Minggu, 15 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Features
Muhammad Sukarno, Seniman Lukis Asal Kudus

Pernah Nyantrik dari Affandi, Lukisannya Ditawar Rp 60 Juta

15 Mei 2019, 10: 22: 17 WIB | editor : Ali Mustofa

PAMERAN: Muhammad Sukarno menunjukkan karyanya saat pameran lukisan di pendapa baru-baru ini

PAMERAN: Muhammad Sukarno menunjukkan karyanya saat pameran lukisan di pendapa baru-baru ini (DONI SETIAWAN/RADAR KUDUS)

Share this      

Muhammad Sukarno menjadi salah satu pelukis yang karyanya dipamerkan di Pendapa Kabupaten Kudus belum lama ini. Di antara lukisannya ada yang ditawar hingga Rp 60 juta.

VACHRI RINALDY LUTFIPAMBUDI, Kudus

JENENGAN (kamu, Red) cenderung suka warna apa?” tanya Muhammad Sukarno kepada Jawa Pos Radar Kudus. ”Yang keemas-emasan,” jawab wartawan koran ini. ”Itu berarti jenengan suka pada semua orang yang jujur,” tebaknya.

”Ini hukum filsafat seni tentang warna. Saya belajar dari pak Affandi,” imbuhnya saat menjelaskan lukisannya di pameran yang digelar di Pendapa Kabupaten Kudus baru-baru ini.

Perpaduan warna membuat suasana kanvas tampak hidup. Kesan timbul juga menambah gambar terlihat nyata. Berbagai macam lukisan dijajar rapi. Mulai dari gambar alam hingga kehidupan. Semua itu merupakan torehan dari tangan Muhammad Sukarno, guru SMPN 2 Gebog yang dipajang dalam pameran.

Sukarno memang hobi melukis sejak kecil. Bahkan kawan-kawannya dibuat minder jika harus bertanding dengannya. Bahkan lukisan sejak masa SMP masih ia simpan hingga sekarang. Ia memberikan nama lukisan itu bunga malam. Sayangnya, saat Jawa Pos Radar Kudus mengunjungi pamerannya, lukisan itu tidak dibawa.

”Itu untuk pertama kali. Bunga malam. Nanti saya ambil,” ujarnya.

Bakatnya itu, sepertinya terus ia kembangkan. Mulai dari SD, SMP, dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Jika sekarang, setara SMA. Pria kelahiran Kudus, 20 September 1962 ini pun melanjutkan studinya ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jogjakarta. Atau sekarang lebih dikenal Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Tak hanya belajar di bangku universitas. Sukarno juga menyempatkan diri untuk nyantrik (membantu) di tempat pelukis ternama Indonesia. Seperti Affandi.

Lukisannya ada yang ditawar hingga Rp 60 juta. Yang membuat mahal adakah teknik dalam melukis. Salah satunya kanvas yang Sukarno gunakan memang dibuat khusus. Kanvas itu ia buat sendiri. Satu kanvas memakan biaya Rp 5 juta. Hal itu karena campuran bahan-bahan kimia untuk kanvas. Sehingga tekstur kanvas menjadi timbul dan cenderung kasar.

”Begitu disemprotkan cat sudah membentuk. Ini saya diajari Pak Affandi. Diajari membuat kanvas,” kata alumni fakultas pendidikan seni rupa ini.

Selain itu, figura lukisan juga ia ukir sendiri. Ukirannya pun terlihat rapi. Tekstur lekukan halus. Warna coklatnya begitu mengkilat. Para pembeli pun ada yang sampai datang ke Besito, rumahnya. Karena ia juga mendirikan sanggar.

Ia melukis hampir setiap hari. Setelah habis Isya, satu lukisan bisa menghabiskan waktu sekitar enam jam. Tak jarang ia pun diprotes istri tercinta karena terlalu sibuk menggambar. Lukisannya ini sudah dipasarkan hingga luar daerah. Seperti Bandung dan Surabaya. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia