Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Features
Mukti Sutarman Espe, Penyair Asal Kudus

Berawal dari Mencuri Surat Cinta Paman

14 Juni 2019, 10: 49: 14 WIB | editor : Ali Mustofa

PRODUKTIF: Mukti saat menunjukkan karya puisinya yang dibukukan baik secara tunggal maupun bersama penyair lainnya.

PRODUKTIF: Mukti saat menunjukkan karya puisinya yang dibukukan baik secara tunggal maupun bersama penyair lainnya. (VEGA MA'ARIJIL ULA/RADAR KUDUS)

Share this      

Ketertarikan Mukti Sutarman Espe dalam menulis puisi berawal dari mencuri surat cinta milik sang paman. Menurutnya, pamannya pandai memainkan untaian-untaian kata yang indah kala menulis surat cinta. Dari situlah Mukti ingin mengawali diri sebagai penyair.

VEGA MA’ARIJIL ULA, Kudus

HANGAT. Itulah kata yang tepat saat penyair bernama Mukti Sutarman Espe menyambut kedatangan wartawan Jawa Pos Radar Kudus di kediamannya yang berlokasi di RT 4/RW 2, Desa Mlati Lor, No 14, Kota, Kudus.

”Motornya dimasukkan saja.” itu kata yang diucapkannya kali pertama saat wartawan Jawa Pos Radar Kudus tiba di kediamannya. Rumahnya adem. Keberadaan taman di samping rumah dengan hiasan tanaman pot yang digantung membuat kediaman Sutarman tampak asri.

”Ayo masuk. Mau tanya apa ini,” lanjutnya. Pada kesempatan itu Mukti yang notabene adalah warga asli Semarang membeberkan perjalanan hidupnya di sebagai penyair. Kegiatan menulis dia mulai sejak 1980. Saat itu dia mengirimkan beragam tulisannya ke surat kabar. Berupa puisi, cerpen, sampai artikel opini.

Sebelumnya, di sekitar 1978 Mukti aktif menulis di organisasi kepenulisan di Semarang. ”Ada komunitas menulis bernama Keluarga Menulis Semarang. Waktu itu, saya tertarik bergabung karena ingin mengasah skill saya,” ungkapnya.

Waktu terus berjalan. Pada 1990 Mukti memutuskan hijrah ke Kudus lantaran alasan pekerjaan sebagai guru. Selain itu, Kudus dirasa pas, karena daerahnya tidak terlalu luas dan tidak begitu ramai. Di Kota Kretek ini, pada 1991 di kediamannya pula Mukti mendirikan Keluarga Penulis Kudus (KPK) bersama penyair Yudi MS yang juga pejuang sastra di Kudus.

Keluarga Penulis Kudus didirikan sebagai wadah bagi penulis di Kudus, agar dapat berkumpul dan diskusi soal sastra. Sampa saat ini, kegiatan tersebut terus berlangsung setiap sebulan sekali. ”Saya suka menulis dan membaca karena saling berkaitan. Bagaimana mau menulis kalau tidak membaca,” terangnya.

Kepada Jawa Pos Radar Kudus Mukti memberikan alasannya memilih genre puisi sebagai jalan hidupnya menekuni dunia sastra. ”Puisi lebih menarik. Susunan katanya ringkas tetapi memiliki banyak makna,” tandasnya.

Penggemar Sapardi Djoko Darmono dan Goenawan Mohammad ini, merasa tertantang menulis puisi lantaran penyampaian kata yang indah dan memiliki banyak makna. Tetapi, penyair mampu menyampaikan kepada publik secara ringkas.

Sejauh ini Mukti telah menulis ratusan puisi. Dia memiliki karya puisi yang dibukukan secara bersama-sama dengan penyair nasional di 30 buku. Sementara yang dia bukukan secara tunggal ada dua buku.

Puisi yang ditulisnya itu, mayoritas bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Seperti puisi tentang takjil, puisi tentang penderitaan yang dialami tetangga, puisi tentang sang istri yang sedang membuatkannya semangkuk kolak, dan masih banyak lagi.

Salah satu puisi yang dikaguminya, adalah ”Doa Mawar Bagi Aisya” yang isinya menceritakan tentang gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB). ”Saya suka puisi yang ini. Seorang gadis kecil memetik setangkai mawar dari kebun luas hatinya. Yang tanahnya bertubi diamuk gempa. Hingga pulau-pulau di Nusa Tenggara Barat,” terangnya.

Beberapa karyanya itu, sering ia bawakan dari panggung ke panggung di Kota Kudus maupun di luar Kudus.

Dia berpesan kepada generasi muda yang ingin mendalami puisi untuk tekun menulis puisi. Sebab, segalanya harus berproses. ”Banyak penyair yang tidak sabar dalam meniti proses, sehingga gagal. Kuncinya harus sabar dalam meniti proses dan membuka diri untuk mengirim karya ke media-media, seperti koran,” imbuhnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia