Selasa, 19 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Grobogan

Dinarpusda Grobogan Mulai Digitalisasi Arsip ke Desa-Desa

14 Juni 2019, 09: 13: 24 WIB | editor : Ali Mustofa

DICANANGKAN: Dinarpusda Grobogan ajarkan masyarakat di Desa Panunggalan,  Kecamatan Pulokulon melakukan digitalisasi arsip.

DICANANGKAN: Dinarpusda Grobogan ajarkan masyarakat di Desa Panunggalan,  Kecamatan Pulokulon melakukan digitalisasi arsip. (INTAN M SABRIN/RADAR KUDUS)

Share this      

GROBOGAN – Arsip milik warga atau desa yang tersimpan di rumah ternyata banyak yang belum dijaga dengan baik. Banyak berkas yang rusak, tak terbaca, termakan rayap hingga hilang. Untuk itu, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Grobogan mengajak perangkat desa melakukan digitalisasi arsip sebagai salah satu bagian dari dokumen negara dan sejarah.

Desa Panunggalan, Kecamatan Pulokulon menjadi pilot project pelaksanaan kegiatan tersebut. CSR dari bank BUMD pun turut membantu. ”Sebelumnya sudah ada penataan arsip di desa-desa. Termasuk di Balai Desa Panunggalan ini. Sekarang kami kembangkan ke digitalisasi untuk desa dan masyarakat, sehingga jika berkas hilang, masih ada back up diaplikasi yang sudah disediakan ini,” jelas Kepala Dinarpusda Grobogan Muryanto melalui Kabid Kearsipan Murdesi.

Menurutnya, banyak data milik masyarakat yang seharusnya disalin secara digital agar tersimpan dengan baik dan mudah dicari. Ini upaya untuk penyelamatan arsip.

”Banyak arsip yang rusak dan hilang. Bahkan, arsip yang tersimpan puluhan tahun itu rapuh. Padahal untuk membuatnya lagi itu susah dan membutuhkan waktu lama,” ujarnya.

Meski ada sebagian yang masih bisa terbaca dan digandakan, namun berkas aslinya tetap diselamatkan. Melalui digitalisasi arsip ini, masyarakat memiliki back up hanya dengan membuka aplikasi melalui aplikasi gawainya masing-masing.

Nantinya, khusus untuk desa digitalisasi yang diajarkan berupa pembuatan file sedangkan masyarakat diajarkan untuk menyimpan dan membuka melalui aplikasi yang sudah disediakan. Harapannya dapat memudahkan masyarakat. Adanya program ini juga mampu mengubah pola pikir masyarakat agar tidak ceroboh dalam mengelola arsip. Buruknya pengelolaan arsip menjadi kendala keterlambatan proses pelayanan.

”Maka kami mulai mengajak perangkat hingga masyarakat sendiri memperhatikan pengelolaan arsip. Pelatihan ini dilakukan selama dua hari yang diikuti kader pendamping hingga masyarakat,” tegasnya.

(ks/int/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia