Minggu, 15 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Generasi Milenial Menyikapi Hasil Pemilu

14 Mei 2019, 15: 45: 34 WIB | editor : Ali Mustofa

Grace Rose Marry Yohanes; Siswa SMA Kolese Loyola

Grace Rose Marry Yohanes; Siswa SMA Kolese Loyola (DOK PRIBADI)

Share this      

PERTAMA kali dalam sejarah. Pemilu di Indonesia diadakan serentak. Pemilu serentak itu telah dilaksanakan 17 April 2019 kemarin. Tidak hanya untuk memilih calon presiden-wakil presiden, namun juga anggota legislatifnya.

Untuk itu, pemilu kali ini mendapat antusias dari seluruh masyarakat Indonesia. Baik yang tua maupun muda. Semua berpartisipasi di dalamnya. Hasil dari pemilu serentak akan diumumkan paling lambat 22 Mei 2019 mendatang. Hingga saat ini, penghitungan resmi dari KPU masih terus berjalan.

Mendekati hari pengumuman, opini publik masih terus berkembang. Selama hasil yang resmi belum diturunkan, keriuhan antar pihak tentu akan tetap ada. Banyak berita-berita yang beredar di berbagai media sosial tentang kerusuhan penyelenggaraan pemilu.

Video-video mengenai kecurangan pemilu bermunculan. Mulai kotak suara yang dibakar, surat suara yang telah dicoblos. Selain itu, banyak orang yang tidak mendapat hak suaranya, serta berbagai bentuk provokasi lain telah beredar luas di masyarakat.

Banyak pihak yang berasumsi bahwa pemilu kali ini tidak berjalan dengan baik serta penuh kecurangan. Padahal, secara garis besar pemilu serentak kali ini berjalan dengan transparan, serta sesuai prinsip-prinsip demokratis yaitu jujur dan adil. Walaupun ada hal-hal yang perlu dievaluasi oleh pemerintah terkait pelaksanaan pemilu serentak.

Kemunculan hal-hal provokatif di masyarakat dapat membentuk persepsi publik yang seolah-olah menyatakan, kekacauan dalam skala besar terjadi pada negara ini karena ketidakpuasan pihak yang diduga bakal kalah. Padahal, sejauh ini kondisi nasional masih dalam keadaan normal. Sehingga tentu menjadi keprihatinan bagi banyak orang.

Pihak yang dalam statementnya malah membakar dan memprovokasi masyarakat ini telah melakukan tindakan-tindakan yang tidak mengakomodir nalar dan intelektual dalam berdemokrasi.

Tujuan pemilu sendiri adalah memberi kesempatan kepada pemilih untuk lakukan penilaian. Apakah kinerja pimpinan kita atau wakil kita di pemerintahan sudah bekerja dengan baik atau belum.

Setelah hasil pemilu ditetapkan, harapannya yang menang bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Sedangkan yang kalah bisa menerima keputusan yang ada dengan lapang dada. Setelah pemilu selesai diselenggarakan, kita sebagai masyarakat Indonesia sudah seharusnya lebih menjunjung persatuan dan kesatuan.

Perbedaan pilihan dan pandangan politik adalah sebuah dinamika pendewasaan demokrasi. Masing-masing akan diuji ketika yang menang mampu berbuat bijak dan yang kalah mampu berlapang dada. Jika ada rasa ketidakadilan dalam pemilu pun, pemenuhan rasa keadilan dalam prosesnya bisa ditempuh dengan jalan konstitusional.

Sebagai generasi muda yang hidup di Indonesia, sudah menjadi keharusan untuk mencintai negara kita. Generasi milenial, yang mana dicirikan sebagai kaum muda, pengguna aktif internet dan media sosial, sudah seharusnya terus mampu merajut persatuan dan kesatuan Indonesia. Yaitu dengan tidak ikut memprovokasi serta menimbulkan keresahan dalam media sosial.

Tantangan demi tantangan akan selalu ada kedepannya. Namun, segala perbedaan baik perbedaan pandangan, pendapat, pilihan dan budaya, bukanlah penghalang kita untuk bersatu dan maju.

Jadi, sebagai anak muda, kita harus berani menyuarakan toleransi, persatuan dan kesatuan serta menolak radikalisme di lingkungan kita dan sudah saatnya kita beraksi dengan melakukan hal-hal yang positif. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia