Jumat, 20 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Kawah Candradimuka di Bulan Ramadan

23 Mei 2019, 15: 58: 01 WIB | editor : Ali Mustofa

Rusnoto, SKM, M.Kes (Epid); Rektor Universitas Muhammadiyah Kudus (Umku)

Rusnoto, SKM, M.Kes (Epid); Rektor Universitas Muhammadiyah Kudus (Umku) (dok pribadi)

Share this      

BULAN Ramadan diartikan oleh mayoritas muslim sebagai bulan penuh berkah, maghfirah (pengampunan dosa), dan ‘itqun min annar (terhindar dari api neraka). Beberapa ustad menambahkan, Ramadan sebagai bulan penuh diskon. Pahala di dalamnya dapat berpuluh kali lipat; salat sunnah disamakan dengan pahala salat wajib, salat wajib berjamaah diganjarkan dengan 70 kali pahala biasa, iktikaf di masjid, zikir, sedekah, dan semua perbuatan baik mendapatkan kalian lipatan di dalamnya.

Sebuah hadis sahih yang diriwayatkan Tirmidzi bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”Barang siapa yang puasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan ketakwaan, akan diampuni segala dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang."

Ramadan merupakan kawah candradimuka bagi seluruh umat Islam yang bermakna proses pembiasaan diri untuk salat berjamaah, berbuat baik, iktikaf, sedekah, dan lain sebagainya, sehingga setiap ritual keagamaan dalam Islam memiliki makna di balik setiap tuntunan dan panutan, bersifat logis bukan primitif. Dan lebih dalam, ibadah yang paling khas di bulan Ramadan adalah puasa yang dilaksanakan selama satu bulan di bulan Ramadan.

Puasa yang dilaksankan di bulan Ramadan diharapkan akan membuahkan pengalaman rohani, berupa kesadaran ketuhanan dan merupakan puncak pengalaman rohani yang harus dicapai oleh setiap orang yang berpuasa. Dengan puasa, maka kita akan mengalami kesadaran akan hadirnya Allah dalam setiap dimensi kehidupan kapan pun, di mana pun dan dalam kondisi bagaimanapun.

Inilah yang dinamakan oleh Rasulullah SAW sebagai puncak kebajikan atau lkhsan. Beliau menyampaikan hal ini dalam sabdanya yang popular: ”Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. " (HR Muslim)

Dengan demikian, untuk mencapai kesadaran ketuhanan, diperlukan sebuah proses yang dinamakan spiritual exercise atau latihan rohaniah yang akan membuahkan pengalaman transendental, berupa kesadaran jiwa. Bahwa Allah senantiasa menemani kita. ”Dan DIA bersama kamu di mana saja kamu berada dan Allah maha melihat apa yang kamu kerjakan. "(QS. Al-Hadid: 4)

Puasa yang kita jalani di bulan Ramadan ini, merupakan kawah candradimuka atau arena latihan jiwa yang akan mengantarkan kita mencapai level kesadaran ketuhanan. Salah satu alasannya, karena ibadah puasa merupakan ibadah yang sangat pribadi dan rahasia yang langsung berhubungan dengan Allah. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah menyatakan.”Segala amalan anak Adam adalah kepunyaan mereka, kecuali puasa, karena puasa adalah kepunyaan-Ku dan Akulah yang akan manilainya langsung. " (HR Muttafaq 'Alaih)

Melalui hadis Qudsi itu, dapat kita maknai bahwa ibadah puasa memiliki makna yang sangat rahasia yang hanya diketahui oleh Allah dan kita. Dalam bahasa yang sederhana, puasa mendidik kita untuk menyadari siapa hakikat lingkungan kita. Maka hikmah yang bisa dipetik dari ibadah puasa di bulan Ramadan adalah: 1) Ibadah puasa di bulan Ramadan, bukan hanya mampu mengantarkan kita menyadari keagungan bulan Ramadan, tapi juga dapat membawa kita menyadari makna hakikat persaudaraan dan menumbuhkan kesadaran ketuhanan dalam relung-relung kalbu kita.

2) Ibadah puasa bukan hanya dapat menjadi kawah candradimuka spiritual bagi penundukan hawa nafsu, tapi juga sebagai sarana untuk mendidik keikhlasan dalam hati atau jiwa kita.

3) Ibadah puasa bukan hanya sebagai wahana yang dapat mengobati berbagai penyakit kronis hati kita, seperti riya, takabur, rakus, dengki, dan pengikis penyakit cinta dunia yang berlebihan (hubbud dunya), tapi juga mampu membawa pencerahan spiritual bagaimana kita bersikap secara tepat ketika mendapat kenikmatan dan ujian atau ketika tengah menunaikan ketaatan.

4) Ibadah puasa tidak hanya bermanfaat sebagai benteng bagi orang-orang beriman dari berbagai tipu daya setan. Tapi, juga mampu menumbuhkan kesalehan sosial, mengembalikan kemurnian fitrah kita, sekaligus mengingatkan kita mengenai fenomena kematian. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia