Rabu, 13 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Blora

Tak Hanya di Sektor Migas, Ini yang Dilakukan BUMD Dongkrak PAD

01 Juni 2019, 11: 26: 29 WIB | editor : Ali Mustofa

Tak Hanya di Sektor Migas, Ini yang Dilakukan BUMD Dongkrak PAD

BLORA – Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Bl PT Blora Patra Energi (BPE) terus menggenjot berbagai sektor guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tak hanya di sektor migas, BUMD tersebut juga melirik unit usaha bidang lain. Seperti tambang galian C dan sektor jasa transportasi.

Sektor-sektor yang digenjot itu diantaranya seperti KSO Banyubang yang rencananya mulai pengeboran pada Juni 2019, pembelian gas sumur, pembelian truk minyak bumi guna mengkaver KSO, SPBU mini, tambang galian C. Selain  itu, memperuat participating interest (PI) Randugunting dan PI ADK.

Dirut PT BPE, Christian Prasetya megungkapkan, dari modal Pemkab Blora di BPE sebesar Rp 1 miliar, BPE memperoleh laba sekitar Rp 800 juta. Sementara untuk setoran PAD tahun 2019 hasil kerja tahun 2018, sebesar Rp 356 juta.

Dia menambahkan, dari total 267 sumur minyak tua yang dikelola PT BPE, baru 133 sumur minyak tua yang berproduksi. Rinciannya, Lapangan Ledok ada 196 titik sumur (127 titik sumur berproduksi) dan di Lapangan Semanggi sebanyak 71 titik sumur (6 titik sumur berproduksi).

”Produksi ledok tahun 2018 sebanyak 9.290.892 liter. Lalu produksi semanggi tahun 2018 sebesar 368.301 liter,” jelasnya.

Dari jumlah tersebut, BPE bisa memperoleh laba sekitar Rp 800 juta setelah dilakukan audit. Sementara untuk setoran PAD tahun 2019 hasil kerja tahun 2018, sebesar Rp 356 juta. Pihaknya berupaya tahun 2019 ini laba perusahaan bisa mencapai Rp1 miliar, sebagian akan masuk dalam setoran PAD tahun 2020 mendatang. “Kita mengupayakan kenaikan laba setiap tahunnya,” ucapnya.

Menurutnya,rencana laba tersebut, akan dia dapat dari jasa transportasi limbah pada tahun 2019 ini. Sedangkan tahun 2020 mendatang, dimungkinkan pihaknya juga mendapat tambahan dari jual beli gas.

Dalam pengelolaannya, BPE bekerja sama dengan perkumpulan penambang yang ada di wilayah masing-masing. Yaitu dengan sistem bagi hasil sesuai persetujuan bersama. ”Hingga sekarang ini kerja sama itu masih berjalan,” terangnya.

Dia menambahkan, dalam operasinya memang masih ada beberapa kendala. Mulai dari hal teknis seperti casing rusak dan banyak kotoran pada lubang sumur. Ada juga kendala dry hole atau sumur cenderung kering, serta permodalan. Meski begitu, dia megakui produksi minyak yang dihasilkan cukup bagus.

(ks/sub/lid/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia