Selasa, 25 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Hukum & Kriminal

Terduga Teroris Asal Kudus Terendus Pernah Latihan Fisik di Grobogan

16 Mei 2019, 14: 24: 36 WIB | editor : Ali Mustofa

SEDIH: Aqil Faruqudin adik dari terduga teroris Ulil Albab menceritakan kronologis penangkapan kakaknya di rumah Desa Pasuruhan Kidul, Kaliwungu, Kudus, kemarin.

SEDIH: Aqil Faruqudin adik dari terduga teroris Ulil Albab menceritakan kronologis penangkapan kakaknya di rumah Desa Pasuruhan Kidul, Kaliwungu, Kudus, kemarin. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

KUDUS – Terduga Teroris Ahmad Ulul Albab, 24, asal RT 7/RW III, Dukuh Kauman, Desa Prambatan Kidul, Kaliwungu Kudus, diduga pernah latihan fisik di Grobogan. Aktivitasnya itu terendus pihak Densus 88 Anti Teror Mabes Polri.

Cerita ini diungkap adik pelaku terduga teroris Aqil Faruqudin saat ditemui di kediamannya RT 07/RW 03, Dukuh Kauman, Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. ”Pas kemarin (Selasa pagi, (14/5)) Mas Abad (panggilan akrab Ahmad Ulul Albab, Red) dibawa itu tidak ada penjelasan apa-apa. Kami juga tidak tahu alasan penangkapannya apa. Baru semalam dua anggota Polda Jateng datang bawa surat penangkapan,” ungkap Aqil.

Dua petugas dari Polda Jateng mendatangi rumah pelaku terduga teroris yang sebelumnya sudah diciduk tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri Selasa (14/5) malam. Kedatangan dua polisi pada malam hari di hari yang sama bermaksud memberikan surat penangkapan seorang laki-laki bernama Ahmad Ulul Albab, 24. Tak hanya itu, mereka juga membawa sebuah handphone milik pelaku yang diserahkan pihak keluarga.

”Kata polisi yang datang, pas Mas Abad ke sana pakai motor Jupiter MX. Pas pulang dibuntuti sampai rumah. Jadi tahu alamat ini ya dari pembuntutan itu,” katanya.

Sebelum dua anggota Polda datang ke rumahnya, ia mengatakan Abad sempat menelpon keluarga. Dalam telepon itu, ia hanya mau bicara dengan ibunya. Pria yang pernah mondok di Ponpes Al Mutaqin Sowan Kidul Kabupaten Jepara itu mengabarkan kondisinya baik-baik saja. Ia meminta pihak keluarga tidak perlu mengkhawatirkannya.

”Pas telepon bilang ke ibu, saya di sini baik-baik saja gak usah khawatir. Dan berpesan handphone Samsung J2 diminta untuk diberikan kepada petugas yang datang,” ujarnya.

Selain alasan penangkapan dan meminta handphone diserahkan, petugas kepolisian itu tidak bicara banyak. Mereka pun tak mengizinkan titipan keluarga untuk Abad. Saat itu keluarga berniat untuk titip pakaian ganti untuk anaknya yang sudah dibawa tanpa sepengetahuannya itu.

Dengan raut wajah sedikit mengingat kejadian Selasa (14/5) pagi lalu, bocah yang baru dinyatakan lulus dari bangku SMA itu kembali bercerita kronologis penangkapan anak ketiga pasangan Muslih dan Ngatini Dwi Purwati. Ia tak tahu persis kejadiannya. Sebab saat itu ia masih tidur.

Saat itu sekitar pukul 07.00, Abad, dan ibunya masih tertidur di rumah. Karena ada pelanggan yang mau beli ikan cupang, akhirnya ibu meminta Abad untuk keluar melayani. Tiba-tiba saat ia dibangunkan ibunya, kakaknya sudah hilang.

Menurut cerita yang didapat dari pelanggan yang menjadi saksi mata penangkapan, pagi itu tiba-tiba ada sekitar enam orang memakai jaket hitam dan muka ditutup masker datang. Tak banyak tanya, mereka hanya memberi satu pertanyaan.

”Yang namanya Abad mana? Lalu Mas Abad jawab saya. Seketika itu langsung dipegang dan dibawa ke mobil,” katanya.

Dari kesaksian pelanggan, saat itu kakaknya mau pamitan. Namun tidak diperbolehkan. Dan langsung digelandang menuju mobil sampil dipegang erat. Pelanggan pun memberitahu ibunya. Ibunya menangis setelah menyadari anaknya dibawa orang keluar.

”Masmu masmu digowo wong,” katanya sambil menirukan suara ibunya saat membangunkannya.

Sehari-hari, Abad yang merupakan lulusan Fakultas Tarbiyah Kampus Darul Ulum Jogjakarta itu terkenal pendiam. Tak banyak cerita terkait aktivitasnya yang dibagikan kepada keluarga. Termasuk ketika pergi ke Grobogan. Setelah lulus kuliah, ia sempat mengajar di Riau selama sekitar tiga tahun.

”Pas saya kelas X pulang, sampai kemarin ya di rumah,” imbuhnya.

Dengan dibantu adik-adiknya, ia mengembangkan usaha pengembangbiakan dan jual beli ikan cupang. Usaha ini disebut sudah berjalan sekitar sembilan bulan. Sebelumnya, Abad berjualan baju di Purwodadi bersama teman-temanya.

”Mas Abad itu pendiam dan tertutup. Kalau keluar hanya untuk kulakan. Biasanya banyak teman yang main ke sini tapi saya tidak tau siapa mereka,” tutupnya.

Sementara Kepala Desa Prambatan Lor Kasmari membenarkan tentang kejadian penangkapan salah satu warganya. Meskipun ia mengaku tak tahu menahu tentang penangkapan salah satu warganya sebelumnya. Ia baru tahu saat pihaknya didatangi pihak Polres Kudus.

”Sekitar pukul 11.30 ada anggota Polres kesini melakukan pengecekan. Kami baru tahu dari situ,” katanya.

(ks/daf/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia