Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Grobogan

Tepergok Bawa 154,2 Kg Daging Glonggongan, Pedagang Hanya Ditegur

01 Juni 2019, 07: 46: 15 WIB | editor : Ali Mustofa

DISITA: Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Grobogan Riyanto (berpeci) memeriksa daging gelonggongan hasil sitaan dari pedagang daging Boyolali di Pasar Purwodadi.

DISITA: Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Grobogan Riyanto (berpeci) memeriksa daging gelonggongan hasil sitaan dari pedagang daging Boyolali di Pasar Purwodadi. (SIROJUL MUNIR/RADAR KUDUS)

Share this      

GROBOGAN – Tim Yustisi Kesehatan Masyarakat Veteriner Kabupaten Grobogan berhasil mengamankan 154,2 daging sapi glonggongan yang akan dijual di Pasar Pagi Purwodadi. Tim dari Disnakan, Disperindah, Dinkes, Satpol PP, dan Polres Grobogan mengamankan daging sapi dari Boyolali. Akibat Perbuatannya itu pedagang yang diketahui bernama Tari, 45, asal Boyolali hanya dapat teguran.

Daging itu diamankan, ketika Tari masuk ke pasar pagi Purwodadi sekitar pukul 03.00 WIB. Sebelum diamankan, tim Yustisi Kesehatan Masyarakat Veteriner Kabupaten Grobogan telah mencurigai Toyota Hilux AD 1843 HM melaju kencang dari arah Boyolali lewati Jalan Kedungombo, Geyer. Kemudian mobil tersebut masuk ke Pasar Pagi Purwodadi.

”Setelah masuk ke pasar Pagi Purwodadi. Kendaraan kami hentikan dan periksa isi kendaraan. Ternyata berisi daging terindikasi glonggongan,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Grobogan Drh Riyanto di sela-sela meneliti penyitaan daging glonggongan.

Daging sapi terindikasi glonggongan itu, setelah tim melakukan tes cepat kadar air dalam daging tersebut. Hasilnya kadar air di dalam daging itu melebihi batas. Yaitu 80,6 kadar air. Sedangkan batas atas kadar air daging 77. Daging tersebut dipasok dari Kabupaten Boyolali.

”Daging yang diamankan berupa daging bagian paha, dada, tetelan tulang dan jeroan hati. Kadar air daging 80,6 itu tinggi dari batas  atas 77. Karena sudah naik tiga strep itu tinggi,” ujarnya.

Dijelaskan, daging glonggongan bila dikonsumsi oleh manusia akan berbahaya. Di mana daging glonggongan cepat membusuk dan kurang bersih. Sehingga membawa bibit penyakit. Akibatnya bisa mengakibatkan gangguan pencernaan. Selain itu, juga merugikan konsumen karena lakukan manipulasi timbangan.

”Dari segi hukum Islam sesuai fatwa MUI daging glonggongan menjadi haram. Darah yang keluar dari hewan tidak tuntas waktu dipotong,” terang.

Untuk menekan angka penjualan daging glonggongan di pasar Dinas Peternakan dan Perikanan juga lakukan monitoring sejumlah pasar di Kabupaten Grobogan. Hasilnya, beberapa waktu lalu juga menemukan daging terindikasi glonggongan di Pasar Godong sebanyak 7,8 kilogram. Daging tersebut langsung disita dan dimusnahkan.

”Hasil dari razia kami langsung musnahkan ditempat Pemotongan Hewan di Getasrejo Grobogan. Agar tidak disalahgunakan. Pemilik daging juga kami minta menandatangani surat pernyataan tidak menjual daging glonggongan lagi. Harapannya meraka akan jera,” tandasnya.

Riyanto mengimbau kepada warga masyarakat agar tidak tergiur dengan harga murah saat membeli daging. Sebelum membeli harus teliti. Daging yang baik adalah dagingnya segar tidak pucat, tidak beraroma anyir, warna daging merah cerat, kesat atau lebih kenyal kalau dipegang.

”Harga daging di pasar Purwodadi rata-rata harganya Rp 100 ribu sampai Rp 120 ribu. Jadi jika ada yang menjual dibawah Rp 100 ribu perlu diperhatikan,” tambahnya.

(ks/mun/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia