Selasa, 25 Jun 2019
radarkudus
icon featured
Features
Farren Federika, Peraih Nilai 100 UNBK 2019

Tertarik Mendalami sejak Nilainya Jeblok saat SD

16 Mei 2019, 13: 03: 09 WIB | editor : Ali Mustofa

BERPRESTASI: Siswa SMAN 1 Jepara Farren Federika (kiri) peraih nilai sempurna UNBK 2019 pada dua mata pelajaran bersama Waka Kurikulum SMAN 1 Jepara Suharyono kemarin.

BERPRESTASI: Siswa SMAN 1 Jepara Farren Federika (kiri) peraih nilai sempurna UNBK 2019 pada dua mata pelajaran bersama Waka Kurikulum SMAN 1 Jepara Suharyono kemarin. (M. KHOIRUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

Pada UNBK 2019 ini, Farren Federika meraih nilai 100 pada mata pelajaran bahasa Inggris dan Perancis. Padahal, hal ini tak pernah dibayangkan sebelumnya. Sebab, ia sempat ragu dengan jawaban dari soal yang dikerjakan.

M. KHOIRUL ANWAR, Jepara

SATU bandel kertas ada di genggaman Farren Federika, siswi SMAN 1 Jepara. Duduk satu kursi bersama Waka Kurikulum SMAN 1 Jepara Suharyono, ia mencari namanya dalam bandel kertas itu. Kertas itu berisi daftar nilai siswa SMAN 1 Jepara hasil ujian nasional berbasis komputer (UNBK) 2019.

Beberapa saat kemudian, ia berhasil menemukan namanya yang terdaftar sebagai peserta UNBK. Nilainya pun bisa diketahui. Dari daftar nilai itu, diketahui dia menjadi satu-satunya siswa yang meraih nilai 100 di dua mata pelajaran sekaligus. Meskipun ada belasan siswa lain yang dapat nilai 100. Tapi hanya di satu mata pelajaran saja.

Gadis kelahiran Jakarta, 1 April 2001 ini, memilih jurusan bahasa di SMAN 1 Jepara. Ada empat mata pelajaran yang harus dikerjakan pada UNBK. Masing-masing bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris, dan mata pelajaran pilihan. Farren -sapaan akrabnya- memilih bahasa Perancis sebagai mata pelajaran pilihan UNBK.

Hasilnya, nilai mata pelajaran bahasa Inggris dan Perancis meraih nilai sempurna, 100. Sedangkan mata pelajaran matematika ia meraih nilai 64,5 dan 84 untuk mata pelajaran bahasa Indonesia.

”Tidak ada target nilai sempurna sebenarnya. Kaget juga lihat hasil UNBK. Tapi puji Tuhan, ini perlu disyukuri,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Tak heran jika ia kaget dengan hasil itu. Sebab, selama try out ujian, ia belum pernah mendapatkan hasil sempurna. Nilai tertinggi bahasa Inggris saat try out 90. Bahkan, saat mengerjakan soal, Farren sempat ragu dengan jawaban di beberapa soal.

Dia mengaku, baik di mata pelajaran bahasa Inggris maupaun Perancis ada kesulitan saat menganalisa soal persamaan dan lawan kata. Karena belum pernah menjumpai soal serupa pada latihan soal sebelumnya.

”Jadi, ada kosa kata yang baru saya jumpai. Tapi dari deskripsi soal saya mencoba menelaah. Terlepas dari benar atau salahnya jawaban, saya yakinkan diri untuk menjawab soal sesuai dengan analisis saya,” kata gadis yang beralamat di RT 1/RW 3, Desa Ngabul, Tahunan, Jepara, ini.

Selain itu juga ada soal conclusion. Yakni soal yang memaparkan sebuah paragraf. Siswa diharuskan mampu menyimpulkan isi dari paragraf tersebut. ”Bahasa itu soalnya mengecoh. Jadi agak ragu. Karena tidak ada rumus pastinya,” tuturnya.

Namun akhirnya, soal yang ia anggap sulit itu dikerjakannya dengan tepat. Sehingga nilai bahasa Perancis dan Inggris pada UNBK 2019 meraih nilai sempurna.

Saat ditanya ketertarikannya dengan bahasa, ia mengaku, mempelajari bahasa Inggris justru berawal dari nilai pelajarannya yang jeblok saat masih duduk di bangku SD. Nilai harian dan semesteran sering di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Kemudian ia diikutkan les bahasa Inggris oleh orang tuanya.

Sejak saat itu, ia tertarik belajar bahasa Inggris. Ketertarikannya dengan bahasa asing, ia kembangkan dengan seringnya menonton film luar negeri. Sambil memperhatikan alur cerita dan dialog, juga memahami arti dari subtitle. Dengan kebiasaan itu, mulai dari pengucapan, kosa kata, dan arti dari dialog di film menjadi pelajaran berharga sebagai bekal berbahasa asing.

Bahkan, ia memanfaatkan teknologi media sosial untuk berkomunikasi dengan orang asing. Pembiasaan-pembiasaan itu, menurutnya mampu menambah kosa kata dan wawasan berbahasa asing.

”Belajar itu tidak melulu dari buku. Harus improvisasi. Apa yang sudah dicintai, dalam hal ini berbahasa asing ya harus ditekuni. Apapun dilakukan untuk meningkatkan kompetensi berbahasa asing,” tutur siswa yang ingin meneruskan kuliah di Jurusan Sastra Bahasa Inggris, Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, ini. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia