Minggu, 15 Sep 2019
radarkudus
icon featured
Pati

Makam Mbah Cungrung Jadi Tempat Kenduri Nazar

14 Mei 2019, 13: 37: 22 WIB | editor : Ali Mustofa

MASJID TERTUA: Masjid Baiturrohim termasuk masjid tertua di Pati, bahkan lebih dahulu ketimbang masjid agung.

MASJID TERTUA: Masjid Baiturrohim termasuk masjid tertua di Pati, bahkan lebih dahulu ketimbang masjid agung. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Share this      

SEORANG penjaga Masjid Baiturrohim langsung menyapa kedatangan wartawan Jawa Pos Radar Kudus dengan sebuah pertanyaan. ”Duwe hajat opo mas (punya hajat apa mas, Red),” tanya penjaga itu saat wartawan koran ini menanyakan dimana lokasi makam Mbah Cungrung. Sembari menunjukkan lokasi makam yang selemparan batu dari masjid yang berada di tepi jalan desa tersebut.

Potongan dialog tersebut menggambarkan memang betapa sering makam Mbah Cungrung dikunjungi masyarakat sekitar. Selain berziarah, makam Mbah Cungrung juga digunakan sebagai tempat wasilah masyarakat dalam melaksanakan nazarnya. Berkaitan dengan rizki yang didapatkan.

PENINGGALAN: Prasasti bertuliskan huruf Arab berbahasa Jawa peninggalan Mbah Cungrung yang berada di Masjid Baiturrohim Gambiran.

PENINGGALAN: Prasasti bertuliskan huruf Arab berbahasa Jawa peninggalan Mbah Cungrung yang berada di Masjid Baiturrohim Gambiran. (ACHMAD ULIL ALBAB/RADAR KUDUS)

Biasanya, di makam tersebut kerap digelar acara kenduri sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT melalui wasilah Mbah Cungrung. Hal itu dilakukan ketika ada orang yang sedang menerima anugerah sembuh dari penyakit dan nazar yang lainnya.

”Sudah menjadi kebiasaan masyarakat Gambiran melaksanakan nazar dengan manganan (kenduri, Red) di makam Mbah Cungrung. Bahkan ada beberapa orang yang melaksanakan kenduri warga di luar Gambiran. Pelaksanaannya bisa kapan saja,” terang Fadholi, tokoh Gambiran yang juga modin di Desa Sukoharjo.

Mbah Cungrung sebagai tokoh penyebaran Islam sangat dihormati. Tiap tahun selalu digelar haul. Acara haul Mbah Cungrung diperingati tiap 1 Muharam. Berbagai acara bernafaskan Islam digelar.

 Acara digelar selama empat hari penuh. Yang dimulai sejak akhir Dzulhijah. Mulai dari tahlil masal, khotmil Quran, pengajian umum, hingga digelar lomba-lomba keagamaan  untuk anak-anak.

(ks/aua/lid/top/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia