Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Kudus

Kedudukan Manusia dalam Islam

13 Mei 2019, 10: 58: 45 WIB | editor : Ali Mustofa

Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc, M.Si.; Direktur Pascasarjana IAIN Kudus, Wakil Ketua PCNU Demak, dan Ketua II MUI Demak

Dr. H. Abdurrohman Kasdi, Lc, M.Si.; Direktur Pascasarjana IAIN Kudus, Wakil Ketua PCNU Demak, dan Ketua II MUI Demak (dok pribadi)

Share this      

DALAM Alquran, ada empat kata yang digunakan untuk menunjukkan kududukan manusia, yaitu: pertama, sebagai insan, yang digunakan Alquran 65 kali dan tersebar dalam 43 surat untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa, dan raga.

Kata insan jika dilihat dari asalnya nasiya yang artinya lupa, menunjuk adanya kaitan dengan kesadaran diri. Sedangkan kata insan untuk penyebutan manusia yang diambil dari akar kata al-uns yang berarti jinak dan harmonis. Karena manusia pada dasarnya dapat menyesuaikan dengan realitas hidup dan lingkungannya.

Kedua, sebagai basyar, yang dipakai untuk menyebut semua makhluk baik laki-laki ataupun perempuan, baik satu ataupun banyak. Kata basyar adalah jamak dari kata basyarah yang berarti kulit. “Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas, dan berbeda dengan kulit binatang yang lain”. Alquran menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsanna untuk menunjukkan manusia dari sudut lahiriyahnya serta persamaannya dengan manusia seluruhnya.

Di sisi lain, jika diamati banyak ayat-ayat Alquran yang menggunakan kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar, melalui tahapan-tahapan sehingga mencapai tahapan kedewasaan. Sebagaimana firman Allah, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.” [QS.al-Rum (3) : 20]

M Quraish Shihab menafsirkan kata bertebaran di sini bisa diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rezeki. Penggunaan kata basyar di sini dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia, yang menjadikannya mampu memikul tanggung jawab. Dan karena itupula, tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar, karena kedua kata itu mengandung pemberitahuan Allah kepada malaikat tentang manusia.

Kedudukan manusia sebagai basyar tergantung sepenuhnya pada alam, pertumbuhan dan perkembangan fisiknya tergantung pada apa yang dimakan. Sedangkan manusia dalam pengertian insan mempunyai pertumbuhan dan perkembangan yang sepenuhnya tergantung pada kebudayaan, pendidikan, penalaran, kesadaran, dan sikap hidupnya. Untuk itu, pemakaian kedua kata insan dan basyar untuk menyebut manusia mempunyai pengertian yang berbeda. Insan dipakai untuk menunjuk pada kualitas pemikiran dan kesadaran. Sedangkan basyar dipakai untuk menunjukkan pada dimensi alamiahnya, yang menjadi ciri pokok manusia pada umumnya.

Dari kedudukan sebagai insan dan basyar, manusia merupakan makhluk yang dibekali Allah dengan potensi fisik maupun psikis yang memiliki potensi untuk berkembang. Alquran berulangkali mengangkat derajat manusia dan berulangkali pula merendahkan derajat manusia. Manusia dinobatkan jauh mengungguli alam surga, bumi ,dan bahkan para malaikat. Allah juga menetapkan bahwa manusia dijadikan-Nya sebagai makhluk yang paling sempurna keadaannya dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain.

Ketiga, sebagai al-Nas. Al-Nas dalam Alquran disebutkan sebanyak 241 kali dan tersebar dalam 55 surat. Dalam Alquran, al-Nas merupakan keterangan yang jelas menunjukkan pada jenis manusia. Kata al-Nas menunjuk manusia sebagai makhluk sosial dan kebanyakan digambarkan sebagai kelompok manusia tertentu yang berpotensi melakukan maslahah dan melakukan mafsadah.

Keempat, sebagai Bani Adam. Bani Adam di sebutkan dalam Alquran sebanyak 9 kali. Di antaranya pada surat Yasin ayat 60. Adam di dalam Alquran mempunyai pengertian manusia dengan keturunannya yang mengandung pengertian basyar, insan dan an-nas. Kata Bani Adam lebih ditekankan pada aspek amaliah manusia, sekaligus pemberi arah ke mana dan dalam bentuk apa aktivitas itu dilakukan.

          Menurut Rif'at Syauqi Nawawi, kemajuan  manusia dimulai dari kelemahan dan ketidakmampuan, yang kemudian bergerak ke arah kekuatan. Tetapi itu tidak akan menghapuskan kegelisahan psikis mereka, kecuali jika mereka dekat dengan Tuhan dan selalu mengingat-Nya. Selain itu, Alquran juga menyebutkan sifat-sifat kelemahan dari manusia. Qur'an mencela manusia disebabkan kelalaian manusia akan kemanusiaannya, kesalahan manusia dalam mempersepsi dirinya dan memanfaatkan potensi fitrahnya sebagai khalifah Allah di muka bumi ini.

Untuk itu, kita manusia yang diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling sempurna, hendaknya mampu menggunakan potensi yang kita miliki dengan baik, yaitu mengaktualisasikan potensi iman kepada Allah, menguasai ilmu pengetahuan, dan melakukan aktivitas amal saleh, maka kita akan menjadi makhluk yang paling mulia dan makhluk yang berkualitas di muka bumi ini seseuai dengan fitrah manusia. Amin. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia