Rabu, 13 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Theresia Leony, Pengusaha Batik Asal Kudus

Diajari Membuat Garis Lurus dan Titik

03 Juni 2019, 11: 29: 56 WIB | editor : Ali Mustofa

SOSOK INSPIRATIF: Perajin batik asal Kudus memberikan pelatihan membatik bagi para penyandang gangguan jiwa di Bandung.

SOSOK INSPIRATIF: Perajin batik asal Kudus memberikan pelatihan membatik bagi para penyandang gangguan jiwa di Bandung. (GALIH ERLAMBANG WIRADINATA/RADAR KUDUS)

Share this      

Theresia Leony memberikan pelatihan membatik bagi peyandang gangguan jiwa di panti Prima Harapan di Bandung. Lewat kelas itu ia memberikan dampak melatih dan meningkatkan konsentrasi. Mereka diajari membikin garis lurus dan titik.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus

BATIK merupakan budaya asli Indonesia. Kehadirannya di tengah masyarakat bisa diaplikasikan untuk beberapa hal. Mulai dari fashion, tas, kerajinan tangan dan bentuk kerajinan lainnya. Namun di mata Theresia Leony W seorang perajin batik Kudus, lewat batik dirinya bisa memberikan terapi mental kepada para penyandang gangguan jiwa di Bandung.

“Mereka (penyandang gangguan jiwa, Red) jika sedang membatik lebih tenang. Juga tak berteriak-teriak dan brutal,” katanya sambil menunjukan foto dokumentasi pelatihan membatiknya.

There sapaan akrabnya memberikan pelatihan setiap enam bulan sekali. Ia ikut memberikan pelatihan terapi mental lewat batik sejak 2018 lalu sampai sekarang. Dirinya merasa tergugah dan tertantang dengan kegiatannya itu. Bahwasanya, para penyandang gangguan jiwa bisa sembuh dan survive setelah keluar dari rumah binaan.

Pelatihan membatik itu diberikan There di Yayasan Prima Harapan, tepatnya di Jl Ciguruwik KM 3,5 (Terusan Cipadati) Kp Cikoneng III, Desa Ciburu Wetan, Cileunyi, Bandung. Peserta yang ikut dalam kelas membatik itu akan diberikan materi membatik selama tiga hari. Peserta yang mengikuti kelasnya berjumlah puluhan orang.

“Saya di sana mengajar seorang diri. Kuncinya sabar ketika memberikan pelatihan kepada mereka,” ungkapnya.

Para peserta diberikan treatment kesabaran olehnya. There memberikan arahan untuk mencanting garis lurus sejajar. Ataupun membuat titik-titik dengan canting dan malam yang panas. Ia mengatakan, lewat pelatihan membatik itu berdampak kepada penyandang autis, bermanfaat untuk melatih fokus pikiran. Serta bisa memunculkan kepribadian yang unggul.

There yang sehari-hari juga menjalani bisnis batik di rumahnya. Dia mengaku waktu kerjanya tak direnggut oleh kegiatan mengajarnya. Meskipun harus bolak-balik Kudus-Bandung. Dirinya punya prinsip selama ini apa yang didapatnya melalui batik itu serba gratis. Baik dari pelatihan yang diadakan oleh pemerintah hingga manejemen produksi dan promosi. Berangkat dari situlah There beranggapan menularkan ilmu yang didapatnya kepada mereka yang membutuhkan.

“Ilmu yang saya dapatkan itu gratis. Jadi saya juga harus membagikan kepada yang membutuhkan tanpa dipungut biaya,” katanya.

Melalui pemberian pelatihan terapi mental lewat membatik itu, dirinya berharap bisa menumbuhkan kepercayaan diri kepada muridnya. Utamanya, saat para penyandang gangguan sembuh dan keluar dari panti rehabilitasi. Serta bisa mengaplikasikan keterampilan membatik itu di lingkungan masyarakat.

Bekal-bekal itulah yang harus dipunyai oleh penyandang gangguan jiwa. Pasalnya dewasa ini, saat mereka keluar dari panti sering mendapatkan tekanan dari lingkungan sekitar. Bahkan dikucilkan di masyarakat.

“Lewat apa yang saya berikan, akan melatih fokus dan meningkatkan kepercayaan diri mereka,” paparnya.  

Di rumah yang minimalis yang beralamatkan Wijaya Royal Residence Blok F No. 18, Bae, Kudus, There juga membuka rumah produksi dan galeri batik. Tere Batik Kudus yang didirikan dua tahun silam, keberadaannya saat ini mampu menembus pasar nasional.

There memproduksi batik klasik Kudus dan kontemporer. Menurutnya banyak peminat batik Kudus yang sangat menyukai jenis batik klasik. Yang diketahui dengan balutan warna hijau kekuningan. Sementara coraknya seperti, beras tumpah, parijoto, kopi muria hingga burung merak.

“Karya saya saat ini terpajang di bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, ” tuturnya.

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia