Senin, 17 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Features
Muhammad Syukron, Kaligrafer Asal Kudus

Menulis Harus dalam Keadaan Suci

22 Mei 2019, 13: 50: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

DIBANTU KACA PEMBESAR: Muhammad Syukron sedang menulis Qiroati di kediamannya kemarin. Dia pernah menulis Alquran untuk percetakan.

DIBANTU KACA PEMBESAR: Muhammad Syukron sedang menulis Qiroati di kediamannya kemarin. Dia pernah menulis Alquran untuk percetakan. (DONNY SETIAWAN/RADAR KUDUS)

KABUPATEN Kudus sudah dikenal menjadi kota pencetak kaligrafer andal. Banyak yang belajar di kota ini, hingga menjadi kaligrafer kelas nasional bahkan internasional. Di Kudus sendiri, juga banyak khattat (kaligrafer) kelas dunia. Di antaranya ada almarhum M Noor Aufa Shiddiq, Muhammad Syukron, Muhammad Assiry, M Turmudzi, dan lain sebagainya.

Namun, dari banyaknya kaligrafer tak banyak yang menulis mushaf Alquran. Baik untuk percetakan untuk tujuan penggandaan kitab suci atau untuk membuat Alquran raksasa. Di antara kaligrafer yang ”langka” itu, ada Muhammad Syukron. Dia telah menulis Alquran untuk percetakan Menara Kudus. Satu lagi, almarhum M Noor Aufa Shiddiq menulis Alquran full ukuran raksasa yang saat ini berada di Masjid Agung Kudus.

Jawa Pos Radar Kudus berkesempatan menemui Muhammad Syukron di rumahnya RT 1/RW 3, Desa Krandon, Kecamatan Kota, Kudus. Saat menyambangi kediamannya, sangat terasa artistik berhias kaligrafi Arab dan alat tulis.

TUNJUKKAN KARYA: Syukron menunjukkan kaligrafi karyanya.

TUNJUKKAN KARYA: Syukron menunjukkan kaligrafi karyanya. (DOK PRIBADI FOR RADAR KUDUS)

Di antaranya pena-pena klasik bertangkai bambu tertata di kaleng bekas permen. Sepertinya semua sudah disiapkan Muhammad Syukron untuk menunjang pekerjaannya dalam menggoreskan tinta di atas media kertas. Ada pena handam dengan panjang sekitar 20 sentimeter. Ada juga pen cekrek model tahun 70-an.

Masing-masing pena memiliki fungsi tersendiri. Terutama untuk panjang, pendek, tebal, dan tipis setiap huruf hijaiyah yang ia goreskan. Cara menggunakannya pun masih klasik. Dengan mencelupkan ujung pena ke dalam tinta. Lalu ditorehkan di atas media tulis.

Hasilnya pun tak kalah cantik dengan cetakan printer. Rapi, jelas, dan tertata. Tak heran jika Syukron diberi amanah menulis Alquran di percetakan Menara Kudus. Ia memang spesialis kaligrafi naskhi (naskah). Dalam menulis ayat-ayat Alquran ia juga mengikuti kaidah-kaidah tertentu dalam penulisan.

Syukron berkesempatan menulis Alquran 13 juz. Ia selesaikan dalam waktu 1,5 tahun. Ia memang diminta menulis. Namun, hingga sampai juz 13 ia diminta untuk berhenti menulis oleh pihak percetakan. Dengan alasan konsultan di percetakan masih menelaah rumusan cara menulis Alquran yang tepat.

”Karena masih ada perubahan-perubahan (rumusan penulisan) akhirnya saya diminta berhenti. Contohnya saat menulis tanda sukun. Masih dikaji tiga bentuk. Bentuk bundar bolong, bundar buntet, dan tidak setengah lingkaran lancip. Mungkin dikaji agar saat membaca lebih enak yang mana,” ujarnya.

Dia menjelaskan, ketika menulis ia pun menghafalkan rumusan-rumusan dari konsultan percetakan tersebut. Sebab, setiap tanda baca memiliki tajwid yang berbeda. ”Dalam sehari saya bisa menulis Alquran sekitar delapan jam. Masuk pukul 07.00 hingga 17.00. Dengan waktu segitu, saya bisa memperoleh dua lembar,” terangnya.

Dia menerangkan langkah-langkah menulis Alquran agar sesuai desain yang sudah diinginkan. Sebelum menulis, ia membuat sketsa terlebih dahulu menggunakan pensil. Kemudian, sketsa itu ditumpuk kertas baru. Lalu mulai ditulis menggunakan pensil klasik dengan tinta. Proses menulis dilakukan di meja kaca yang diberi lampu di bawahnya. Tujuannya, agar sketsa terlihat lebih transparan di kertas baru. Ukuran kertas untuk menulis seukuran kertas HVS A4.

Dalam menulis sketsa juga perlu kehati-hatian. Panjang-pendek lengkungan, kemiringan, serta harakat wajib diperhatikan.

Selain itu, yang juga sangat penting dia harus menjaga kesucian badan. Sebelum menulis, ia terlebih dahulu wudu. Agar keadaan suci tetap terjaga. Kemudian setiap batal, harus kembali berwudu.

”Selain agar mendapatkan berkah, saat menulis Alquran juga sekaligus memegang mushaf dan membaca Alquran. Jadi harus dalam keaadan punya wudu. Berbeda dengan saat membuat kaligrafi ayat-ayat Alquran untuk tujuan hiasan, itu tidak harus wudu. Karena tujuannya untuk hiasan,” jelasnya.

Ia menambahkan, selain berwudu, salat sebelum menulis juga penting. Seperti Salat Dhuha dan Tahajud. Hal ini dimaksudkan diberi kelancaran.

Selain itu, ia juga tidak mengangkat beban yang terlalu berat. Karena bisa membuat tangan gemetar yang mempengaruhi kehalusan tulisan. Padahal untuk menulis Alquran harus dalam kondisi relaks. ”Memegang kamera yang ukurannya agak besar pun mengkhawatirkan,” ujarnya.

Dia menambahkan, dari tulisan tangannya itu kemudian di-scan. Selanjutnya dicetak menjadi Alquran. (vah)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia