Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Agar Tidak Ada Lagi Kaleng Biskuit Isi Kerupuk

27 Mei 2019, 10: 55: 03 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

WARTAWAN yang satu ini nyaris membikin saya kesal. Ketika saya hendak ke rumah kosnya dia bilang tidak di rumah. Lagi bertugas. Maklum. Saya tetap ke rumahnya. Menggunakan petunjuk lokasi di Google Maps yang dia kirim. Titik lokasi ini ternyata jauh dari alamat rumah yang tercatat di kantor. Saya terkecoh.

Alhasil, siang yang panas itu saya gagal bersilaturrahim ke rumah kos wartawan yang bernama Sigit Andrianto. Sabtu lalu saya mengulanginya. Agar tidak keliru saya konfirmasi. Alamatnya dibetulkan beserta petunjuk arah secara manual. Ketemu. Wartawan asli Grobogan itu menunggu di rumah kosnya yang sedang dibangun.

“Tempo hari saya ke Padurenan,” katanya setelah saya menyerahkan parcel kiriman dari kantor Radar Semarang. Kata-kata itulah yang membuat saya nyaris kesal. Padurenan adalah tempat lahir saya. Tempat tinggal saya semasa kecil. Selama bertugas di Radar Kudus, saya juga tinggal di rumah tua itu, sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Kudus.

Sigit tidak memberi tahu kalau akan ke rumah. Dia ke Kudus menggunakan sepeda motor. Sampai di sana tidak bertemu orang yang dicari. Maklum saya jarang di sana. Rumah saya sendiri di Sidoarjo. Belakangan juga sibuk berkeliling ke rumah-rumah karyawan Radar Semarang dan Radar Kudus.

“Saya hanya ingin bersilaturrahim seperti bapak,” katanya dengan tersenyum. Matanya membelalak. Tulang-tulang pipinya menonjol. Badannya yang kurus membuat saya luluh. Saya tidak jadi marah. Ketika ke rumah kosnya kali pertama saya juga tidak memberi tahu. Saya ingin bersilaturrahim apa adanya. Tidak perlu disambut. Toh saya tidak pejabat.

Sejak Selasa (21/5) saya bersilaturrahim ke rumah-rumah karyawan Radar Kudus dan Radar Semarang yang tersebar di 18 kota/kabupaten di Jawa Tengah. Saya setir sendiri mobil. Keluar-masuk gang. Naik-turun kendaraan. Bertanya ke sana-kemari. Tak terhitung salah alamat. Saya catat sudah sekitar 70 jam total perjalanan. Itu belum selesai seluruhnya. Baru 85 titik. Masih sekitar 35 titik lagi.

Saya tidak menargetkan apa-apa. Yang penting sampai di tempat tinggalnya. Bersyukur bertemu keluarganya. Sigit “membalas” saya seperti itu. Yang penting niat tulus. Di situlah kekuatan silaturrahim. Menjalin persaudaraan tanpa dibuat-buat. Seperti orang-orang kampung yang menyuguhkan kaleng biskuit isi kerupuk. Ikhlas apa adanya. Inilah yang membuka rejeki dan mudah-mudahan membuat umur panjang seperti yang diajarkan Nabi Muhammad.

Sudah beberapa tahun saya melakukan hal itu setiap pertengahan sampai akhir Ramadan. Masih banyak orang heran. “Kok bapak sendiri yang mengantarnya,” tanya ayahanda Dwi Rizqi setibanya saya di teras rumahnya. Pertanyaan seperti itu banyak sekali. Saya tidak menjawab. Bagi saya bukan mengantar parcelnya yang penting, tetapi silaturrahimnya.

Baik di Radar Kudus maupun Radar Semarang tradisi kirim parcel memang dihidupkan. Ini hanyalah sarana untuk menjalin silaturrahim. Sarana lain adalah pertemuan keluarga di saat-saat tertentu seperti Lebaran atau ulang tahun perusahaan. Bagi saya ini penting. Saya sadar, roh perusahaan ada pada karyawan. Sedangkan roh karyawan ada pada keluarga.

Parcel yang dikirim ke seluruh karyawan Radar Kudus dan Radar Semarang itu tidak mahal. Karyawan sendiri yang membeli barangnya. Kemudian merangkainya menjadi sebuah parcel yang cantik. Saya menangkap kegembiraan anak-anak begitu menerima parcel itu. ‘’Sudah langsung dibongkar,’’ kata Indah Fajarwati menceritakan parcel yang diterima anaknya. ‘’Parcelnya langsung dieksekusi oleh si bungsu,’’ cerita Slamet melengkapi.

Bingkisan lebaran itu juga sebagai wujud terima kasih kepada keluarga yang selama ini sudah memberikan dukungan penuh kepada karyawan . Berkat mereka jugalah Radar Kudus dan Radar Semarang terus tumbuh seperti sekarang. Alhamdulillah bersamaan dengan beredarnya parcel itu perusahaan juga mengeluarkan THR (tunjangan hari raya) yang sesuai aturan besarnya satu kali gaji.

THR itu sudah disiapkan sejak awal bulan. Tetapi pencairannya menunggu waktu yang tepat. Kalau terlalu awal dikhawatirkan habis sebelum Lebaran. Kalau terlalu mepet dikhawatirkan sudah telanjur stres. Alhamdulillah tanggal 22 Mei lalu sudah dicairkan untuk menambah kebahagiaan di hari raya Idul Fitri. Semoga tidak ada lagi kaleng biskuit yang berisi kerupuk. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia