Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Cuitan

Tantangan Baru setelah Jurus Loncat Jabatan

13 Mei 2019, 08: 26: 52 WIB | editor : Ali Mustofa

Direktur Radar Kudus Baehaqi

Direktur Radar Kudus Baehaqi (radar kudus)

Share this      

BERITA di Jawa Pos Radar Kudus dan Radar Semarang  tanggal 7 Mei 2019 itu saya baca berulang-ulang. Judulnya berbeda. Isinya sama. Di Radar Kudus berjudul Camat Jadi Kabiro dan Kepsek Jadi Kadisdikbud. Sedangkan di Radar Semarang berjudul Kepala SMKN I Bawen Jadi Kadisdikbud.

Saya nyaris tidak percaya. Seorang camat diangkat menjadi pejabat tinggi di lingkungan Pemprov Jateng. Dia adalah Camat Kedungbanteng, Tegal, Imam Masykur. Dilantik menjadi kepala Biro Kesejahteraan Rakyat. Promosi jabatan yang tidak lazim. Biasanya, camat diangkat menjadi kepala dinas di tingkat kabupaten/kota atau bahkan kepala bidang di bawah kepala dinas.

Sama mencengangkannya, Kepala SMKN 1 Bawen, Kabupaten Semarang, Jumeri diangkat menjadi kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud). Lazimnya kepala sekolah dipromosikan menjadi kabid atau kepala dinas pendidikan di tingkat kabupaten/kota. Tetapi, ini langsung di tingkat Provinsi Jateng. Loncatannya melampaui beberapa lapis jabatan di atasnya.

Kedua pejabat tersebut dipilih langsung oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo melalui lelang jabatan. Mereka melamar. Kemudian mengikuti serangkaian tes. Termasuk wawancara yang dilakukan sendiri oleh Pak Ganjar. ”Saya tidak tahu mereka. Tidak kenal mereka,” kata Ganjar seperti dikutip oleh Radar Kudus dan Radar Semarang.

Itulah konsekuensi promosi jabatan secara terbuka. Lelang bisa diikuti siapa saja sepanjang memenuhi syarat. Bagusnya, pejabat yang jauh dari pusat kekuasaan provinsi bisa mencuat ke permukaan. Mendapat kesempatan menduduki jabatan tinggi. Jeleknya mereka belum memiliki pengalaman memimpin lingkup yang besar.

Ganjar sendiri yang mempunyai jurus lelang jabatan tersebut, sejak dia menjabat pada 2013 lalu. Mula-mula biasa saja. Yang terpilih orang-orang yang selama ini tidak jauh dengan lingkaran kekuasaan. Masyarakat adem-ayem. Baru kali ini berbeda. Mereka terhenyak. Bayangkan, seorang kepala sekolah yang hanya memimpin satu sekolah tiba-tiba harus membawahi seluruh sekolah SMA dan SMK di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Ide liar gubernur yang memiliki gaya komunikasi ceplas-ceplos itu, membuka mata publik. Banyak sumber daya potensial yang tersembunyi. Selama ini mereka tidak tersentuh teropong. Bahkan, gubernur sendiri juga tidak mengetahuinya. Saya termasuk salah seorang yang salut akan ide tersebut.

Kemungkinan masih banyak kepala-kepala sekolah lain yang layak menjadi kepala dinas atau kepala biro di Pemprov Jateng. Bisa juga banyak camat lain yang memiliki kemampuan sama. Bahkan, banyak pegawai di tingkat kecamatan yang tidak kalah potensialnya. Ini tantangan. Termasuk bagi Pak Ganjar sendiri. Bagaimana menemukan mereka jika mereka tidak mau mengikuti lelang jabatan.

Bagi pejabat yang mendapat lompatan promosi juga tantangan. Mereka dituntut untuk membuktikan kemampuannya. Bila setahun ternyata meleset, pejabat tersebut harus mundur. Tentu mempermalukan gubernur. Juga menjatuhkan sistem rekrutmen secara terbuka yang lagi digalakkan di Jateng ini. Di sini Pak Ganjar diuji.

Di lingkungan pemerintahanan hambatan pengangkatan pejabat adalah birokrasi. Ini berbeda dengan di perusahaan swasta. Sudah menjadi tuntutan semua manajer harus tahu persis kemampuan seluruh anak buahnya. Tidak ada kaitan dengan senioritas. Saya pun menerapkannya. Saya tahu satu persatu karyawan yang tersebar di 18 kabupaten/kota di Jateng. Bahkan tahu rumahnya. Pernah pula memasukinya. Maklum, karyawan saya tidak banyak. Hehehe...

Langkah yang diambil gubernur kali ini harus betul-betul menjadi pelajaran bagi kita. Seorang bupati harus tahu kemampuan seluruh camat dan kepala desanya secara detail. Seorang kepala dinas harus bisa memetakan kemampuan jajarannya. Demikian juga seluruh pejabat struktural lainnya. Bahkan di lingkungan organisasi apapun. Termasuk di perusahaan swasta.

Kalau mereka bisa menemukan mutiara-mutiara yang tersebunyi, bukan tidak mungkin negeri ini mencapai kemajuannya yang luar biasa. (hq@jawapos.co.id)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia