Rabu, 13 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Membangun Tradisi Dakwah

21 Mei 2019, 14: 08: 08 WIB | editor : Ali Mustofa

Dr. H. Abdul Karim, M.Pd.; Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Kudus

Dr. H. Abdul Karim, M.Pd.; Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Kudus (dok pribadi)

Share this      

MENJAWAB pertanyaan bagaimana membangun tradisi dakwah, mengingatkan pada model dakwah yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Pendekatan pendampingan dalam mengisi muatan agama pada kegiatan ritual masyarakat yang belum memeluk Islam pada saat itu, menjadi salah satu bentuk strategi dakwah yang dilakukan Kanjeng Sunan (nama panggilan yang biasa dipakai untuk menyebut Wali Sembilan). Kebiasaan upacara ritual masyarakat pada saat memulai tanam dan akan panen padi dengan jalan “mengheningkan cipta” seraya berdoa, menjadi momentum Kanjeng Sunan untuk mengisi doa-doa yang bernuansa Islami. Masyarakat merasakan lebih nyaman dan sama sekali tidak mengurangi apa lagi menghilangkan tradisi yang telah mereka rintis sebelumnya. Secara Sosiologis Antropologis, telah terjadi proses Islamisasi tradisi atas dasar perubahan orientasi selanjutnya menumbuh-kembangkan perubahan orientasi tradisi membentuk budaya baru.

Sesungguhnya proses perubahan dalam pandangan antropologi, jika melibatkan unsur agama dan keyakinan, sulit untuk dilakukan bahkan tidak jarang menimbulkan konflik apabila mungkin bisa dilakukan. Namun kenyataannya bisa terjadi, hal ini menunjukkan bahwa, pertama: proses internalisasi nilai-nilai spiritual tidak menimbulkan goncangan psikis, yang terjadi adalah proses pergeseran sikap yang linier dari destinasi akidah mereka ke dalam akidah Islam. Inilah yang menjadikan mengapa dakwah Islamiyah para Kanjeng Sunan nyaris tidak menimbulkan konflik sosial.

Kedua, proses membangun budaya lebih menekankan sikap mengalir untuk mengikuti gerakan budaya warga yang ada. Hanya saja pada saat-saat tertentu, dimana terdapat ungkapan kata ataupun perasaan yang bernada pada orientasi ketuhanan, saat itu pula segera dialihkan pada perilaku ketauhidan yang benar menurut ajaran Islam.

Ketiga, dampak yang ditimbulkan menunjukkan pada sikap lebih menerima ketimbang perasaan yang telah dialami sebelumnya. Hal tersebut dapat dilihat dari rasa puas yang ditunjukkan oleh sikap dan perilaku serta ketenangan jiwa melalui interaksi sosial serta curahan perasaan kepada teman lain. Hal ini menjadi bukti bahwa Islam membawa kedamaian.

Menyinggung Islam berkembang di bumi Indonesia, tidak bisa terlepas dari kegiatan dakwah yang menggunakan dua pendekatan. Pertama, pendekatan tekstual, yang lebih menekankan pada pemahaman makna dari tafsir ayat-ayat Alquran dan Hadits, berikut jabarannya ke dalam contoh-contoh yang mengambil dari fakta-fakta kehidupan. Cara ini dimaksudkan agar kemurnian ajaran Alquran dan Hadits dapat dipertahankan, tidak gampang dibawa ke hal-hal yang berbau khurafat, bidah, atau lainnya.

Kedua, pendekatan kontekstual, langkah ini dilakukan dengan memberikan makna dan pemahaman baik Alquran maupun Hadis berikut hasil ijtihad para Sahabat, dengan menghubungkan persoalan nyata di masyarakat termasuk berbagai tradisi masyarakat yang telah berkembang menurut keyakinan mereka.

Argumentasi pendekatan kontekstual dalam berdakwah, merujuk pada kenyataan bahwa wahyu (Alquran atau Hadis) turun diawali dengan “kejadian-kejadian” tertentu yang lazim disebut sebagai asbab al Nuzul untuk Alquran dan asbab al Wurud untuk mengawali turunnya Hadis Nabi. Ini dimaksudkan bahwa wahyu datang tidaklah berdiri sendiri tanpa tendensi nilai yang melingkupi. Artinya, keberadaan wahyu senantiasa memberi manfaat bagi kehidupan umat lantaran turunnya senantiasa ada ‘konteks’ dengan kepentingan umat.

Hal ini menunjukkan bahwa pintu masuk untuk “meng-Islamkan” tradisi dari yang bersifat sekuler tanpa mengenal nilai agama menjadi bernuansa agama, merupakan keberhasilan dakwah yang telah membawa perubahan besar bagi kehidupan umat ke depan. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia