Jumat, 15 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Features
Hurip Indiani, Pembatik Blora yang Mendunia

Usai Dibatik, Dibungkus Daun Jati Basah

10 Mei 2019, 09: 40: 43 WIB | editor : Ali Mustofa

INOVATIF: Hurip Indiani bersama suami.

INOVATIF: Hurip Indiani bersama suami. (DOK PRIBADI)

Share this      

Hurip Indiani berhasil memasarkan batik Blora di dalam negeri dan luar negeri. Keberhasilan itu berkat upaya dan kerja kerasnya selama 10 tahun. Penyajian batiknya cukup unik, yaitu dibungkus daun jati.

SUBEKAN, Blora

PRINSIP “lihat pasti bisa” membuat perempuan bernama lengkap Hurip Indiani sukses dalam usahanya. Usaha pembuatan batik dan penjualannya saat ini sudah tembus mancanegara. Di antaranya Korea dan Tiongkok. Pasar dalam negeri yang jadi tujuan bisnisnya juga ramai pesanan. Mulai Balikpapan, Jatim, Malang, Jakarta, Semarang, Papua, dan Bali.

Perempuan berhijab ini mengaku, usaha batiknya dirintis sejak delapan tahun silam. Untuk mendapatkan hasil maksimal dia harus riwa-riwi kursus di berbagai tempat. Mulai dari Lasem Rembang, Solo, Jogjakarta, Pekalongan.

Dari ilmu yang didapatnya tersebut, dia tularkan dan praktikkan untuk membuat batik khas Blora. Batiknya mempunyai nilai tinggi dan berbeda dari yang lainnya. Berkat itu semua, dia bisa menghasilkan batik berkualitas.

“Butuh proses yang panjang untuk bisa menggabungkan berbagai teknik dalam membatik. Saya pilih yang cepat, berkualitas, dan melayani semua permintaan. Sehingga para pembeli merasa senang dan puas,” ucap perempuan yang pernah menerima penghargaan Satya Lencana Karya Satya dari Presiden di 2012 lalu.

Alumni S2 Unsri 2010 ini menambahkan, setelah pensiun, ia ingin mempunyai kesibukan yang bermanfaat. Mempunyai teman banyak. Ada kesibukan mandiri di hari tua dan membantu sesama.

“Saya memang suka melukis wajah atau rias. Hobi saya itu saya tuangkan dalam membatik. Saat ini sudah ada belasan karyawan yang ikut membantu saya,” jelas perempuan yang beralamat di Jalan Nusantara Nomor 41 Blora.

Cara penyajian batik pesanannya juga beda dari yang lainnya. Sebab, setelah batik selesai dikerjakan terlebih dulu dibungkus daun jati basah, baru di masukkan dalam plastik. Kemudian dimasukkan dalam kardus, dan baru dikirim.

Motifnya juga bervariasi, tinggal pesanan. Namun kebanyakan motifnya berupa macan tutul, daun jati, akar, ungker, barongan, ayam alas, merak, tunggak, tayub, janggleng, serta, kupu, sate, topeng gaenah, tugumuda, akik, aptri tebu, samin, sapu jagat, perkutut, semar, dan lain sebagainya.

Begitu juga dengan harganya. Satu batik buatannya bisa di banderol dengan harga Rp 125 ribu hingga Rp 1 juta. Ukurannya sekitar 2 meter. “Yang membuat batik saya juga ada yang difabel,” jelas perempuan kelahiran 5 Januari 1960.

Ibu dua anak ini mengaku masih ingat betul bagaimana dia pertama kali membuat batik. Hasil pertamanya dia jual dengan harga Rp 250 ribu dan dibeli oleh orang Semarang. “Sejak awal saya sudah menggunakan canting listrik,” pungkasnya.

Dia mengaku, keberhasilan usahanya ini tidak lepas dari dorongan dan dukungan dari keluarganya. Terutama sang suami yang terus mendampingi dan mendukung usahanya dan perjuangannya. (*)

(ks/zen/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia