Senin, 17 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Features
Muhammad Syukron, Kaligrafer Asal Kudus

Berangkat Haji Berkat Piawai Kaligrafi

22 Mei 2019, 13: 37: 39 WIB | editor : Ali Mustofa

TADARUS SAAT RAMADAN: Qori' sedang membawa Alquran raksasa yang ditulis kaligrafer KH Noor Aufa Shiddiq.

TADARUS SAAT RAMADAN: Qori' sedang membawa Alquran raksasa yang ditulis kaligrafer KH Noor Aufa Shiddiq. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

LAMPU belajar yang ada di meja kerjanya dihidupkan. Lampu neon putih itu pun sontak memancar terang menyorot tepat di atas sketsa naskah kaligrafi karya Muhammad Syukron. Lampu yang ada di bawah meja kaca berukuran sekitar 1,5x1 meter itu juga dinyalakan. Sketsa kaligrafi tadi dilapisi selembar kertas baru di atasnya. Lalu dijepit menggunakan penjepit kertas. Agar stabil. Sketsa tadi terlihat lebih transparan setelah disorot lampu.

Di meja kerjanya juga ada kaca pembesar. Sebagai alat finishing. Untuk melihat hasil karyanya lebih cermat. Saat ini, Syukron sedang mengerjakan Qiroati, sebagai buku latihan membaca tulisan arab bagi anak-anak.

Tulisannya begitu indah. Jelas dibaca serta presisi jika dipandang. Lengkungan huruf nun, kaf, dan goresan harokat terlihat artistik.

JURI KALIGRAFI: Syukron saat menjadi juri lomba kaligrafi

JURI KALIGRAFI: Syukron saat menjadi juri lomba kaligrafi (DOK PRIBADI FOR RADAR KUDUS)

Hal ini wajar saja. Jika melihat track record Syukron yang berkecimpung di dunia kaligrafi sejak masih duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI).

Semasa kecil, pria kelahiran 5 November 1973 ini memang hobi menulis. Lalu, ia juga mengikuti pelajaran kaligrafi di sekolahnya, MI Qudsiyah sekitar 1980-an. Hingga ia mahir dan sering mengikuti berbagai lomba. Bahkan sampai menjadi juara. Dari situlah ia tambah senang dengan dunia kaligrafi. Bahkan pena Parker, pena pertama saat awal belajar kaligrafi masih ia simpan hingga sekarang.

Ia juga salah satu murid dari KH Noor Aufa Shiddiq, tokoh kaligrafer yang juga menulis Alquran raksasa yang ada di Masjid Agung Kabupaten Kudus saat ini.

Semakin digeluti semakin meraih sederet prestasi. Berbagai kejuaraan berhasil disabet. Seperti juara I lomba remaja di Istiqlal pada 1991 dan juara I lomba kaligrafi di Riau. Bahkan, saat berkompetisi di Riau itu, ia mendapatkan hadiah haji.

Tak hanya tingkat nasional. Lomba tingkat internasional di Brunai Darussalam pada 1996 juga pernah diikuti. Ia pun berhasil menyabet juara III.

Tak tanggung-tanggung, kompetitornya banyak yang belajar sampai ke Mesir. Tetapi alumni MA Qudsiyah ini, berhasil menunjukkan bahwa orang Kudus juga memiliki daya saing. Lomba ini menjadi yang paling berkesan baginya.

Kaligrafi memang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Sehari-hari ia kerap bergelut di dunia seni menulis indah huruf arab ini. Bapak tiga orang anak ini, mengajar kaligrafi di MAN 1 Kudus.

Ia juga membuka kursus kaligrafi yang diberi nama ”Menara Kilat”. Yang didirikan pada 1991. Hingga saat ini sudah ada sekitar 700 siswa yang sudah belajar padanya. Kelas dibuka setiap Jumat. Sesi pertama pukul 14.00-15.00. Sesi ke dua pukul 16.00-17.00.

”Ada (salah satu siswa, Red) yang menjadi juara I Jawa tengah kategori naskah,” ungkapnya.

Selain sibuk di kaligrafi, pria berkacamata ini juga menjadi muazin di Masjid Al Aqsha Menara Kudus. Selain itu ia juga menjadi qori’. (vah)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia