Rabu, 13 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Hadiri Festival Bulusan, Tamzil Dulang Bulus dengan Lepet dan Kupat

13 Juni 2019, 14: 53: 51 WIB | editor : Ali Mustofa

LOMBAN PRAON: Warga menikmati naik perahu di atas sungai Piji. Tradisi itu merupakan khas dari Desa Kesambi, Mejobo, Kudus yang diadakan setiap tahunnya. Kegiatan itu diadakan bertepatan dengan lebaran ketupan.

LOMBAN PRAON: Warga menikmati naik perahu di atas sungai Piji. Tradisi itu merupakan khas dari Desa Kesambi, Mejobo, Kudus yang diadakan setiap tahunnya. Kegiatan itu diadakan bertepatan dengan lebaran ketupan. (GALIH ERLAMBANG WIRADINATA/ RADAR KUDUS)

Share this      

JEKULO – Kegiatan kupatan di beberapa wilayah Kudus berbeda-beda. Ada Sewu Kupat, Bulusan, hingga Lomban Perahu. Di Bulusan, Bupati,Wakil Bupati Kudus beserta juru kunci makam Mbah Dudo Sirajudin dan Nyai Sudarsih memberi makan bulus-bulus yang dikeramatkan dengan kupat dan lepet kemarin. Hal ini menjadi pemandangan yang menarik dalam puncak perayaan tradisi kupatan berjuluk gebyar festival budaya bulusan 2019. Seakan menyambut baik suapan yang diberikan pejabat daerah, para bulus pun memakannya dengan lahap.

Bupati Kudus Muhammad Tamzil mengatakan, meskipun ada tradisi kupatan ini tidak hanya digelar di Bulusan saja namun pihaknya memang sengaja meluangkan waktu untuk datang ke sini. Ini menjadi bentuk dukungan dari pemerintah daerah dalam menjaga tradisi dan memberi nilai tambah untuk sektor pariwisata.

”Kegiatan ini saya harapkan bisa memberi inspirasi. Bahkan desa sekitar bisa datang. Ini tolong dirawat,” katanya.

LANGGENGKAN TRADISI: Bupati Kudus Muhamamd Tamzil dan Wakil Bupati Kudus Muhammad Hartopo memberi makan bulus yang dikeramatkan dengan kupat dan lepet dalam acara tradisi bulusan kemarin.

LANGGENGKAN TRADISI: Bupati Kudus Muhamamd Tamzil dan Wakil Bupati Kudus Muhammad Hartopo memberi makan bulus yang dikeramatkan dengan kupat dan lepet dalam acara tradisi bulusan kemarin. (DIYAH AYU FITRIYANI/RADAR KUDUS)

Prosesi kirab dimulai sekitar pukul 08.00 sesaat setelah Bupati dan jajarannya hadir di lokasi. Peserta kirab yaang berjumlah ribuan itu berjalan dari SD 4 Hadipolo berjalan ke lokasi sendang sejauh satu kilo meter. Sembilan RT di Dukuh Sumber masing-masing menampilkan kreasinya dengan satu gunungan khas yang diarak.

Kepala Desa Hadipolo Wawan Setiawan mengatakan, untuk kegitan tahunan kali ini pesertanya memang difokuskan untuk warga di Dukuh Sumber. Meskipun begitu tak hanya warga sekitar yang datang untuk menyaksikan.

”Tahun ini lebih meriah. Karena masyarakat antusias mengikuti tradisi ini. Seluruh panitia acara juga dipegang oleh pokdarwis mojobulus yang anggotanya merupakan remaja Desa Hadipolo,” ujarnya.

Sementara itu juru kunci makam Mbah Dudo Sirajudin mengatakan, bulus yang ada diyakini murid dari Mbah Dudo yang disabda Kanjeng Sunan Muria. Mbah Dudo sendiri merupakan leluhur desa tersebut.

”Dipercaya bulus-bulus di desa ini semula berwujud manusia tapi oleh Sunan Muria disabda menjadi bulus. Tak heran jika bulus menjadi ikon dari acara ini,” ungkapnya.

Selain Bulusan, ada juga Lomban Praon. Di Sungai Piji, Mejobo, ribuan warga memadati pinggirin sungai. Masyarakat yang hadir tak ingin melewatkan perayaan lebaran ketupat di Desa Kesambi, Mejobo, Kudus. Mereka ingin merasakan sensasi naik perahu di atas sungai Piji atau sering disebut masyarakat sekitar dengan tradisi Lomban Praon.

Tradisi Lomban Praon juga rutin yang setiap tahunnya digelar oleh pemerintah Desa Kesambi. Acara tersebut diadakan pada pukul 07.00 hingga 17.00. Para masyarakat akan diajak menaiki perahu kecil menyusuri sungai Piji. Kapasitas perahu sendiri mampu memuat 35 hinga 40 orang.

Hanya dengan membayar Rp 10 ribu saja per orang pengunjung akan diajak menikmati sensasi naik perahu di atas sungai Piji selama 10 menit. Selain Lomban Praon panitia juga menyediakan wahana permainan komedi putar dan keliling kampung menggunakan kereta.

Farauk Delliar,25 salah seorang warga yang menaiki sensasi menaiki perahu mengatakan, perayaan tradisi Lomban Praon sangatlah ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Warga bisa menikmati sensasi naik perahu di atas Sungai Piji, yang hanya bisa dilakukan satu tahun sekali saja. ”Tiketnya sangat murah, bisa menjadi hiburan tersendiri bagi warga Kesambi maupun luar Desa Kesambi,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua Karangtaruna Desa Kesambi Dwi Anto Stiawan mengungkapkan, panitia menyediakan dua unit perahu. Perahu itu di datangkan dari Tayu, Pati. Pihaknya menyediakan 2000 tiket untuk warga yang ingin menikmati sensasi naik perahu di atas sungai Piji. (gal)

(ks/daf/mal/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia