Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Ramadan, Bulannya Perempuan

01 Juni 2019, 07: 02: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

Primi Rohimi, S.Sos., M.S.I.; Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Kudus

Primi Rohimi, S.Sos., M.S.I.; Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Kudus (dok pribadi)

Share this      

BAGI sebagian perempuan, bulan Ramadan adalah bulan yang memerlukan persiapan ekstra. Tentu saja persiapan dalam konteks ibadah. Tapi selain persiapan ibadah, perempuan juga menyiapkan hal-hal lainnya.

Selama Ramadan, perempuan tidak hanya memikirkan dirinya sendiri namun juga keluarganya. Bagi perempuan yang belum berkeluarga pun, tetap memikirkan hal lain di luar dirinya. Perempuan menjadi sangat sibuk di bulan Ramadan.

Ramadan disebut sebagai bulannya perempuan karena sebelum, selama, dan setelah Ramadan, perempuan memiliki peran sentral. Hal ini misalnya bisa dirasakan ketika menyiapkan buka puasa dan sahur, perempuan hampir selalu menjadi subjeknya. Menu buka puasa dan sahur selama sebulan hampir selalu menjadi perbincangan perempuan maupun tema media massa dengan segmentasi khalayak perempuan, baik itu televisi, majalah, tabloid, dan lainnya.

Perempuan juga menjadi guru bagi anak-anaknya dalam pendidikan di bulan Ramadan. Mengajarkan puasa, doa, tilawah, dan sedekah di bulan Ramadan adalah panggilan nurani perempuan. Sebetulnya tugas-tugas tersebut bisa dilakukan oleh para pria. Tapi seperti menguatkan budaya masyarakat Indonesia, iklan-iklan di media massa sering menampilkan narasi para ibu yang mendidik anaknya di bulan Ramadan.

Perempuan memiliki pembahasan tertentu dalam fikih di bulan Ramadan. Ini karena kodrat perempuan yang harus mengalami menstruasi yang berimplikasi pada aktivitasnya di bulan Ramadan. Perempuan yang haid tentu tidak bisa melakukan ibadah yang sama dengan laki-laki. Namun, dalam ilmu fikih, perempuan yang sedang “berhalangan” di bulan Ramadan  masih bisa mendapatkan pahala dengan misalnya membaca referensi/literatur Islam, menghadiri majelis ilmu maupun majelis zikir, dan browsing konten islami di internet.

Selama perempuan haid, zikir adalah ibadah ringan yang boleh dilakukan. zikir setiap saat bahkan bisa saja mengalahkan mereka yang hanya zikir ketika salat. Zikir pun termasuk dengan mengucapkan doa-doa harian dalam segala aktivitas. Berdoa dan mengajarkan doa-doa harian pada anak-anak atau orang-orang sekitarnya pun bisa menjadi ladang pahala bagi perempuan yang sedang haid di bulan Ramadan.

Eksistensi perempuan di bulan Ramadan meskipun tidak bisa puasa bisa dilakukan dengan bersedekah. Sedekah dengan uang maupun benda yang dimiliki. Misalnya menyediakan air minum di pinggir jalan, sandal di masjid, sabun di toilet masjid, dan lainnya.

Meninggalkan puasa Ramadan bagi sebagian perempuan adalah hal yang tidak nyaman karena harus menggantinya setelah Ramadan berlalu. Namun bagi sebagian perempuan lainnya, “libur” puasa justru bisa dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan yang lebih ringan jika dilakukan dalam kondisi bisa makan dan minum sewaktu-waktu. Ada pula perempuan yang demi keutuhan puasa Ramadan rela mengkonsumsi obat penunda haid sehingga bisa beribadah sama dengan para pria.

Kehadiran perempuan dalam berbagai momen ibadah di bulan Ramadan, bisa dilihat pada saat salat tarawih berjamaah, jamaah perempuan hampir selalu lebih banyak dari pada laki-laki. Menjelang akhir Ramadan, jamaah perempuan berkurang banyak, bisa jadi karena memang waktunya datang bulan. Jika awal Ramadan banyak jamaah perempuan sama-sama tidak uzur maka waktunya uzur pun bisa jadi bersamaan di akhir bulan.

Tentu saja ada kemungkinan lain yaitu para perempuan di akhir Ramadan lebih banyak “hadir” di tempat perbelanjaan. Mal, pertokoan, dan pasar di akhir Ramadan penuh sesak dengan para perempuan. Menjelang Ramadan berakhir, perempuan harus mengatur THR suaminya agar cukup untuk sedekah ke sanak saudaranya. Para ibu dan istri sibuk menyiapkan bingkisan kunjungan lebaran maupun hadiah untuk putra putrinya sebagai apresiasi ibadah mereka di bulan Ramadan.

Masih banyak lagi kiprah perempuan di bulan Ramadan yang dilakukan dalam rangka menyemarakkan bulan suci ini meskipun para muslimah tidak sedang dalam keadaan suci karena haid. Intinya perempuan sangat berperan vital di bulan Ramadan. Apresiasi yang tepat dapat menjadikan para perempuan lebih bahagia sehingga insan muttaqin bisa terwujud. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia