Kamis, 21 Nov 2019
radarkudus
icon featured
Pendidikan

Pentingnya Pembelajaran Bermakna

09 Mei 2019, 15: 20: 45 WIB | editor : Ali Mustofa

Endang Siwi Ekoati; Kepala Sekolah, Penulis, dan Penggiat Literasi di Kudus

Endang Siwi Ekoati; Kepala Sekolah, Penulis, dan Penggiat Literasi di Kudus (dok pribadi)

Share this      

SEORANG kepala sekolah mempunyai tugas melakukan supervisi pembelajaran minimal sekali dalam satu semester. Tugas kepala sekolah sebagai supervisor menjadi sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolahnya. Kegiatan supervisi yang dilakukan secara rutin diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Secara tidak langsung berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan.

Berdasarkan pengalaman pengamatan proses pembelajaran, kegiatan supervisi tidak secara otomatis meningkatkan kinerja seorang guru. Pendapat ini bukan tanpa alasan. Sejak mendapat tugas sebagai kepala sekolah, tugas supervisi sudah saya lakukan. Tugas ini dimulai dengan merencanakan program, melaksanakan program supervisi, dan tindak lanjut supervisi. Pengamatan juga dilakukan selama dua jam pelajaran sesuai jadwal guru yang disupervisi. Namun, mengapa hasilnya belum optimal?

Hal tersebut bisa terjadi karena ketika supervisi berlangsung guru benar-benar menyiapkan pembelajaran secara baik. Namun pada pembelajaran sehari-hari, guru mengajar tanpa persiapan yang matang. Pernah suatu kali saya membuka pintu kelas karena terdengar gaduh dari luar. Setelah pintu terbuka, tampak guru bermain HP pada saat mengajar. Guru duduk di kursi sambil memainkan HP, sementara kelas ramai. Pernah pula saya temukan guru bermain HP pada saat siswa sedang berdoa.

Memang tidak semua guru melakukan seperti cerita di atas. Namun, jika dibiarkan maka akan berdampak pada pembelajaran di kelas. Idealnya, sejak pertama berada di kelas, hati dan pikiran guru berada di kelas, bukan di dunia yang lain, seperti membaca pesan WhatsApp atau media sosial lainnya. Hubungan batin yang baik antara guru dan siswa diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, sehingga pembelajaran akan bermakna.

Pemantauan dan pengamatan menjadi cara ampuh untuk memastikan pembelajaran berjalan sebagaimana mestinya. Jangan pernah meremehkan masalah-masalah kecil. Guru, siswa, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan perlu menciptakan suasana yang harmonis agar tercipta iklim pembelajaran yang kondusif.

Banyak guru yang merasa bahwa cara mengajarnya sudah benar. Akibatnya, mereka tidak mau mengubah cara mengajar mereka. Pengetahuan tentang model-model pembelajaran hanya sebatas teori, belum dilaksanakan di kelas. Model apa pun yang digunakan, ujung-ujungnya tetap kembali kepada metode ceramah, diskusi, tanya-jawab, dan kerja kelompok.

Tidak ada yang salah dengan metode ceramah, diskusi, tanya-jawab, dan kerja kelompok. Sayangnya, rutinitas ceramah yang menghabiskan hampir satu jam pelajaran mengakibatkan kompetensi lain tidak terakomodasi dengan baik. Apalagi, jika setelah ceramah guru bertanya, ”Ada yang bertanya?” Sayangnya, setelah ceramah banyak anak tidak mau bertanya. Simpulan guru yang menyatakan bahwa jika tidak ada yang bertanya berarti anak sudah paham bukanlah simpulan yang tepat.

Cobalah amati, apakah ketika menjelaskan, setiap anak mendengarkan? Apakah siswa paham dengan penjelasan guru?

Konsep pembelajaran bermakna diawali dengan niat menghadirkan pembelajaran yang dapat mengubah seseorang yang tidak tahu menjadi tahu. Tidak paham menjadi paham. Tidak bisa menjadi bisa. Tidak terampil menjadi terampil. Tidak disiplin menjadi disiplin.

Dalam pembelajaran bermakna, proses berpikir dan berperilaku menjadi bagian yang sangat penting. Dengan demikian, kompetensi anak tidak hanya dinilai di akhir pembelajaran, melainkan selama proses pembelajaran berlangsung. Artinya, guru harus menerapkan penilaian otentik.

Untuk mewujudkan pembelajaran bermakna, guru perlu merencanakan pembelajaran dengan mengaitkan kemampuan sebelum dan setelah pembelajaran. Informasi yang dipelajari secara bermakna memudahkan proses belajar berikutnya. Yang tidak kalah penting, siswa dapat menerapkan ilmu yang didapat untuk hidup sehari-hari. (*)

(ks/top/top/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia