Selasa, 23 Jul 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Mengenal dan Mengatasi Perilaku Cyberbullying pada Siswa

25 Mei 2019, 09: 55: 32 WIB | editor : Ali Mustofa

Arifatul Ma’rifah, S.Kom; Guru Multimedia SMK Negeri 1 Purwodadi

Arifatul Ma’rifah, S.Kom; Guru Multimedia SMK Negeri 1 Purwodadi (dok pribadi)

Share this      

CYBERBULLYING memiliki kata dasar cyber dan bullying. Cyber merupakan dunia maya atau internet, sedangkan bullying adalah sebuah bentuk perilaku agresif yang terwujud dalam sebuah penyiksaan.

Menurut Willard (2007), definisi cyberbullying merupakan tindakan kejam kepada orang lain dengan mengirim atau memposting materi yang menyinggung, mencela, meremehkan atau terlibat dalam bentuk-bentuk kekejaman sosial lain menggunakan internet atau teknologi digital lainnya secara langsung berulang kali berbentuk pengiriman pesan ofensif.

Kaspersky membagi tindakan ini menjadi beberapa bentuk yakni Exlusion, tindakan mengucilkan seseorang dari pergaulan daring. Kemudian Outing, tindakan mempermalukan korban secara aktif di muka umum. Lalu, Cyberstalking, tindakan mengintip dan mengikuti aktifitas daring korban. Fraping, tindakan mencuri akun media sosil korban dan memposting konten tak pantas seakan-akan si korban yang melakukan.

Selanjutnya, Dissing, tindakan pengiriman informasi yang buruk sekali dengan tujuan untuk merusak reputasi korban. Selanjutnya, Trickery, tindakan memposting hal-hal rahasia seseorang ke publik. Trolling memposting tulisan yang bertujuan memprovokasi dan memancing emosi para penggguna internet lain terhadap korban dan Body Shaming, tindakan mengolok-olok bagian tubuh tertentu korban. Sengaja atau tidak pasti kita pernah melakukan intimadasi dunia maya.

Faktor-faktor yang memengaruhi cyberbullying adalah intimidasi tradisional, karakteristik kepribadian, persepsi terhadap korban, dan peran interaksi orangtua dan anak. Sebuah penelitian tahun 2017 oleh mahasiswa melalui tesisnya dengan judul “Hubungan antara extraversion dan secure attachment dengan perilaku cyberbullying pada remaja sekolah menengah pertama” diketahui bahwa terdapat hubungan antara intimidasi dunia maya dengan extraversion.

Menurut Costa & McCrae, extraversion menjadi salah satu dimensi kepribadian untuk menilai kuantitas dan intensitas interaksi interpersonal, level aktivitas, kebutuhan untuk didukung, kemampuan untuk berbahagia (Jhon, Robins & Pervin, 2008). 

Inilah yang menyebabkan banyak dari kita membuat postingan status agar ”dianggap” orang lain ada. Keberadaan diri di tengah lingkungan sekitar khususnya dunia maya hendaknya tidak merugikan orang lain.

Siswa termasuk kategori yang rentan menjadi pelaku dan korban cyberbullying. Jumlah kasus pendidikan di KPAI per 31 Mei tahun ini mencapai 161 kasus. Dimana terdapat 33 kasus pada siswa. Ketidaktahuan dan pemahaman yang rendah terhadap cyberbullying bisa jadi salah satu faktornya.

Yang harus dilakukan adalah menjadi warganegara digital yang baik. Membatasi penggunaan internet dan percaya diri. Orang tua juga memiliki peran untuk mengawasi dengan mendampingi anak ketika mengakses internet, mengarahkan anaknya dengan memberi contoh bagaimana menggunakan internet secara positif.

Lingungan sekolah juga digalakkan untuk mencegah terjadinya tindakan ini antara lain guru dapat membimbing siswa dengan menambah pengetahuan dan kesadaran siswa mengenai dampak negatif dari perilaku cyberbullying, pemanfaatan jam bimbingan konseling bagi siswa yang memiliki tingkat kepribadian rendah serta melakukan sosialisasi dalam rangka pencegahan terjadinya perilaku cyberbullying. 

Generasi milenial memang tak bisa dilepaskan dari teknologi. Media daring dan gawai merupakan keseharian murid di lingkungan sekolah. Pelarangan penggunaan gawai terkadang justru membuat mereka sembunyi-sembunyi membawanya. Jika di jam sekolah hal ini dapat di atasi dengan membatasi penggunaan gawai saat KBM, namun tindakan pencegahan ini juga harus didukung oleh orang tua selama siswa berada di lingkungan rumah. Kekompakan antara guru selama di sekolah dan orang tua selama di rumah terhadap penggunaan gawai akan dapat mengurangi cyberbullying. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia