Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Jepara

Tirakat 40 Hari di Puncak Songolikur, Pemuda Ini Hampir Berujung Maut

Butuh 10 Jam Evakuasi

03 Juni 2019, 12: 46: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

MEDAN BERAT: Tim relawan gabungan mengevakuasi Nur Hasan, 35, yang sudah tiga pekan berada di Puncak Songolikur kemarin malam. Kondisinya lemas karena kekurangan logistik.

MEDAN BERAT: Tim relawan gabungan mengevakuasi Nur Hasan, 35, yang sudah tiga pekan berada di Puncak Songolikur kemarin malam. Kondisinya lemas karena kekurangan logistik. (BPBD JEPARA FOR RADAR KUDUS)

Share this      

JEPARA Nur Hasan, 35, warga Desa Srikandang, Kecamatan Bangsri, Jepara, mencoba bertahan hidup di Puncak Songolikur, Pegunungan Muria. Tujuannya menjalani tirakat selama 40 hari.

Dia sudah tiga pekan terakhir menjalani lakon tersebut. Namun, kondisi kesehatannya semakin memburuk. Akhirnya, relawan dan tim penyelamat gabungan mengevakuasi Nur Hasan kemarin malam (1/6). Butuh waktu 10 jam sejak pemberangkatan tim hingga pemulangan Nur Hasan ke rumah orang tuanya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara Arwin Noor Isdiyanto menjelaskan, Nur Hasan ditemukan di Puncak Songolikur dalam kondisi lemas. Dengan berselimut sarung, dia terbaring di dalam gubuk berukuran dua meter yang dibuatnya sejak pertama tinggal di puncak. ”Kondisinya lunglai, karena kurangnya bahan perbekalan dan logistik untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Oleh warga, korban sudah berusaha dibujuk dan diajak untuk turun. Akan tetapi selalu menolak. Dia bersikeras untuk menyelesaikan tirakatnya. Nur Hasan memiliki nazar untuk tinggal menyepi di Puncak Songolikur sampai 40 hari. ”Daripada terjadi apa-apa akhirnya diberangkatkan tim untuk menjemputnya,” imbuhnya.

Terakhir kondisi survivor (Nur Hasan) diketahui oleh seorang pendaki dan relawan dari Kota Semarang. Karena melihat survivor dalam kondisi lunglai, pendaki dan relawan itu kemudian meminta bantuan BPBD Jepara dan relawan gabungan untuk melakukan upaya evakuasi.

Evakuasi dimulai pukul 16.00 Sabtu (1/6) dengan mengirim tim evakuasi yang terdiri dari tim reaksi cepat dan Satgas BPBD Jepara. Relawan gabungan melakukan pergerakan ke Desa Tempur, Keling, sebagai posko lapangan. Setelah tim berkoordinasi, pukul 19.45 tim evakuasi mulai bergerak ke Puncak Songolikur. Dua jam mendaki, tim sampai di lokasi. Saat ditemukan, survivor yang sedang tidur dalam kondisi lemas.

Setelah dibangunkan, survivor diberi makanan agar kondisinya membaik. Kemudian diminta keterangan tentang identitas dan keluarga. Tim juga melakukan upaya agar survivor bersedia untuk turun gunung.

”Awalnya (survivor) mengaku sebagai An-Nur warga Tayu, Pati. Berdasar keterangan, survivor memiliki keluarga atas nama Masyhudi di Desa Sirahan, Pati,” kata Abdullah Khandik, salah satu tim yang ikut evakuasi.

Berdasar informasi tersebut, tim komunikator yang ada di BPBD Jepara melakukan pencarian informasi sesuai keterangan survivor. Hasil penelusuran kepada Masyhudi, survivor diketahui berasal dari Desa Banjaran, Kecamatan Bangsri, Jepara. Tim reaksi cepat bergegas melakukan pencarian kepada perangkat Desa Banjaran untuk dipertemukan dengan keluarga.

Tim pertama yang sudah ada di Puncak Songolikur disusul tim kedua yang terdiri dari tenaga medis sampai di puncak pukul 22.30. Selanjutnya melakukan upaya evakuasi menuju posko lapangan di Balai Desa Tempur.

Dua jam kemudian, seluruh tim dan survivor sampai di posko lapangan. Selanjutnya dilakukan cek kondisi survivor oleh dokter dari Puskesmas Keling 1. Lewat dini hari, pukul 02.00 survivor dipertemukan dengan ibunya, Mukaromah.

Berdasarkan observasi tim medis, survivor harusnya menjalani rawat inap. Namun survivor menolak, sehingga dikembalikan kepada keluarganya. ”Tim relawan gabungan mengantar sampai di rumah orang tuanya di Dukuh Krajan Tengah, RT 1/RW 2, Desa Srikandang, Bangsri,” terang Arwin.

(ks/war/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia