Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Features
Ayatullah Humaini, Direktur PDAM Kudus

Pernah Jadi Ojek Online Satu Tahun

13 Juni 2019, 09: 45: 46 WIB | editor : Ali Mustofa

Ayatullah Humaini

Ayatullah Humaini (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Share this      

Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kudus Ayatullah Humaini pernah alami jatuh bangun kehidupan. Ia pernah jatuh. Lantaran dia anggap ada politisasi terhadap dirinya. Dia pernah merasakan jadi pengojek online. Sampai akhirnya dia terpilih jadi Direktur PDAM Kudus.

INDAH SUSANTI, Kudus.

DUDUK santai di ruang tamu yang menyatu dengan ruangan direktur, Ayatullah Humaini bercerita banyak tentang kisah-kisah perjalanan hidupnya. Dari yang merasakan kejayaan hingga sampai keterpurukan karena harus mendekam dalam jeruji besi.

Humaini panggilan akrabnya sesekali membuka handphone. Dia bercerita kisah-kisahnya yang menurutnya sudah digariskan Tuhan Yang Maha Esa.

Dia belum lama dilantik menjadi Direktur PDAM Kudus, namun keinginannya untuk membumikan PDAM sangat kuat. Terlihat dari perkataannya yang memiliki target-target dan gebrakan program baru mengutamakan layanan masyarakat.

Humaini tahu betul seluk beluk PDAM Kudus, sejak 2006 dia sudah bekerja menjadi staf di perusahaan air minum daerah tersebut. Kemudian, karirnya terus meningkat sampai akhirnya dipercaya menjadi asisten direktur. Memegang sekjen pusat Koperasi Karyawan Perusahaan Daerah Air Minum (Puskopam).

”Waktu itu saya membuat program pembiayaan yang memasang PDAM menggunakan leasing sama koperasi. Air merupakan kebutuhan primer sehingga masyarakat semua butuh. Dalam satu tahun mendapatkan empat ribu pemasang PDAM. Bagi saya itu sebuah kesuksesan,” ungkapnya.

Kemudian, Humaini selain berkecimpung di PDAM aktivitas lainnya yakni masuk kedalam organisasi sepak bola. Saking cintanya apapun dilakukan untuk membesarkan sepak bola di Kudus.

”Saya akui separo jiwa di sepak bola. Pada 2010/2011 ditunjuk untuk menangani di Persiku Yunior,” jelasnya.

Ia membuat PT. Dari situlah dia mulai mengorbankan materi, uang pribadi masuk untuk pengurusan membuat PT. ”Sampai tersandung masalah politisasi yang katanya waktu itu uang yang saya gunakan akan diganti, tapi kenyataannya saya terjerumus dalam masalah hukum,” kata Humaini.

Seingat Humaini tersandung masalah hukum 2013. Tahun kelam baginya, harta benda habis, sampai menjual rumah. Tapi, menurutnya ini sebuah ujian, dan Allah mencuci harta bendanya yang mungkin ada yang tidak beres.

Humaini menerima dengan lapang dada dan bersabar. Selama mendekam di penjara ibunya selalu menjenguk. Dia bercerita sambil meneteskan air mata. Mengusapnya menggunakan tisu.

”Saya di dalam penjara berdoa, kalau memang saya masih berguna maka angkatlah derajat saya kalau memang sudah tidak berguna maka cabutlah nyawa saya. Saya terus menyakini kalau nanti bakal ada kehidupan yang lebih baik dan berikhtiar,” terangnya berlinang air mata.

Humaini mengatakan, kasih sayang ibunya benar-benar tulus. Saudara-saudara Humaini juga bergiliran menjenguknya di rutan. Persoalan belum tuntas menimpa dirinya, pada 2015 istri yang disayanginya menggugat cerai. Dengan alasan kehidupannya supaya tenang dan tidak dicecar pertanyaan yang membuatnya tak sanggup menjawab.

Humaini mengabulkan perminataan istrinya untuk menceraikannya, demi psikologis ketiga anaknya yang butuh perhatian. Desember putusan cerai ditetapkan, dan tak lama berselang September 2018 Humaini dinyatakan bebas.

”Waktu saya bebas, dijemput orang tua dan saudara-saudara saya. Benar-benar hanya membawa baju di badan. Sudah tidak memiliki tempat tinggal. Saya ditampung di rumah orang tua, dan merasa merepotkan saya memilih tinggal bersama kakak,” jelasnya.

Humaini tidak mau merepotkan saudaranya. Ia mencari pekerjaan dan ada temannya yang masih baik hati dan mendukungnya meminjamkan mobilnya untuk menjadi sopir online.

”Berangkat subuh pulang tengah malam. Itulah yang saya alami selama satu tahun menjadi sopir online. Alhammdulillah, saya menghasilkan uang Rp 11 juta per bulan. Saya jalani menjadi sopir online sampai 2017,” jelasnya.

Humaini bercerita, langganannya ibu-ibu pejabat di Kudus. Bahkan sampai di Semarang. Dia menambahkan, melayani dengan baik adalah prinsipnya. Sehingga, langganannya cukup banyak.

Humaini tepat 3 Mei 2019 dilantik menjadi Direktur PDAM. Para langganan semasa masih jadi sopir online memberikan selamat ”Sopir saya keren sekarang jadi direktur PDAM” begitulah mereka mengucapkannya.

”Hidup itu perjuangan, dan harus memiliki keyakinan tentunya dengan ikhtiar,” tegas Humaini. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia