Kamis, 21 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Rembang

Tujuh Prinsip Kesejahteraan Bangsa Jadi Pesan Waisak

20 Mei 2019, 13: 52: 54 WIB | editor : Ali Mustofa

PROSESI DOA: Banthe Piyadiro memercikkan air suci kepada umat Buddha saat perayaan Waisak di Vihara Ratanavana Arama, Desa Sendangcoyo, Lasem, Rembang, kemarin.

PROSESI DOA: Banthe Piyadiro memercikkan air suci kepada umat Buddha saat perayaan Waisak di Vihara Ratanavana Arama, Desa Sendangcoyo, Lasem, Rembang, kemarin. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

REMBANG – Perayaan Hari Trisuci Waisak 2563/2019 di Vihara Ratanavana Arama, Desa Sendangcoyo, Kecamatan Lasem, Rembang, berlangsung khusyuk kemarin. Prosesi peringatan hari suci ini, dimulai sejak Sabtu petang dan berakhir kemarin pagi. Umat Buddha pun semalam suntuk tirakatan dalam rangka menyambut detik-detik Waisak yang jatuh pada pukul 04.11 pagi kemarin.

Sebelum prosesi doa di Vihara Ratanavana Arama, umat terlebih dulu melakukan arak-arakan dari Cetiya Widyaloka atau vihara kecil di Dukuh Kebon, Desa Sendangcoyo, sejak sekitar pukul 19.00. Arak-arakan berakhir di Candi Sudhammo Mahathera di Dukuh Tluweng, Desa Sendangcoyo, setelah menempuh jarak sekitar 4 km dengan durasi sekitar dua jam. Candi itu berada satu kompleks dengan Vihara Ratanavana Arama.

Dalam pawai yang disebut sebagai prosesi jalan kaki itu, umat membawa puja seperti rupang Buddha, gua gunungan, stupa, buah-buahan, lilin, hio, makanan, dan lain sebagainya.

PROSESI TERAKHIR: Narti, ketua Wandani Kabupaten Kudus memotong tumpeng sebagai prosesi terakhir perayaan Waisak di Vihara Narada, Desa Rahtawu, Gebog, Kudus, kemarin.

PROSESI TERAKHIR: Narti, ketua Wandani Kabupaten Kudus memotong tumpeng sebagai prosesi terakhir perayaan Waisak di Vihara Narada, Desa Rahtawu, Gebog, Kudus, kemarin. (GALIH ERLAMBANG WIRADINATA/RADAR KUDUS)

Banthe Piyadiro mengungkapkan, prosesi pawai tersebut sebagai pengingat kepada guru agung umat Buddha. Sebab, dalam ajaran disebut yang patut dihormati adalah berkah utama. Salah satu caranya adalah memberi penghormatan. Selama perjalanan pawai itu, umat mendaraskan doa.

”Kami berdoa, meditasi, menyambut Waisak juga ada acara melekan, dan prihatin. Sampai pagi. Tidak hanya pesta-pesta, makan-makan. Sesungguhnya kami ada acara lain yang berguna dan bermanfaat. Memaknai dengan tirakat,” tutur Banthe Piyadiro.

Selain umat dari Desa Sendangcoyo, Banthe Piyadiro menyatakan, perayaan yang berakhir di vihara ini, juga dihadiri umat dari Desa Pandangan, Kecamatan Kragan, Rembang, bahkan dari Jepara. Khusus untuk arak-arakan, sejumlah umat Islam dan agama lain juga turut memeriahkan.

Banthe Piyadoro menambahkan, perayaan Trisuci Waisak tahun ini lebih meriah dan lebih sakral. Sebab, dari tahun ke tahun menjadi pengalaman tersendiri untuk lebih diperbaiki lagi di tahun berikutnya.

”Lebih khusuk, lebih lengkap. Peralatannya lebih banyak. Tahun kemarin patungnya digotong empat orang, semalam pakai mobil. Kasihan. Selain itu, gunungan yang berupa hasil bumi dan makanan juga dinaikkan mobil. Yang stupa, relik, digotong manusia,” terangnya.

Ada beberapa pesan Waisak 2563 BE/2019 sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Yakni bahwasanya kerukunan hidup menjadi kebutuhan bersama. Hal penting untuk mencapai tujuan mulia itu adalah dengan mengembangkan sikap saling asih, asah, dan asuh.

Selain itu, momen Waisak tahun ini juga menekankan tujuh prinsip kesejahteraan bangsa. Yakni sering melakukan pertemuan teratur; bertemu, berpisah, serta melakukan kegiatan-kegiatan dengan rukun; tidak melakukan apa yang belum pernah ditetapkan; tidak melalaikan apa yang telah ditetapkan; dan tetap berjalan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan bersama.

Lalu, memuliakan dan menghormat para sesepuh serta menganggap mereka patut didengarkan petunjuknya, memuliakan dan menghormati para perempuan (isteri dan anak perempuan), memuliakan dan mendukung keberadaan tempat-tempat ibadah, serta memuliakan dan memberikan tempat bagi kehadiran orang-orang suci. Prinsip-prinsip sosial itu dipercaya menjadi hal yang menentukan bagi kemajuan suatu bangsa.

Perayaan Waisak di Kudus, di antaranya dilaksanakan di ketinggian 500 mdpl di Desa Rahtawu, Gebog. Puluhan umat khusyuk bersembayang di Vihara Narada.

Vihara Narada berlokasi di tengah-tengah permukiman warga. Di bawah kaki Gunung Muria.  Jalan yang sempit dan menanjak harus dilalui jika ingin mencapai ke tempat peribadatan tersebut. Dari Balai Desa Rahtawu hanya butuh 15 menit.

Kegitan di Vihara Narada pada Sabtu malam (18/05) sudah melaksanakan ritual puja bakti pelimpahan jasa. Lalu, pada esok harinya dilanjutkan dengan tiga rangkaian ritual keagamaan. Yakni puja bakti, pelepasan burung, dan pemotongan tumpeng. Prosesi itu diikuti sekitar 40 orang. Mereka warga asli Desa Rahtawu. Rangkaian ibadah itu dimulai pukul 11.00.

Menurut Narti, ketua Wandani Kabupaten Kudus, ketiga prosesi ibadah itu sudah menjadi ritual yang wajib diikuti seluruh umat Buddha. Sebab, memiliki makna mendalam. Prosesi pemotongan tumpeng dimaknai sebagai wujud mensyukuri apapun yang diberikan bumi kepada umat. Sehinngga umat bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sedangkan melepaskan burung atau mahluk itu berarti mencintai perihal kehidupan.

Pada Waisak 2563 BE/2019 diharapkan bisa menjaga kesatuan dan persatuan sesama bangsa Indonesia. Juga membuat rakyat tenteram, aman, dan tak merasa takut jika berpergian kemana pun.

Sementara itu, Satyanto, warga RT 2/RW 1, Desa Rahtawu, mengaku, setiap tahunnya mengikuti peribadatan di Vihara Narada. Ia berharap pada Waisak tahun ini Indonesia bisa lebih bahagia dan damai.

Prosesi kegiatan berakhir pukul 11.30. Setelah melaksanakan pemotongan tumpeng, para jamaat berdoa kepada Buddha. Mereka bersujud di depan patung Buddha berwarna emas. Kebersamaan umat juga terlihat ketika mereka foto dan makan siang bersama setelah menyelesaikan rangkaian ibadah. (gal)

(ks/ful/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia