Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Mahfudhoh Assya, Juara III Wushu Nasional

Sempat Ditentang Ortu, Dijawab dengan Prestasi

11 Mei 2019, 10: 24: 51 WIB | editor : Ali Mustofa

MEMBANGGAKAN: Mahfudhoh Assya Dewi Ariyaanti foto bersama Kepala SMAN 1 Pamotan Karno usai meraih juara III nasional wushu baru-baru ini.

MEMBANGGAKAN: Mahfudhoh Assya Dewi Ariyaanti foto bersama Kepala SMAN 1 Pamotan Karno usai meraih juara III nasional wushu baru-baru ini. (DOK PRIBADI)

Share this      

Mahfudhoh Assya Dewi Ariyanti berhasil mengharumkan nama SMAN 1 Pamotan, Rembang. Dia baru saja menyabet juara III wushu nasional kelas 48 junior female di Piala Rektor Unnes IV 2019 pada 24-28 April di Auditorium Unnes.

WISNU AJI, Rembang

BISA mendapatkan prestasi dari hobi yang ditekuni menjadi keinginan semua orang. Termasuk Mahfudhoh Assya Dewi Ariyanti. Berkat hobinya olahraga wushu, dia baru-baru ini menyabet juara III wushu nasional kelas 48 junior female di Piala Rektor Unnes IV 2019 pada 24-28 April di Auditorium Unnes.

Assya mengaku kebetulan ikut wushu secara mandiri. Dia kali pertama mengikuti wushu saat masih duduk di bangku SMP. Saat itu, dia diajak temannya ikut esktrakurikuler olahraga bela diri itu.

”Saya ikut sejak SMP kelas IX hingga masuk SMA. Awalnya saya tidak tertarik, lama kelamaaan justru menjadi hobi,” aku pelajar kelas X SMAN 1 Pamotan ini.

Memang, Assya paling demen latihan wushu. Pertama, olahraga ini membuatnya lebih enerjik, utamanya mendukung proses belajar. Jadi lebih fokus. Dampaknya positif saat dia sekolah maupun belajar.

Hal ini berjalan setahun lebih. Assya rutin latihan. Kemampuannya semakin terasah. Sampai akhirnya diikutsertakan lomba. ”Jalannya latihan tak mulus. Saya pernah mendapat tentangan orang tua. Itu karena setiap kali latihan pulangnya malam. Namun, saya berusaha menyakinkan kalau ini (wushu, Red) positif,” pengakuannya.

Benar, berkat keuletannya latihan itu, membuahkan hasil. Dia baru saja menjuarai lomba wushu tingkat nasional. Untuk kelasnya 48 junior female. Pertandingan berlangsung pada 24-28 April di auditorium Unnes.

Dalam lomba itu, diikuti lebih dari 500 peserta dari berbagai wilayah. Assya sempat bertanding dua kali. Lawannya dari Kabupaten Demak dan DKI Jakarta. ”Pertama tanding dengan atlet asal Demak dan saya menang. Lalu lawan atlet asal DKI Jakarta, saya kalah. Akhirnya mendapat juara III,” ujarnya.

Hal ini termasuk capaian yang cukup bagus baginya. Sebab, dia masih kurang jam terbang dalam mengikuti pertandingan. Sementara lawannya kebanyakan dari klub wushu. Jadi, ini sebuah prestasi yang mengharumkan sekolah dan daerah.

Dari segi persiapan, dia mengaku memang terbilang singkat. Ia hanya memiliki waktu latihan selama sebulan lebih sebelum pertandingan. Baru saat mendekati pertandingan, sepekan latihan rutin. Hal ini dijalani saat libur semesteran beberapa waktu lalu.

”Modal saya hanya menyiapkan mental, fisik, dan teknik penguasaan. Alhamdulillah impian saya untuk mendapat prestasi terwujud,” ucapnya. (*)

(ks/lin/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia