Minggu, 17 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Meski Sudah Dilarang, Wisata Perahu Logung Tetap Nekat Beroperasi

13 Juni 2019, 08: 58: 43 WIB | editor : Ali Mustofa

BANDEL: Meskipun sudah jelas dilarang oleh sejulah pihak warga nekat mengoperasikan perahu di Bendungan Logung kemarin.

BANDEL: Meskipun sudah jelas dilarang oleh sejulah pihak warga nekat mengoperasikan perahu di Bendungan Logung kemarin. (DIYAH AYU FITRIYANI/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS – Wisata perahu logung tetap beroperasi, meskipun belum mengantongi izin resmi dari pihak-pihak terkait. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana sebagai pengelola Bendungan Logung dan Pemerintah Daerah hingga aparat kepolisian berulang kali sudah memberikan peringatan terkait bahaya yang mengancam jika mereka tetap nekat. Alih-alih dihiraukan, bahkan pada perayaan kupatan kemarin, wisata baru ini ramai dikunjungi para wisatawan.

Pada perayaan kupatan kemarin wisatawan bahkan datang lebih pagi dari biasanya. Sejak pagi, meraka sudah memenuhi kawasan bibir bendungan. Mereka rela mengantre untuk bisa naik kapal-kapal yang menawarkan jasa berkeliling bendungan yang memiliki kedalaman sekitar 80 meter itu.

Papan larangan yang dipasang oleh pihak pengelola bendungan sama sekali tak dihiraukan oleh pengunjung. Ratusan pengunjung dan puluhan kapal tetap beroperasi dengan santainya. Untuk bisa menikamati jasa berkeliling bendungan dengan menggunakan perahu, wisatawan dipatok Rp 10 ribu untuk anak-anak. Dan Rp 15 ribu untuk dewasa.

Kapolres Kudus AKBP Saptono mengungkapkan, pihaknya telah beberapa kali melakukan koordinasi dengan dengan pemerintah daerah terkait keamanan dan keselamatan para wisatawan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi segala kemungkinan bisa saja terjadi, terutama kemungkinan buruk.

“Kami sudah koordinasikan dengan pemerintah daerah terkait hal ini,” ujar mantan Kapolres Blora itu.

Karena Bendungan logung masih dibawah naungan BBWS Pemali Juwana, pihaknya mengaku tak bisa berbuat banyak terkait dengan fenomena wisata dadakan tersebut. Monitoring secara berkala dan penyampaian himbauan kepada masyarakat akan terus dilakukan.

“Kami hanya mengimbau supaya jangan diteruskan terlebih dahulu, karena itu kan berbahaya,” imbuh Saptono.

Sementara Bupati Kudus Muhamamd Tamzil mengakui jika pihaknya kalah cepat dalam menanggapi femonema ini. Secepatnya, pihaknya akan melaksanakan penataan lokasi dan pelatihan terkait kepariwisataan.

“Akan kami rapatkan segera. Kami upayakan penyesuaian segera supaya tidak terjadi masalah,” kata Tamzil. 

(ks/daf/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia