Selasa, 21 May 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Sebelum Wafat, Almarhum Kiai Munir Hisyam Sampaikan Pesan Terakhir Ini

14 Mei 2019, 11: 14: 02 WIB | editor : Ali Mustofa

PENGHORMATAN TERAKHIR : Puluhan santri  sedang memanggul jenazah KH. Munir Hasyim. Mereka memberikan penghormatan terakhir dengan mengantarkannya hingga ke pemakaman makam keluarga Mbah Abu Bakar, Bakalan Krapyak, Kudus kemarin (13/05).

PENGHORMATAN TERAKHIR : Puluhan santri  sedang memanggul jenazah KH. Munir Hasyim. Mereka memberikan penghormatan terakhir dengan mengantarkannya hingga ke pemakaman makam keluarga Mbah Abu Bakar, Bakalan Krapyak, Kudus kemarin (13/05). (GALIH ERLAMBANG WIRADINATA/Radar Kudus)

KOTA KH. Munir Hisyam, pengasuh pondok pesantren Arraudlotul Mardliyah tutup usia diusia 66 tahun kemarin. Kiai yang terkenal rajin tadarus Alquran itu meninggal karena terserang sakit struk.

Kemarin, Lorong gang Desa Janggalan RT VII/ II, Kota, Kudus dipadati pelayat. Ada keluarga, saudara, santri, kenalan, hingga tetangga sang kiai.

Adik sang kiai, K. Mudhofir Hisyam menceritakan, gejala itu timbul pada saat adik dari KH, Munir Hisyam meninggal. Kondisi badan sudah tak bugar lagi, kejadian sudah terjadi pada 2010 lalu. “Dia dan adiknya sangat begitu klop dan tak terpisahkan,” ungkapnya.

Beliau (K. Mudhofir, Red) mengungkapkan, pada bulan Rajab KH. Munir Hisyam ingin pergi umroh. Dia mengutarakan keinginan kepada istrinya. Istrinya Nurul Azizah menyangka kondisi suaminya sudah sedang baik, namun KH. Munir tak menceritakan kondisi sesungguhnya kepada istri itu. ”Istri Beliau juga berkonsultasi kepada dokter. Beliau diberikan izin untuk pergi umrah atas izin dokter. Yang pada saat itu mengatakan kondisinya fit,” katanya.

Saat itu KH. Munir pulang ke Indonesia pada Kamis malam (9/05) lalu. Namun pada Sabtu malam (11/05) fisik beliau semakin melemah. Kemudian seketika dilarikan ke RSI Yakis, untuk dirawat intensif di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Sekitar siang baru dibawa ke Intensive Care Unit (ICU). Namun menjelang subuh beliau menghembuskan nafas terakhirnya. ”Subuh kondisinya sangat kritis. Setelah salat subuh saya mendapatkan kabar sudah wafat,” paparnya.

Sosok KH. Munir Hisyam di lingkungan Desa Janggalan sendiri sudah dianggap sebagai orangtua.  Bahkan KH Munir dalam keadaan yang kurang sehat masih menghadiri undangan ke luar kota.

Untuk mengisi kekesongan pengelolaan nantinya, pengajian saat bulan Ramadan yang tak pernah libur akan diisi langsung oleh K. Mudhofir.

Sementara itu menurut pernyataan Misbah yang pernah berguru kepada KH. Munir Hisyam mengatakan, beliau merupakan sosok yang istiqomah dalam amalan wirid dan membaca alquran. Dia pernah menyaksikan denga mata kepalanya sendiri, ketika berpergian sang kiai masih membaca alquran.

”Pesan beliau jika deres alquran harus istiqomah. Maka akan melancarkan rezeki. Karena hurufnya ada 6.666 serta akan mendoakan yang membaca kalam Allah tersebut,” ungkapnya. (gal)

(ks/mal/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia