Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Features
Grup Li Maa MAN 2 Kudus

Sisihkan 250 Kiriman Video se-Indonesia

04 Juni 2019, 08: 15: 59 WIB | editor : Ali Mustofa

LIMA PERSONEL: Grup Li Maa MAN 2 Kudus bersama Bupati Kudus M Tamzil setelah diumumkan menjadi juara III Aksi Syiar Anak Negeri.

LIMA PERSONEL: Grup Li Maa MAN 2 Kudus bersama Bupati Kudus M Tamzil setelah diumumkan menjadi juara III Aksi Syiar Anak Negeri. (LI MAA MAN 2 KUDUS FOR RADAR KUDUS)

Share this      

Grup Li Maa MAN 2 Kudus berasil meraih juara III kompetisi nasyid dan dakwah program Ramadan di televisi swasta bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). Grup ini, digawangi Tsania Miratush Sholichat, Ridha Aulia Rahmah, Nurul Latifah, Alifia Vitri Ardina, dan Dito Darmawan.

INDAH SUSANTI, Kudus

RABU (29/5) dini hari 2019 grup Li Maa baru sampai di Kudus. Meski tubuh mereka lelah yang tampak dari raut wajah yang lemas dan suara sampai serak, tetap mereka tetap memenuhi kewajibannya sebagai pelajar untuk masuk sekolah.

Grup Li Maa merupakan kelompok nasyid dan dakwah asal MAN 2 Kudus yang digawangi Tsania Miratush Sholichat, Ridha Aulia Rahmah, Nurul Latifah, Alifia Vitri Ardina, dan Dito Darmawan. Sebulan lamanya mereka mengikuti kompetisi bertajuk Syiar Anak Negeri yang diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) RI yang disiarkan langung di salah satu televisi swasta tiap hari Sabtu dan Minggu pukul 20.00 selama Ramadan.

Lima personel grup tersebut, tampak masih lelah dan kurang sehat. Ridha, Latifah, dan Alifia sampai mengalami suara serak serta terserang batuk dan influenza. Sebab, berjuang dari mulai audisi hingga sampai babak final membutuhkan ekstra tenaga.

Seperti yang diceritakan Ridha, membentuk grup Li Maa ini setelah ada dorongan dari pembimbing, Widya Ningrum untuk mengikuti audisi Syiar Anak Negeri. Langsung saja memproses latihan bersama membuat konten, koreo. Lantas grup ini mengirimkan video perdana, terbaru, dan original.

”Informasi yang kami peroleh ada 250 video yang dikirim ke panitia Syiar Anak Negeri dari seluruh Indonesia. Kami mengirimkan video sekitar April lalu,” terangnya.

Kemudian, pertengahan April ada pengumuman untuk mengikuti audisi selanjutnya. Betapa bahagianya, grup Li Maa MAN 2 Kudus masuk 10 besar.

Ridha menuturkan, setelah masuk 10 besar itu, kemudian ikut audisi. Lokasi audisi ada enam kota besar yakni Surabaya, Makasar, Semarang, Bandung, Banjarmasin, dan Medan. Grup Li Maa ikut audisi di Semarang. ”Dari 10 peserta yang terpilih yang mendapatkan golden ticket melaju ke Jakarta hanya dua peserta. Alhammdulillah Li Maa MAN 2 Kudus lolos, bersama dengan Voice of Mandamen MAN 2 Kebumen,” jelasnya.

Setelah dinyatakan lolos, grup Li Maa berangkat ke Jakarta Rabu (1/5). Selama mengikuti kompetisi ini, mereka di karantina sekitar satu bulan. Selama karantina, banyak cerita dan pengalaman menarik yang didapat para peserta.

Tsania mengatakan, waktu karantina tidak diperkenankan membawa ponsel. Ada petugas yang mengumpulkan ponsel. Diizinkan komunikasi dengan ponsel hanya satu pekan sekali. Setiap Jumat sore. Itupun dibatasi hanya satu jam. Kalau ada yang tidak disiplin, seperti telat latihan dan lainnya, maka dikenakan sanski pengurangan 15 menit pada saat mendapatkan kesempatan telepon.

Selama di karantina, mereka berlima juga mengalami sakit yang bergantian. Paling parah tiba-tiba suara habis sehingga untuk bernyanyi butuh tenaga ekstra. Ridha menambahkan, meski tak enak badan kita harus tetap terlihat profesional.

Pengalaman sakit juga dirasakan Dito, cowok satu-satunya di grp Li Maa. Menjelang badannya pentas badannya panas. Dia berupaya bertahan dan diberikan obat oleh penanggung jawab grup sebagai pertolongan pertama.

”Waktu itu pentasnya Sabtu malam. Baru periksa ke klinik Minggu pagi dan malamnya pentas lagi. Sampai saya tidak puasa sehari, agar minum obatnya lebih teratur. Agar performa di atas panggung bisa fit,” terangnya.

Sementara itu, guru pembina grup Li Maa Widya menjelaskan, kesuksesan Li Maa tak lepas dari peran kepala MAN 2 Kudus H Shofi yang selalu memberikan dorongan sepenuhnya. Bahkan beliau selalu ikut menyaksikan langsung dan memberikan semangat kepada grup Li Maa saat pentas.

”Ini sebagai bentuk perhatian kami dalam mengikuti lomba ini. Tujuannya, untuk mensyiarkan Islam melalui musik. Anak-anak yang tergabung dalam grup Li Maa ini merupakan kolaborasi dari beberapa ekstrakulikuler, yakni band, paduan suara, qiro’ah, dan bibit-bibit unggul lainnya,” jelasnya.

Pada saat babak penyisihan, masing-masing peserta diberikan tema dan mencari lagu sendiri sesuai tema yang sudah ditentukan. Namun aransemen musiknya dari panitia. ”Peserta diberikan waktu durasi tiga menit. Ada toleransi 10 hingga 11 detik,” terang Widya.

Betul-betul dikuras tenaga dan pikirannya, tapi hal ini bisa menjadikan pembelajaran kepada anak-anak untuk disiplin. Bahkan, Widya mendengarkan cerita dari mereka, kali pertama tidak diperkenankan memegang ponsel banyak yang menangis. Tapi setelah terbiasa, mereka sudah tidak masalah.

Widya menambahkan, setelah melalui beberapa babak penyisihan, akhirnya grup Li Maa masuk tiga besar dan meraih juara III. Pada saat final, hadir pula Bupati Kudus M Tamzil, kepala kantor wilayah (kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Tengah yang diwakili Taufana Anggraini (kasi Kesiswaan) dan Saefullah sebagai kabid Pendidikan Madrasah, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kudus Suhadi, kepala MAN 2 Kudus Shofi, dan komite sekolah. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia