Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Begini Kegiatan Napi saat Ramadan di Rutan Kudus

14 Mei 2019, 12: 13: 25 WIB | editor : Ali Mustofa

TADARUS: Penghuni rutan kelas II B Kudus membaca Al Qur’an dalam rangkaian kegiatan ramadan kemarin.

TADARUS: Penghuni rutan kelas II B Kudus membaca Al Qur’an dalam rangkaian kegiatan ramadan kemarin. (VACHRI RINALDY LUTFIPAMDUDI/RADAR KUDUS)

Share this      

KOTA - Para narapidana Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B, Kudus belajar baca tulis alquran kemarin. Hal ini merupakan rangkaian kegiatan selama bulan Ramadan. Selain bertadarus, ada juga kegiatan-kegiatan lainnya, seperti, bimbingan rohani dan baca tulis alquran (BTA). Bagi para peserta yang belum bisa membaca alquran bisa mengikuti BTA.

Peserta yang mengikuti kelas BTA dikumpulkan di aula. Peserta dibagi per kelompok.  Masing-masing kelompok berjumlah sekitar dua hingga 10 orang. Setiap kelompok didampingi satu atau dua mentor dari IAIN Kudus. Ada sekitar 10 mentor. Suasana pun riuh karena saling berinteraksi. Tanya-jawab kerap kali terjadi.

Di ruang sebelah, ada kelompok yang sedang bertadarus.  Mereka para nara pidana yang  sudah mahir membaca alquran. Ada sekitar delapan orang. Mereka bersila membentuk setengah lingkaran dan saling membaca bergantian. Ada salah satu dari mereka yangmembaca tanpa melihat alquran. Dia adalah satu-satunya hafiz di kelompok ini.

Kegiatan tadarus dan BTA ini dimulai dari pukul 09.30 hingga pukul 11.00.

Ahmad Supriyanto ,43, salah satu peserta tadarus dan sekaligus hafiz mengatakan dalam bulan Ramadan ditargetkan bisa selesai empat hingga lima juz. Dalam menjaga hafalannya, ia sering mengaji sekitar lima juz perhari.  ” Kalau diasah terus kan landep (tajam). Kalau tidak di deres nanti bisa tumpul,” ujarnya.

Guntur Reza Fahlevi ,22, salah satu peserta tadarus lainnya mengatakandengan adanya tadarus ini diniatkan sebagai mencari rida Allah. Sebelumnya, semasa di rumah ia belum pernah melakukan hal seperti ini. Bahkan belum pernah belajar mengaji.

”Kalau di rumah si belum. Karena selama di rumah selalu disibukkan dengan duniawi. Kalau di dalam penjara seperti ini kan dijauhkan dari hal kemaksiatan dan kebatilan. Kami disibukkan dengan hal keagamaan dan kerohanian,” jelasnya.

Semenjak dimasukkan di rutan, dia merasa didekatkan oleh Allah. Dia menyadari ilmu agamanya kurang, umur juga semakin tua. Guntur lalu belajar mengaji dengan Supri.

Kepala Rutan IIB Kudus Budi Prajitno mengatakan, dengan diadakannya kegiatan ini diharapkan menambah keimanan serta menjadi bekal ketika kembali ke masyarakat.

”Biar kembali ke masyarakat tanpa ada pengulangan tindak kejahatan lagi,” katanya (vah)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia