Selasa, 21 May 2019
radarkudus
icon featured
Features
Deviana Metri Octaviani, Wasit Voli Perempuan

Bermula Tuntutan Kampus, Bulan Depan Pimpin Kejuaraan Asia

13 Mei 2019, 08: 44: 35 WIB | editor : Ali Mustofa

Deviana Metri Octaviani

Deviana Metri Octaviani (DOK PRIBADI)

Deviana Metri Octaviani jadi wasit putri bola voli tingkat nasional. Sebelumnya, dia merupakan atlet voli pantai Kudus. Dia menjadi satu-satunya wasit voli perempuan asal Kota Kretek. Pada Juni mendatang, dia akan menjadi pengadil lapangan di even Asian School Game 2019 di Semarang.

GALIH ERLAMBANG WIRADINATA, Kudus

PERSEPSI bahwa perempuan tak mampu bersaing dengan lelaki mampu ditepis oleh Deviana Metri Octaviani. Itu lantaran dirinya mampu membuktikan namanya lolos memperoleh lisensi wasit putri cabang olahraga (Cabor) bola voli di tingkat nasional.

”Bersyukur dari Kudus wasit voli cewek baru saya. Sekitar satu minggu lalu saya mendapakatkan lisensi wasit tingkat nasional,” ungkap gadis bergigi gingsul ini.

Dia sebelum menjadi wasit merupakan atlet voli pantai. Asam manis perjuangan di lapangan sudah ia tapaki dalam menghasilkan medali. Juara tingkat daerah dan provinsi sudah pernah dirasakannya.

Namun, saat ini di tengah-tengah rutinitas pekerjaannya menjadi personal trainer fitnes, ia harus melepas predikat atletnya itu. Itu lantaran ketika menjadi atlet harus memprioritaskan waktunya untuk tetap bekerja. Namun, Devi lebih fokus pada pekerjaannya saat ini. Kadangkala untuk melepas rindu, dirinya masih meluangkan waktunya bermain voli.

”Aktivitas sehari-hari kerja. Namun ketika ada panggilan menjadi wasit, saya berangkat. Itupun harus diizinkan oleh pihak kantor saya,” katanya.

Dulunya ketika pensiun menjadi atlet, Devi tak ingin menjadi wait. Ia berkeinginan menjadi pelatih voli putri. Pada waktu itu, gadis berambut panjang ini diwajibkan pihak kampus untuk mengikuti penataran daerah wasit bola voli. Dengan segala keterpaksaannya ia mengiyakan mandat tersebut.

Namun, Tuhan punya kehendak lain untuk Devi. Nasib baik itu tampak ketika wasit putri untuk cabor voli masih sangat minim. Jadi, banyak dicari. Gadis berusia 24 tahun ini, mengawali kiprahnya menjadi pengadil lapangan di tingkat daerah. Ia memimpin Pekan Olahraga Daerah (Popda) Kudus 2019.

Karir Devi di dunia wasit melaju bak roket. Pada 30 April hingga 5 Mei 2019 dirinya mengikuti penataran sekaligus seleksi nasional. Devi begitu beruntung. Sebab, ia direkomendasikan dari Kota Semarang untuk ikut seleksi itu.

”Jumlah peserta cowok ada 60 orang. Sedangkan yang cewek hanya enam orang. Saya berhasil meraih peringkat III. Saya sangat bersyukur,” ungkapnya diiringi senyum bahagia.

Menurut Devi, wasit yang kinerjanya baik harus memiliki beberapa kriteria. Yakni dia harus bersikap tegas kepada setiap pemain. Tegas mengambil keputusan dan tak memihak siapapun. Tak kalah pentingnya, mental yang kuat harus ia kantongi. Itu agar tak terjadi sikap grogi saat memimpin pertandingan.

Pada pertengahan bulan depan, kiprah Devi sebagai wasit di tingkat nasional akan diuji. Ia ditunjuk sebagai pemimpin pertandingan tingkat Asia. Tepatnya di Asian School Game 2019 yang akan diselenggarakan di GOR Jatidiri, Semarang. ”Pesertanya siswa SMA sederajat se-Asia,” ujarnya.

Ke depan, ia berharap bisa bekerja sesuai dengan jurusannya saat kuliah dulu. Yakni menjadi seorang guru olahraga. Bahkan, kalau ada kesempatan karirnya menjadi wasit dan keinginan menjadi pelatih bisa tetap berjalan. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia