Minggu, 15 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Kuota Nanggung, Nasib Siswa Baru Tunggu Dapodik

15 Mei 2019, 13: 12: 11 WIB | editor : Ali Mustofa

PANTAU: Seorang orang tua bersama anaknya memantau papan pengumuman sistem PPDB di SDN IV Kutoharjo Rembang, Senin lalu.

PANTAU: Seorang orang tua bersama anaknya memantau papan pengumuman sistem PPDB di SDN IV Kutoharjo Rembang, Senin lalu. (WISNU AJI/RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SD memasuki hari kedua. Dari 374 SD di wilayah Kabupaten Rembang sebagian besar sekolah pendaftar melebihi kuota. Namun begitu, angkanya nanggung atau masih di bawah standar pendidikan yang ditentukan.

Sementara fakta di lapangan lokasi sekolah jauh kanan dan kiri siswa. Sehingga jadi persoalan orang tua. Solusinya agar mereka tetap tertampung, mau atau tidak harus pindah di sekolah lain.

Praktis hari terakhir atau ketiga Rabu ini (15/5) akan ramai. Karena banyak siswa berebut mencari sekolah lain agar tetap ter-cover. Karena jika tidak ter-input lewat sistem Dapodik (Data Pokok Pendidikan), mereka tidak mendapatkan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN).

 Kabid Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang M. Basroh menyampaikan hari kedua belum ada laporan masuk sekolah yang masih belum mendapatkan murid. Sebaliknya justru sebagian besar sudah melebihi kuota.

”Artinya sarplas yang memiliki satu kelas. Sesuai standar pendidikan kapasitas 28 siswa. Sementara ada sekolah yang melebihi sampai 32 hingga 36 siswa,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus, kemarin (14/5).

Kondisi semacam ini kerap kali dikonsultasikan. Karena banyak dari kepala sekolah yang bingung menyikapi kelebihan kuota. Dikarenakan ada sebagian orang tua bersikukuh, agar anaknya tetap bisa masuk sekolah yang dituju.

Terkait pertanyaan semacam ini ia tidak dapat menjawab pasti. Karena permasalahannya langsung dengan aplikasi Dapodik (Data Pokok Pendidikan). Sehingga kalau acuannya langsung aplikasi tidak dapat ditawar.

”Sampai hari Selasa belum launching Dapodik. Sehingga kita belum mengetahui secara pasti, pastinya yang lebih dari 28 siswa. Mungkin lebih dua atau tiga pasti sudah masuk zona merah,” terangnya.

Menurutnya, tahun lalu kondisi semacam ini pernah terjadi. Yakni, kuota lebih dua sampai tiga anak dapat ditampung atau semacam warning. Demikian dikhawatirkan tahun ini harga mati. Karena semua belum mengetahui detailnya.

Sehingga saat ada sekolah menjumpai kasus semacam itu diberikan masukan. Pihak kepala sekolah diminta menjalin komunikasi dengan orang tua siswa. Bahkan, orang tua siswa diminta membuat surat pernyataan.

”Kalau tetap bersikukuh harus diterima, bahasa spekulasi. Artinya, setelah di ranking sesuai umur, kalau 32 anak berarti empat anak posisi ranking paling bawah. Inilah yang harus ditekankan,” jelasnya.

Lepas kuota nanggung, ditanya kemungkinan soal sekolah yang muridnya sedikit kemungkinan besar tetap ada. Hal tersebut, terjadi tidak lebih dari 20 persen. Kebanyakan ini terjadi di daerah pegunungan, seperti Pamotan maupun Gunem.

”Saat ini masih jalan. Kalau kurang dari 20 orang hanya satu rombel tidak masalah. Mungkin hanya 10 atau 11 siswa tetap jalan. Tetapi yang harus minimal 20 dibuat rombel lebih dari satu,” katanya.

(ks/noe/ali/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia