Rabu, 13 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Reaktivasi Jalur KA Semarang-Lasem

Lama Mati, Kereta Juk Ijak Ijuk Lagi

15 Juni 2019, 11: 52: 32 WIB | editor : Ali Mustofa

BANGUNAN LAMA: Salah satu bangunan Stasiun Kudus. Tampak berlumut dan tidak terawat.

BANGUNAN LAMA: Salah satu bangunan Stasiun Kudus. Tampak berlumut dan tidak terawat. (DIYAH AYU FITRIYANI/RADAR KUDUS)

Share this      

PEREMPUAN tua itu duduk diamben. Tangannya terampil memilin kain. Sesekali berdiri karena kesemutan. Lalu duduk lagi karena pegal-pegal. Namanya Saidah. Dia, salah satu warga yang sempat melihat jalur kereta api (sepur) Samarang-Joana Stoomtram Maatchappij masih beroperasi.

Meski tidak menikmati, dia melihat langsung teman sekolahnya naik sepur. Ada yang jurusan Jepara menuju Kudus. Juga jurusan Pati menuju Kudus. ”Banyak teman-teman SR yang naik sepur. Kebetulan saya diantar jemput orang tua ke sekolah. Jadi belum pernah naik kereta. Malah akhir–akhir ini baru naik kereta. Jurusan Semarang – Jakarta. Sebab jalur kereta Kudus – Pati dan sekitarnya sudah lama mati,” ungkapnya perempuan desa Loram Kulon, Jati, Kudus.

Beda dengan Saidah, Istiqomah justru sempat menikmati kereta jurusan Kudus – Pati semasa sekolah. Saat itu, katanya, kereta menjadi satu-satu transportasi yang paling aman dan murah. Maka, dia dan teman-temannya memilih naik kereta.

DIGUNAKAN UNTUK UPACARA: Stasiun Kudus digunakan untuk upacara 17 Agustus oleh komunitas jenang.

DIGUNAKAN UNTUK UPACARA: Stasiun Kudus digunakan untuk upacara 17 Agustus oleh komunitas jenang. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Pada tahun 1960, Istiqomah mengaku, Kudus tidak memiliki SMA. Pilihannya hanya ada dua lokasi.  Di Semarang atau Pati. Istiqomah pun memilih di Pati. Tepatnya di SMAN Pati. ”Kalau Semarang kejauhan. Maka, kami saat itu memilih meneruskan sekolah ke Pati,” ungkapnya.  

Maka, setiap subuh, Istiqomah mulai bersiap sekolah. Untuk menuju stasiun Kudus, dia biasa mengendarai sepeda. Sepeda itu lantas dititipkan pada salah satu teman. Tepat pukul 05.55, kereta jurusan Kudus – Pati berangkat.

Sesuai jadwal, kereta sampai pada pukul 07.00 di stasiun Pati. Stasiun ini, katanya, berjarak cukup jauh dari sekolah. Sekitar 15 menit. Itu pun sudah berlari. ”Sesampainya di sekolah pukul 07.15. Padahal sekolah masuk pukul 07.00,” tutur perempuan yang berdomisili di Dukuh Jetak Kembang, Kudus.

Pulangnya, dia mengisahkan, harus keluar kelas lebih awal. Sebab kereta berangkat pukul 13.00. Sedangkan sekolah selesai pukul 13.15. Akan tetapi, guru sudah paham dan pengertian. ”Saat pulang, guru – guru mengingatkan. Ayo yang Kudus, Kudus, Kudus,” katanya menirukan perkataan gurunya. Lantas anak-anak Kudus bersiap pulang ke rumah.

Kala itu, pembayaran dilakukan menggunakan kartu abonemen. Sistem pembayarannya bulanan. Cukup murah. ”Kalau tidak salah membayar Rp 15 per bulan,” katanya. Karcisnya berupa kertas yang dilubangi setiap pemberangkatan.

Mendengar jalur Semarang – Lasem yang melewati Demak, Kudus, dan Pati akan aktif kembali, dia mengaku senang. Sebab akan mengurangi kemacetan di daerah Pantura. Namun dia menyarankan biayanya harus murah. Dengan begitu tidak memberatkan masyarakat. ”Kalau mahal mending tidak usah,” sarannya.

Unsur pemkab, Sekda Kudus Sam’ani Intakoris juga menyambut baik. Dia setuju juga mendukung adanya reaktivasi kembali. Bahkan berharap segera teralisasi. ”Tentunya pemkab mendukung rencana ini. Sebab dengan adanya reaktivasi kembali, kepadatan lalu lintas bisa berkurang,” ungkapnya. 

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia