Selasa, 21 May 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Hoaks dan Bahaya Berbohong

13 Mei 2019, 12: 11: 12 WIB | editor : Ali Mustofa

Dr. H. Abdurrahman Kasdi, Lc, M.Si.; Direktur Pascasarjana IAIN Kudus

Dr. H. Abdurrahman Kasdi, Lc, M.Si.; Direktur Pascasarjana IAIN Kudus (dok pribadi)

AKHIR-AKHIR ini banyak berita hoaks atau berita bohong, berita palsu, atau berita fitnah. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informatika juga merespon untuk menanggulangi beredarnya berita hoaks, terutama di media sosial (social media) dan situs media online atau daring (dalam jaringan).

Dalam http://kbbi.web.id bohong diartikan dengan tidak sesuai dengan hal (keadaan dan sebagainya) yang sebenarnya; dusta; bukan yang sebenarnya; palsu. Dalam sudut pandang apapun bohong adalah sesuatu yang tercela. Berikut penulis deskripsikan beberapa pandangan Alquran dan pandangan psiko-sosial dalam menjelaskan komunikasi yang baik.

Alquran menyebut komunikasi sebagai salah satu fitrah manusia. Allah berfirman yang artinya: “Yang Maha Kasih. Mengajarkan Alquran. Mencipta insan. Mengajarkannya Al-Bayan “ (QS. al-Rahman, 1-4). Al-Syaukani dalam Tafsir Fath al-Qadir mengartikan al-Bayan sebagai kemampuan berkomunikasi. Untuk mengetahui bagaimana orang-orang seharusnya berkomunikasi, kita harus melacak kata kunci (key concept) yang dipergunakan Alquran untuk komunikasi.

Dari enam prinsip komunikasi yang baik menurut Alquran, tulisan ini penulis hanya menguraikan satu prinsip, yaitu qaulan sadidan. Kata “qaulan sadidan “ disebut dua kali dalam Alquran. Pertama Allah menyuruh manusia menyampaikan qaulan sadidan dalam urusan anak yatim dan keturunan: “Dan hendaklah orang-orang takut kalau-kalau dibelakang hari, mereka meninggalkan keturunan yang lemah yang mereka kuatirkan (kesejahterannya). Hendaklah mereka bertakwa pada Allah dan berkata dengan qaulan sadidan” (QS. Al-Nisa`, 4:9).

Kedua, Allah memerintahkan qaulan sesudah takwa. ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Alah, dan ucapkanlah qaulan sadidan. Nanti Allah akan membalikan amal-amal kamu, mengampuni dosa kamu. Siapa yang taat kepada Allah dan Rasulnya iya mencapai keberuntungan yang besar” (QS. Al-Ahzab, 33:70). Apa arti qaulan sadidan? qaulan sadidan artinya pembicaraan yang benar, jujur, lurus, tidak bohong, tidak berbelit-belit. Prinsip komunikasi yang pertama menurut Alquran adalah berkata yang benar. Ada beberapa makna dari pengertian benar.

Arti pertama benar ialah sesuai dengan kriteria kebenaran. Untuk orang Islam, ucapan yang benar tentu ucapan yang sesuai dengan Alquran, al-Sunnah, dan ilmu. Alquran menyindir keras orang-orang yang berdiskusi tanpa merujuk pada Alquran, petunjuk, dan ilmu.

Arti kedua dari qaulan sadidan adalah ucapan yang jujur, tidak bohong. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Jauhi dusta, karna dusta membawa kamu kepada dosa, dan dosa membawa kamu kepada neraka. Lazimkanlah berkata jujur, karena jujur membawa kamu kepada kebajikan, membawa kamu kepada surga” (HR. Bukhari Muslim). Pembahasan di atas baru satu kriteria, artinya masih ada lima kriteria yang belum dibahas.

Dalam pandangan psikologi penulis memilih menjelaskan tentang kebohongan dengan term Mythomania. Mythomania dapat juga disebut sebagai pseudologia fantastica atau pathological lying. Pengertian lebih lanjut terhadap mythomania pertama kali disampaikan oleh Ernest Dupré (1905) dalam buku Grand Dictionnaire de la Psychologie karya Henriette Bloch, seorang ahli psikologi yang pertama kali mengusulkan istilah untuk gangguan psikologis tersebut. Mythomania adalah suatu bentuk gangguan psikologis yang membuat penderitanya hidup di dalam kepalsuan yang diciptakan baik oleh pikiran, perasaan maupun tindakannya sendiri baik dengan cara berbohong, berfantasi, ataupun tindakan-tindakan lainya yang dapat menyembunyikan atau mengalihkan sifat dan tujuan asli yang  mereka miliki.

Akhirul kalam, ada satu surat dalam Alquran yang unik dan perlu diperhatikan secara khusus, karena dalam satu surat terdapat pengulangan 10 (sepuluh) kali dengan kalimat yang sama tentang bahaya bagi pembohong yaitu QS. Al-Mursalat, dan ada satu ayat lagi dalam QS. al-Muthaffifin, 83:10. Ayat yang diulang-ulang tersebut artinya: “kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan”. Dengan demikian marilah kita memilah dan memilih informasi dan berita dengan cerdas dan jelas, agar yang diperoleh adalah pemahaman dan ilmu; bukan justru kerugian dan celaka baik didunia maupun akhirat.

Alhasil, momentum puasa Ramadan idealnya menjadi momentum menangkal hoaks dan bohong, karena esensi puasa adalah pengendalian diri menuju pada penghambaan dan takwa kepada Allah. Karena bohong juga menjadikan pahala puasa “hangus” dan puasanya sekedar lapar dan dahaga. Wallahu A`lam. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia