Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Hesti Prasetya, Perajin Angklung dan Gazebo

Rendam Bahan Satu Bulan di Laut, Pesanan dari Dalam dan Luar Negeri

12 Juni 2019, 09: 18: 34 WIB | editor : Ali Mustofa

KREATIF: Hesti Prasetya saat menunjukkan salah satu angklung buatannya.

KREATIF: Hesti Prasetya saat menunjukkan salah satu angklung buatannya. (FEMI NOVIYANTI/RADAR KUDUS)

Share this      

Di sela-sela aktivitasnya mengajar, Hesti Prasetya tetap mampu berkreasi. Saat ini dia membuat angklung hingga gazebo berbahan bambu yang diminati mulai dari luar daerah hingga luar negeri.

FEMI NOVIYANTI, Radar Kudus

MESKI telah memiliki banyak aktivitas, namun tangan kreatif Hesti Prasetya tak bisa diam. Beberapa tahun terakhir, laki-laki berusia 35 tahun ini membuat beragam kreasi berbahan bambu. Mulai dari angklung hingga gazebo dari bahan bambu.

Pria yang akrab disapa Pras ini menceritakan, dia tinggal di Dukuh Pagrengan, Desa Bandengan, Jepara. Dulunya di wilayah tersebut terdapat banyak jenis bambu.

Sebelum 2010, sebenarnya dia sudah membuat alat musik bambu saat menyelesaikan studinya di pendidikan seni musik UNY. Dia mengangkat alat musik bambu dalam skripsinya. Usai lulus dia kembali ke Jepara dan mengajar di berbagai sekolah.

"Pada 2010 sempat mengajar di SLB N Jepara selama satu tahun. Setelahnya saya keluar, sempat ngejok di gudang sambil ngelesi privat musik selama 3 bulan," katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Suami Anisatun Nihayah ini melanjutkan, dia kemudian dipercaya untuk menjadi guru ekstrakurikuler musik di SMP Negeri 6 Jepara dan SDUT Bumi Kartini Jepara. Dia kemudian menjadi guru di dua sekolah tersebut. "Namun pada 2016 saya memutuskan keluar dari SDUT Bumi Kartini dan fokus mengajar seni musik di SMP N 6 Jepara," terangnya.

Di sela-sela aktivitas mengajar tepatnya 2014 dia membuat alat musik bambu satu set. Alat musik itu kemudian dibuat bermain bersama kelompok musik di lingkungan tempat tinggalnya yakni Carang Pakang. Setelah itu dia mengembangkan dengan membuat angklung. "Namun saat itu belum diproduksi secara massal. Saya juga mencari bambu yang tepat untuk produksi angklung itu," terangnya.

Dua tahun berselang yakni pada 2016 pesanan mulai ramai dari berbagai daerah. Sebagian besar mereka tahu dari postingan media sosialnya yakni FB. "Banyak yang kontak dari luar daerah. Saya tidak menyangka responnya sebagus ini," ujarnya.

Dia menyatakan, biasanya pesanan angklung ramai jelang bulan Agustus. "Karena dipakai untuk kegiatan perayaan mungkin," tuturnya.

Sementara untuk gazebo bambu, Pras menceritakan, mulai ditekuninya setahun terakhir. Awalnya dia hanya membuat gazebo yang kemudian difoto Dan diupload di facebook miliknya. Sebagaimana angklung, respon sangat bagus, banyak yang bertanya dan mulai memesan.

Pesanan pertamanya juga cukup besar. Yakni gazebo berukuran 2x9 meter untuk rumah makan. Setelahnya mulai muncul pesanan-pesanan lainnya. "Banyak juga yang membawa model sendiri," ungkapnya.

Dengan semakin banyaknya pesanan yang datang, dia mengerjakannya dengan beberapa karyawan. Pengerjaannya tergantung ukuran, untuk ukuran kecil bisa diselesaikan satu pekan. Namun untuk ukurannya besar proses penyelesaiannya lebih lama. "Untuk harga sendiri berkisar mulai dari 1,5 juta hingga 13 juta. Tapi tergantung model dan ukurannya juga," jelasnya.

Pada 2018 itu pula pesanan mulai datang dari luar negeri. Pada 2018 lalu, dia menerima pesanan dari Belanda. Itu menjadi pesanan yang cukup membuatnya tertantang. Sebab gazebo yang dipesan berukuran besar dan modelnya khusus dari pembeli. "Gasebo yang bisa bongkar pasang. Posisi besar dan harus bisa masuk kontainer. Setelah sampai Belanda baru dipasang," tuturnya.

Pras menyampaikan, ada pula pesanan dari Italia pesanan dari Italia hingga Suriah. Rata-rata mereka datang langsung ke tempat Pras untuk melihat dan proses produksinya. "Setelah melihat langsung baru deal pemesanan. Mungkin karena setelah melihat langsung mereka lebih yakin," urainya.

Ditanya mengenai kesulitannya, Pras menjelaskan, awalnya dia sempat kesulitan mencari bahan bambu. Namun kini dia telah menemukan pemasok yang tepat berikut jenis bambu yang digunakannya.

Saat ini ayah dari dua anak tersebut menyatakan, dia masih cukup sulit lantaran tidak memiliki tempat untuk perendaman dan penyimpanan bambu yang memadai. Sehingga dia perlu menyewa bak dan merendam bambu-bambunya di laut selama 1 bulan. "Untuk penyimpanan saat ini di halaman rumah. Kurang memadai karena tidak ada tempat khusus yang terhalang dari panas dan hujan," ujarnya.

Namun mengenai proses pengerjaan sendiri Prasengaku, tidak ada kesulitan. Dia justru merasa tertantang ketika ada pemesan yang membawa atau memesan model baru. Sebab dengan begitu dia akan belajar banyak hal baru. "Karena sudah hobi, jadi tidak merasa ada kesulitan. Saat ini selain gazebo banyak pula yang pesan dekor pengantin dari bambu. Bahkan beberapa waktu lalu ada instansi yang memesan dekorasi bambu untuk kegiatan di Pendopo Kabupaten," imbuhnya. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia