Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Rembang
Mbah Sambu, Penyebar Islam di Lasem

Tumpas Perompak, Dihadiahi Tanah Perdikan

15 Mei 2019, 09: 21: 27 WIB | editor : Ali Mustofa

UNIK: Makam Sayyid Abdurrahman Basayaiban (Mbah Sambu) ditutup dengan kijing beraksitektur khas Samarkand.

UNIK: Makam Sayyid Abdurrahman Basayaiban (Mbah Sambu) ditutup dengan kijing beraksitektur khas Samarkand. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

Share this      

KEBERHASILAN Sayyid Abdurrahman Basayaiban atau Mbah Sambu menumpas perompak, membuat Adipati Lasem Tejakusuma I atau Mbah Srimpet memberi hadiah. Berupa tanah perdikan di wilayah Kauman, Lasem. Tanah itulah yang diantaranya kini di atasnya berdiri Masjid Jami’ Lasem.

Berdasarkan penuturan Abdullah Hamid, salah satu Pengelola Masjid Jami’ Lasem, terdapat dua versi sejarah asal usul Mbah Sambu. Versi pertama menyebut, Mbah Sambu merupakan putra Pangeran Benowo, sekaligus cucu Joko Tingkir alias Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang. Sedangkan, versi kedua menyatakan Mbah Sambu berasal dari Samarkand atau yang kini dikenal sebagai Uzbekistan, sebagaimana asal Wali Songo pada umumnya.  ”Tetapi lebih kuat versi Joko Tingkir,” kata dia saat ditemui kemarin.

Adapun kedatangan Mbah Sambu ke Lasem, yakni karena permintaan Adipati Lasem Tejakusuma I alias Mbah Srimpet untuk membantu menyebarkan agama Islam. Hal itu mengingat wilayah kekuasaan Lasem ketika itu cukup luas. Yakni mencakup Pati, Jepara, Rembang, Tuban, bahkan Sedayu Gresik. Sehingga, membutuhkan tokoh yang mumpuni.

Dalam suatu kisah diceritakan, Lasem pernah menghadapi gangguan keamanan yang meresahkan masyarakat dari perompak. Setelah sejumlah orang gagal membasminya, Mbah Sambu pun tampil. Dengan ilmu kanuragan yang dimiliki, Mbah Sambu akhirnya mampu mengatasinya hingga Lasem kembali tentram.

”Atas jasa tersebutlah Adipati Lasem memberikan perdikan kampung Kauman kepada Mbah Sambu. Tanah itulah yang kini menjadi tempat berdirinya Masjid Jami’ Lasem ini,” tambah Abdullah.

Tanah perdikan yang diberikan, kata Abdullah berdasarkan penuturan Mbah Makmur Nadzir Masjid dan Mbah Habib Ridwan yang merupakan sesepuh NU, sesunggunya lebih luas dari kampung Kauman hari ini.

Mbah Sambu wafat sekitar tahun 1671 dengan meninggalkan tokoh besar di tanah Jawa. Banyak pendiri Ponpes di Jawa dan Lasem sendiri merupakan keturunan Mbah Sambu. Makamnya yang dikijing menyerupai kubah berwarna emas memiliki arsitektur khas Samarkand. Hal itulah yang membuat Mbah Sambu diduga juga berasal dari daerah tersebut.

”Kijing berarsitektur Samarkand ini masih asli. Yang diubah di luar kijing ini, misalnya di atasnya, langit-langit itu baru,” terangnya.

(ks/ful/lid/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia