benar digusur. Bersama keluarganya, dia mengaku sudah memiliki tempat untuk ditinggali, masih di Kabupaten Rembang.

Respon baik juga dilontarkan Bupati Kudus Muhammad Tamzil. Untuk mendukung itu, dia mengaku akan membantu untuk memfasilitasi pembebasan lahan warga yang akan digunakan untuk jalur perlintasan kereta api.

”Kalau betul ada, kami pemerintah daerah mendukung sekali. Kalu perlu nanti kami bantu sosialisasi untuk pembebasan lahan,” katanya.

Menurutnya, wacana reaktivasi jalur kereta api Semarang-Lasem merupakan hal baik. Sebab, sarana transportasi ini dirasa cukup efektif untuk mengurai kemacetan. Tak hanya itu, Tamzil juga menilai kereta api juga memiliki tingkat keamanan yang tinggi dan harga yang lebih terjangkau.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Abdul Halil melalui Kabid LLAJ Putut Sri Kuncoro sudah mengetahui rencana itu. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan PT KAI. ”Sejauh ini baru sebatas koordinasi-koordinasi. Titik jelasnya belum diketahui,” katanya.

Menurutnya, keputusan reaktivasi memerlukan waktu yang relatif lama. Apalagi selang waktu matinya jalur kereta api yang lama. Selain kepada pemerintah setempat, koordinasi dengan masyarakat juga diperlukan.”Di jalur-jalur rel kereta api lama sudah banyak yang ditempati dan didirikan bangunan oleh masyarakat. Sebisa mungkin nanti dipikirkan caranya agar tidak terjadi gesekan dengan masyarakat,” tuturnya.

Pihaknya pun mengaku belum mengetahui sepenuhnya jalur rel kereta api di Kudus seluruhnya. Kini pihaknya mengaku mulai menelusuri jalur-jalurnya

Kasi Perkeretaapian Dinas Perhubungan (Dishub) Fajar Rakhmat membenarkan, Pemprov Jateng berencana menghidupkan kembali jalur-jalur kereta api yang sudah mati. Istilahnya reaktivasi. Rencananya akan dilakukan pada 2021-2030.

Dalam Musrenbang awal 2018 lalu, rencana ini dimunculkan. Responnya baik. Bahkan Bupati Pati Haryanto dan Bupati Rembang Abdul Khafidz mendukung.

Langkah awal, dia menjelaskan, akan menyusun detail enginering design (DED). Juga survei lokasi. Sebab rel yang mengalami alih fungsi. Ada yang ditempati warga hingga tempat makan. ”40 tahun mati suri tentu ada yang berbeda. Untuk itu kami akan cek lokasi,” ungkapnya.

Selain itu, hingga sat ini belum jelas ada pengembangan atau tidak. ”Untuk itu kami perlu koordinasi dengan Pemkab. Untuk sinkronisasi,” terangnya.

Dengan reaktivasi ini, banyak manfaat yang didapat. Selain merawat bangunan bersejarah juga mengurangi kepadatan lalu lintas. Dengan begitu akan mengurangi kerusakan badan di ruas Pantura. ”Yang paling penting dapat menekan angkat kecelakaan,” harapnya.

Humas PT KAI Suprapto mengatakan, pihaknya tentu mendukung penuh rencana ini. Namun, rencana ini bisa teralisasi jika semua pihak mendukung.

Sebagai operator, pihaknya akan menyiapkan sarana. Seperti kereta dan lokomotif. ”Kami sudah siap. Namun untuk koordinatornya tetap dari pusat,” tuturnya.

Humas Balai Perkeretaapian Wilayah Jateng Eko Santoso mengatakan, rencana ini sebetulnya masih usulan Pemprov. Pihaknya hanya mendukung. ”Dari kementerian perhubungan masih menunggu aksi dari dinas. Jika memang sudah siap, kami tentu membantu,” paparnya.

(ks/aua/ful/daf/mal/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia