Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Rembang

Pemkab Rembang Siapkan Beasiswa Kuliah untuk Lydia Permatasari

31 Mei 2019, 10: 10: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

BERPRESTASI: Bupati Rembang Abdul Hafidz memberikan apresiasi kepada Lydia Permatasari dengan dijanjikan kuliah gratis berkat prestasi yang disabetnya.

BERPRESTASI: Bupati Rembang Abdul Hafidz memberikan apresiasi kepada Lydia Permatasari dengan dijanjikan kuliah gratis berkat prestasi yang disabetnya. (LPAR FOR RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG – Pendidikan yang berkualitas merupakan salah satu kunci bagi anak untuk bisa memiliki masa depan yang lebih cerah. Sayangnya, belum semua anak bisa mendapatkan pendidikan wajib belajar hingga 12 tahun. Terlebih lagi anak perempuan.

Menurut data yang dikeluarkan Unicef, anak perempuan lebih rentan putus sekolah dibandingkan laki-laki. Tujuh dari 10 anak yang putus sekolah merupakan perempuan. Padahal pendidikan punya peran yang sama penting pada anak perempuan maupun laki-laki untuk memiliki masa depan yang lebih cerah.

”Dengan terpenuhinya hak anak perempuan terhadap pendidikan, anak tersebut memiliki kemampuan dan mampu berdaya. Dengan pendidikan yang berkualitas, akan mendorong perkembangan anak, baik sebagai individu maupun sosial-ekonomi. Dengan pendidikan yang berkualitas, diharapkan anak-anak juga terbebas dan terlindungi dari segala bentuk kekerasan, salah satunya perkawinan dini,” kata Rani Hastari, pakar gender dan inklusivitas dari Yayasan Plan International Indonesia.

RA Kartini juga telah sejak lama menabur benih kesetaraan dalam dunia pendidikan melalui surat-suratnya pada sekitar 1900. ”Saya akan mengajar anak-anak saya. Baik laki-laki maupun perempuan untuk saling memandang sebagai makhluk yang sama. Saya akan memberikan pendidikan yang sama kepada mereka, tentu saja menurut bakatnya masing-masing,” demikian kutipan surat RA Kartini pada 23 Agustus 1900.  Benih yang ditaburkan oleh RA Kartini pada ratusan tahun yang lalu itu, telah tumbuh kokoh menjadi perjuangan untuk pendidikan dan kesetaraan anak perempuan.

Salah satunya dilanjutkan oleh Lydia Permatasari, siswi asal Desa Woro, Kecamatan Kragan, Rembang. Lydia merupakan anak ketiga dari pasangan Almarhum Budi Santoso dan Nurul Sholehah.

Perempuan kelahiran 2001 ini, berhasil membuktikan bahwa ketidakmampuan ekonomi bukan menjadi penghalang untuk memperoleh haknya atas pendidikan. Ia berhasil menamatkan pendidikan 12 tahun dengan gelar murid berprestasi.

Lydia pernah meraih prestasi di pencak silat saat SMP dan dilanjutkan panjat tebing saat SMA. Dia kemudian mendapat beasiswa bidikmisi nonakademik sewaktu belajar tiga tahun di SMAN 1 Kragan.

Tidak hanya itu, Lydia juga telah menerima hadiah berupa beasiswa untuk melanjutkan pendidikan selanjutnya ke tingkat universitas dari Bupati Rembang H Abdul Hafidz. Hadiah ini, disampaikan dalam acara ”Semarak HUT SMAN 1 Kragan, Smanekra Bertilawah”. Lydia mengaku sangat senang saat mendapat hadiah tersebut.

Bupati Rembang menyampaikan sendiri hadiah beasiswa tersebut. ”Anak-anakku kita bicara sekolah, kita bicara ilmu. Kalau kita bicara ilmu tidak ada yang membandingi, apalagi harta benda dan jabatan. Tidak ada bandingnya yang namanya ilmu itu. Melebihi segalanya. Jadi kalau bicara hadiah, mobil (nilainya kecil). (Maka) hadiahnya ilmu. Mbak Lydia nanti kalau diterima di perguruan tinggi manapun, akan kami biayai biaya hidup dan kuliahnya, semuanya,” terangnya.

Hak atas pendidikan yang diperoleh Lydia juga hasil perjuangan dari orang-orang dewasa di sekelilingnya. Mereka percaya bahwa pendidikan yang berkualitas merupakan hak anak perempuan.

Pemerintah Desa Woro berkoordinasi dengan Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD) Desa Woro mendata anak-anak dan remaja yang berisiko praktik perkawinan usia dini. Antara lain mereka yang kondisi ekonomi keluarganya lemah, akses ke sekolah jauh, dan lain-lain yang dapat mengancam masa depan anak, khususnya anak perempuan.

”KPAD Woro melakukan upaya advokasi kepada desa dan pihak sekolah, supaya Lydia mendapatkan kemudahan beasiswa di SMAN 1 Kragan. Selanjutnya, dari desa memberikan SKTM yang dijembatani oleh KPAD Woro,” ungkap Didik Dimyati, pendamping desa program Yes I Do dari Lembaga Perlindungan Anak dan Remaja (LPAR).

Program ”Yes I Do” merupakan program pencegahan perkawinan usia anak, kehamilan remaja, dan mutilasi alat kelamin perempuan. Program ini oleh aliansi yang beranggotakan Plan International Indonesia, Rutgers WPF Indonesia, Aliansi Remaja Independen, LPAR, PUPUK, dan PKBI.

”Kami apresiasi adanya KPAD desa, pemerintah desa, pihak sekolah, pemerintah daerah yang mendukung dan peduli terhadap kaum muda. Sehingga semakin banyak anak-anak dan remaja yang dapat mencapai prestasi seperti yang dicapai Lydia, walaupun dengan keterbatasan ekonomi keluarga,” ungkap Didik. (elina mareta)

(ks/noe/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia